Siapa Lafran Pane, Penerima Gelar Pahlawan Nasional Itu …

Pahlawan Nasional Prof. Drs. H. Lafran Pane

Jakarta, Sumselupdate.com – Presiden RI, Jokowi telah memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada empat tokoh di Istana Negara, Jakarta, Kamis (9/10/2017). Anugerah Pahlawan Nasional tersebut selain diberikan kepada almarhum TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, Laksamana Malahayati dan Sultan Mahmud Riayat Syah, juga diberikan kepada Prof. Drs. H. Lafran Pane.

Siapakah sosok Prof. Drs. H. Lafran Pane sehingga layak dianugerahi gelar Pahlawan Nasional?

Bacaan Lainnya

Lafran Pane lahir di Padang Sidempuan, 5 Februari 1922. Dia merupakan pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pada 5 Februari 1947, saat masih kuliah di Sekolah Tinggi Islam (kini Universitas Islam Indonesia/UII).

Pada awal kemerdekaan, Lafran Pane telah berjuang mendorong aktivis pemuda (mahasiswa) untuk mengisi kemerdekaan Indonesia yang saat itu masih berusia sangat muda, tanpa tersekat-sekat oleh aliran. Terlebih ketika HMI didirikan, mahasiswa dan pemuda Indonesia masih terlibat dalam pertarungan ideologis yang ketat sehingga dikhawatirkan mendorong konflik dan perpecahan bangsa. Melalui HMI, Lafran Pane berusaha merealisasikan cita-citanya mempertinggi derajat rakyat Indonesia dan mendorong praktik ajaran Islam dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Melalui HMI yang didirikannya, Lafran Pane dinilai telah berjasa besar dalam melahirkan kader-kader bangsa yang memiliki komitmen keumatan dan keindonesiaan dengan beragam latar belakang profesinya. Bahkan tidak dipungkiri, kader-kader tersebut sejauh ini telah turut berperan aktif dalam mewarnai perjalanan bangsa hingga dewasa ini.

Lafran pane juga dikenal sebagai sosok yang hidup dengan penuh kesederhanaan. ”Saya terkesima dan terkesan dengan sikap hidup Profesor Lafran yang sangat sederhana dan selalu merasa cukup. Beliau punya intelegensia yang tinggi sekaligus orang yang sangat teguh hati. Yang paling penting lagi beliau sangat terbuka untuk dikritik serta melakukan dialog,” kata mantan anggota DPR, sekaligus mantan Ketua Umum HMI Cabang Yogyakarta periode 1983-1984, Lukman Hakiem, seperti dilansir republika.co.id, Kamis (9/11/2017).

Menurut dia, kesederhanaan Lafran itu setidaknya terlihat jelas dalam sikapnya yang selalu memilih naik sepeda ke manapun perginya di Yogyakarta. Tak peduli menjadi guru besar di berbagai universitas terkemuka dan tak peduli merasa risi bersaingan dengan mahasiswanya yang saat itu sudah banyak naik sepeda motor, Lafran tetap ‘istiqamah’ memilih mengayuh sepeda onthelnya. Bahkan, ketika dia diisengi oleh para mahasiswanya dengan menggerakkan sepedanya di tiang bendera di depan kampus, dia pun menanggapinya dengan sikap biasa saja.

”Ya, itulah Pak Lafran. Bahkan, ketika para alumni merasa terenyuh ingin mengganti kursi sofa rumahnya yang sudah tua, dia tetap menolaknya. Sudah tak usah, sudah cukup. Itu yang selalu beliau katakan dan terkenang sampai sekarang,” ujar Lukman.

Tidak hanya itu, meski pendiri HMI, sikap Lafran terhadap organisasinya itu pun biasa saja. Dia tak pernah merasa sebagai orang ‘yang punya’ HMI. Dia juga bersikap santai meski sosoknya kerap tidak dikenali lagi oleh para kader mudanya. ”Sering kali setiap ada training Pak Lafran hadir untuk memberikan materi perkaderan. Dan, kerap beliau tak ada yang mengenalinya. Akibatnya, sangat lazim bila dia malah tak boleh masuk ruangan. Uniknya dia tak marah, malah duduk santai di belakang. Celakanya, karena selalu memakai baju safari, Pak Lafran kadang dianggap sebagai intel yang tengah memata-matai aktivitas HMI,” jelas Lukman.

Soal ketokohan di jajaran generasi intelektual muslim, cendekiawan Yudi Latif bahkan memberikan tempat khusus kepada Lafran Pane. Menurutnya, dalam buku Geneologi Intelegensia Muslim Indonesia Abad ke-20, Lafran Pane merupakan generasi ketiga intelegensia Muslim Indonesia, setelah generasi pertama (Tjokroaminoto, Agus Salim, dll), generasi kedua (M Natsir, M Roem, dan Kasman Singodimedjo pada 1950-an), generasi keempat (Nurcholish Majid, Imadudin Abdurrahim, dan Djohan Efendi pada 1970-an).

Lafran yang meninggal yang meninggal pada 25 Januari 1991 akibat sakit itu, memang sangat pantas untuk menjadi teladan bangsa. Karena itu pula, sangat pantas pula negara ini menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional atas konsep, gagasan dan jasa besarnya semasa hidup kepada bangsa dan negara Indonesia. (shn)

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.