SORAK sorai membahana di tepian Sungai Musi. Riak air bergetar, dayung terayun serempak, dan puluhan pasang mata tak berkedip mengikuti jalannya pacuan perahu bidar.
Di balik suasana meriah itu, ada rasa haru yang tak bisa disembunyikan dari wajah Muhamad Temu (34), warga Kecamatan Sukarami Palembang.
Ia masih mengingat jelas peristiwa tahun lalu. Saat perahu bidar yang didukungnya melaju kencang, tiba-tiba sebuah perahu getek penonton menabrak jalur pacu. Kekacauan pun tak terhindarkan.
“Waktu itu kecewa sekali. Rasanya seperti perjuangan para pendayung sia-sia,” kenangnya.
Namun tahun ini berbeda. Dengan wajah sumringah, Temu mengaku puas. “Alhamdulillah, tahun ini lancar. Tidak ada insiden, lintasan benar-benar steril. Saya apresiasi sekali,” ucapnya sambil ikut berteriak mendukung tim favoritnya.
Festival Bidar memang lebih dari sekadar lomba. Ia adalah denyut tradisi yang menyatukan warga Palembang, tua maupun muda.
Dari tepi Musi, para penonton bersorak lantang. Dari atas perahu getek, mereka menyaksikan lebih dekat, merasakan tegangnya setiap kayuhan yang berpacu menuju garis akhir sejauh 1.500 meter.
Tahun ini, penyelenggaraan terasa lebih istimewa. Bukan hanya pacuan bidar yang menegangkan, tetapi juga parade perahu hias yang memikat mata di sela babak perlombaan. Bagi Temu, kehadiran festival ini adalah pengingat akan pentingnya menjaga tradisi.
“Kalau bisa jangan hanya sekali setahun. Semoga ke depan penonton juga difasilitasi lebih nyaman,” harapnya.
Di balik meriahnya sorak penonton, ada kerja senyap ratusan petugas. Satgas gabungan TNI, Polri, BNPB Sumsel, Dinas Perhubungan, hingga KSOP Palembang terus berjaga, memastikan tak ada satu pun perahu penonton yang melintasi jalur lomba.
“Zona bidar harus bersih. Kami pastikan masyarakat tidak mendekati lintasan,” tegas Kabag Operasi Polrestabes Palembang, Kompol Musa Jedi Perdana.
Hasilnya nyata. Perlombaan berjalan cepat, tertib, dan aman. Pada babak final, perahu bidar milik Dinas Perhubungan Kota Palembang keluar sebagai juara pertama, disusul wakil Kabupaten Ogan Ilir yang membuntuti ketat di posisi kedua.
Festival Bidar di Sungai Musi bukan hanya pesta rakyat, tapi juga cermin kebersamaan. Di atas riak air yang terus mengalir, Palembang menjaga denyut tradisinya agar tetap hidup, setia diwariskan dari generasi ke generasi.
(**)










