Sektor Jasa Keuangan Tetap Stabil Hadapi Ketidakpastian Global

Writer: - Senin, 30 Oktober 2023
Otoritas Jasa Keuangan, punya keyakinan yang tinggi jika jasa keuangan Indonesia masih terjaga.

Jakarta, sumselupdate.com – Otoritas Jasa Keuangan, punya keyakinan yang tinggi jika jasa keuangan Indonesia masih terjaga dalam menghadapi ketidakpastian global.

Hal ini disampaikan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar. Bukan tanpa alasan hal itu disampaikan. Mahendra Siregar, menyebut, itu kareena terjaganya permodalan, likuiditas yang memadai dan profil risiko yang terjaga.

Read More

“Sektor jasa keuangan terjaga stabil dalam menghadapi ketidakpastian global. Hal itu ditunjukan oleh terjaganya permodalan yang kuat, kondisi likuiditas yang memadai dan profil risiko yang terjaga,” kata Mahendra saat konferensi pers Asesmen Sektor Jasa Keuangan, Senin (30/10/2023).

Masih kata Mahendra, ketidakpastian global, mulai dari kenaikan suku bunga global maupun dari peningkatan tensi geopolitik harus terus diwaspadai.

Diungkapkannya, jika pada Rapat Dewan Komisioner (RDK), 25 Oktober 2023, divergensi atau perbedaan kinerja ekonomi ekonomi global masih terus berlanjut.

Baca juga : OJK Selesaikan 109 Perkara Tindak Pidana Sektor Jasa Keuangan

“Di Amerika Serikat tercatat pada kuartal III 2023, pertumbuhan ekonomi tercatat meningkat 4,9 persen dibandingkan pada kuartal I 2,1 persen, dengan ditunjukan pasar tenaga kerja terus membaik, dan tekanan inflasi tetap ataupun tersistem tinggi. Hal ini mendorong meningkatkan aksi jual di pasar obligasi AS,” kata Mahendra. Sementara itu, dalam laporan OJK, risiko geopolitik global semakin meningkat seiring dengan konflik di Gaza, Palestina antara Israel dan Hamas yang berpotensi mengganggu perekonomian dunia.

“Di Eropa kondisi ekonomi mengalami stagflasi, sementara di Tiongkok pemulihan ekonomi masih belum memenuhi harapan. Hal ini meningkatkan kekhawatiran bagi pemulihan ekonomi global,” ucap Mahendra.

Baca juga : OJK Lanjutkan Komitmen Dukung Peningkatan Pendapatan Petani Sawit

“Kenaikan yield surat utang di AS telah meningkatkan tekanan outflow atau keluarnya modal dari pasar emerging market termasuk Indonesia, dan mendorong pelemahan di pasar nilai tukar mata uang dan pasar obligasi secara signifikan,” lanjut dia. Untuk diketahui, pada tingkat domestik, Indonesia tercatat inflasi sebesar 2,28 persen secara yoy, sejalan dengan ekspektasi pasar 2,2 persen. Namun, perlu dicermati, pada tren kenaikan inflasi bahan pangan, terutama komoditas beras dan gula mengalami penurunan produksi global akibat el nino. Kemudian, secara umum, daya beli masih tertekan, yang tercermin dari inflasi inti yang kembali turun, serta kinerja penjualan retail yang masih rendah. (**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts