Palembang, Sumselupdate.com – Masyarakat harus siap-siap untuk mencari bahan bakar jenis Premium di tempat lain yang bukan di jalur yang akan dilalui para atlet. Larangan itu berlaku selama pelaksanaan Asian Games 2018 pada Agustus 2018 nanti, berlangsung di Palembang, yaitu dimulai dari Bandara Sultan Mahmud Badarudin II hingga ke kawasan Jakabring.
Hal tersebut akan diberlakukan selama Asian Games berlangsung mengacu kepada instruksi dari Kementrian Lingkungan Hidup (KLH), yang menyebutkan selama Asian Games pada Agustus mendatang, Pertamina wajib menjual BBM dengan oktan di atas 90. Adapun BBM yang oktannya sudah di atas 90 tersebut, diantaranya Dexlite dan Pertamax Turbo.
Dikonfirmasi mengenai hal itu, General Manager Pertamina Marketing Operation Region (MOR) II, Erwin Hiswanto, Selasa (27/3/2018) mengakui baru mendengar informasi tersebut dari media. Oleh karenanya, pihaknya akan segera berkoordiansi. Karena hingga saat ini, belum menerima petunjuk, baik dalam bentuk surat atau Juklak dari tim pusat maupun dari pihak KLH.
Menurutnya kalaupun itu diberlakukan itu hanya beberapa hari saja, dimulai dari awal hingga Asian Games berakhir. Nanti akan diberlakukan hanya di sepanjang jalur-jalur lalulintas yang akan dilalui para tamu dan official.
“Terus terang kami belum menerima juklaknya seperti apa, larangan penjualan teknisnya masih kami tunggu,” katanya.
Lebih lanjut ia menyampaikan, jika premium dilarang di sepanjang jalur Asian Games, artinya semua SPBU dari kawasan bandara hingga Jakabaring akan distop distribusi premium dan solar.
Namun SPBU di luar kawasan itu, tetap akan didistribusikan, seperti SPBU kawasan Plaju, Kertapati, Kenten atau wilayah perbatasan lainnya.
“Ya akan kita sesuaikan dengan anjuran KLH, di sepanjang jalur tersebut pihaknya hanya boleh menjual BBM berstandar Euro 4, dan ini hanya pada jenis Pertamax Turbo dan Pertamina Dex,” jelasnya.
Lebih lanjut ia menambahkan, untuk mememnuhi kebutuhan BBM sesuai yang dibutuhkan dengan standar Euro 4 pada saat Asian Games, pihaknya akan menyiagakan jenis Pertamax Turbo dan Dex dengan meningkatkan produksinya dari kondisi normal.
“Bisa saja, misalkan selama ini produksi hanya di kisaran 10 ribu kiloliter saja bisa kita tambah, artinya bisa saja kita naikan 10 kali lipat dari jumlah tersebut. Sejauh ini untuk kebutuhan konsumsi berada dikisaran 300 kiloliter. Ini kami lihat masih sangat kecil,“ pungkasnya. (adi)











