Laporan: Diaz Erlangga
Palembang, Sumselupdate.com – Selain Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sumatera Selatan (Sumsel) yang menggelar unjuk rasa di Simpang Lima Gedung DPRD Provinsi Sumsel, massa aksi juga kembali bertambah.
Di mana mahasiswa yang tergabung dalam Pemuda Progresif Revolusioner (PPR) ikut hadir dan bergabung dengan membawa massa ratusan orang.
Hingga kini mahasiswa baik dari aliansi BEM Sumsel maupun PPR masih berada di lokasi demonstrasi dengan penjagaan ketat aparat kepolisian.
Wahidin selaku Koordinator Aksi dari PPR menyebutkan inti dalam demonstrasinya kali ini juga sama dengan yang dilakukan oleh Aliansi BEM Sumsel.
Di mana Wahidin menyebut Presiden RI Joko Widodo, mesti mengeluarkan pernyataan sikap secara tegas menolak rencana jabatan tiga periode serta menolak rencana penundaan Pemilu 2024.
“Katanya ada satu menteri yang memiliki seratus sepuluh juta database rakyat Indonesia untuk menunda Pemilu 2024,” ungkapnya.
Selain itu, Wahidin juga menyebut fenomena harga minyak goreng mulai dari kelangkaan hingga sikap pemerintah yang memberikan subsidi, namun kebijakan tersebut kembali dicabut.
“Saya pernah membaca bahwa Indonesia merupakan penyumbang terbesar minyak goreng dunia, namun kenapa bisa langka, pemerintah sempat memberikan subsidi, tapi minyak goreng langka setelah subsidi dicabut, stok minyak tiba tiba tersedia, itu kenapa bisa?,” tanya Wahidin.
Selain itu, harga BBM subsidi yang melambung tinggi juga dinilai Wahidin akan berdampak terhadap perekonomian rakyat kecil.
Salah satunya, menurut Wahidin, BBM jenis Pertamax yang awalnya harganya sekitar Rp9.000 per liter, namun mendekati bulan puasa harga BBM jenis Pertamax naik menjadi Rp12.750 per liter.
“Jadi belum selesai masalah ini, datang lagi masalah baru kapan Indonesia mau baik,” ungkapnya.
Sampai berita ini diturunkan, maksa aksi demontrasi masih menunggu untuk dibukakannya kawat berduri yang menghalang massa.
Di lokasi, sejumlah masa menarik kawat pembatas menuju ke gedung DPRD Sumsel, sehingga nyaris terjadi kericuhan.
Tarik menarik dengan petugas pun tak terelakkan. Namun, situasi mulai tenang ketika sejumlah mahasiswa menenangkan massa aksi (**)











