Palembang, sumselupdate.com– Pasca abad 21, peranan soft power dalam diplomasi telah menjadi pilihan banyak negara. Konsep soft power yang dimaknai sebagai kemampuan untuk mencapai suatu hasil melalui pembentukan preferensi target, seperti atraksi, sejarah, serta nilai budaya, religi, demokrasi, dan pluralisme ini sejatinya banyak dijumpai di daerah. Jika aset soft power ini mampu dikemas dan dijual ke manca Negara dengan baik, maka hal ini akan meningkatkan kinerja diplomasi nasional.
Demikian disampaikan Duta Besar Teiseran Foun Cornelis saat memaparkan materi ‘Peran Soft Power dalam Diplomasi Indonesia’ pada Forum Bakohumas Tematik Kemenlu RI Tahun 2016 di Hotel Novotel, Palembang, Kamis (2/6).
“Sekarang teman-teman di daerah hendaknya mulai mendeskripsi aset-aset soft power dan mengemas semenarik mungkin untuk dipasarkan ke dunia internasional. Topik-topik seperti demokrasi, Islam moderat, kebudayaan, kuliner bahkan sumber daya alam di daerah itu memiliki pangsa pasar di dunia internasional,” jelas Cornelis, yang juga mantan Duta Besar Berkuasa Penuh RI untuk Republik Kuba ini.
Cornelis menambahkan, peran humas dinanti dalam hal promosi soft power di daerah. Meski demikian, dia mengingatkan bahwa agar diterima pangsa internasional, promosi yang dilakukan mesti memperhatikan keakuratan data, legalitas, mutu, dan selera pasar (taste of market).
“Saya mendengar Sumsel memiliki kompleks olahraga yang lengkap dan berstandar internasional di Jakabaring Sport City, juga banyak pembangunan infrastruktur, kuliner bahkan produksi karet Sumsel terbesar di Indonesia. Semua itu aset berharga yang dapat dikelola untuk kesejahteraan rakyat dan memiliki kontribusi yang positif bagi kinerja diplomasi nasional”, pungkasnya. (shn)











