Pérspéktif Masyarakat Mengenai Sila Pertama dan Sila Kelima Pancasila

Nuril Auliya (Mahasiswi Semester I UIN Raden Fatah Palembang).

SEBAGAI warga negara yang baik, tentunya kita harus menunjukkan sikap dan perilaku yang baik dan cinta tanah air.

Tapi bagaimana sikap yang baik Itu? Sikap tersebut bisa kita terapkan dengan memahami pedoman, petunjuk, idiologi yang sudah ditetapkan untuk kehidupan berbangsa dan bernegara, yaitu dengan mencerminkan nilai-nilai dari dasar Negara Pancasila

Bacaan Lainnya

Mulai dari pendidikan dasar sampai dengan perguruan tinggi, kita sudah mempelajari apa itu Pancasila. Tak heran jika banyak yang sudah mengatahui bunyi dari kelima sila tersebut.

Akan tetapi, apakah masyarakat sudah memahami apa makna dari nilai-nilai yang terkandung dalam sila-sila Pancasila?

Dalam memenuhi tugas akhir semester saya pada mata kuliah Pancasila, dosen pengampuh Ibu Nurmalia Dewi, MPd, di sini saya akan membahas seperti apa perfektif atau pandangan masyarakat mengenai sila pertama

“Ketuhanan Yang Maha Esa dan sila kelima Pancasila. “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”.

Dari sepuluh narasumber yang saya temukan, 70% dari mereka mengatakan bahwa pada sila pertama terdapat nilai ‘toleransi antar umat beragama’.

Perfektif tersebut sesuai dengan bunyi sila pertama ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’. Toleransi beragama yang merupakan sikap saling menghormati dan menghargai agama lain, dengan tidak memaksakan kehendak orang lain atau setiap orang memiliki kebebasan untuk memilih kepercayaan masing-masing.

Mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang, Ahmad Syardi mengatakan bahwa ‘Indonesia merupakan negara yang ber-Tuhan’.

Dalam artian pada sila pertama ini terkandung nilai ketuhanan, di mana seluruh rakyat Indonesia itu harus memiliki kepercayaan terhadap agama.

Dari pertanyaan-pertanyaan mengenai sila pertama, menurut penulis pemahaman dan kesadaran masyarakat mengenai sila pertama sudah cukup baik, masyarakat sudah memahami, lantas apakah masyarakat sudah benar-benar menerapkannya di kehidupan sehari-hari?

Hal tersebut hanya bisa kita rasakan sendiri, dengan sikap orang-orang yang berada di sekitar kita. Tentunya Indonesia merupakan negara yang beraneka ragam baik suku, bahasa, agama maupun budayanya.

Tetapi, sebaiknya hal tersebut bukan menjadi masalah untuk menjadi bangsa yang bersatu, Karena itu kita memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Perbedaan adalah nyata. Setiap manusia dilahirkan dengan hak yang sama, tetapi dibedakan dengan keinginan masing-masing.

Sudah seharusnya kita saling menghargai perbedaan tersebut agar terciptanya kehidupan yang damai dan harmonis.

Selain itu, penulis juga menanyakan sejauh mana pemahaman masyarakat mengenai sila kelima Pancasila.

Dalam sila kelima, mengandung makna bahwa seluruh rakyat Indonesia berhak mendapatkan perlakuan yang adil, baik dalam bidang kebudayaan, agama, suku, hukum, politik, ekonomi, dan sebagainya.

“Keadilan sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”, Masyarakat masih banyak yang meragukan makna sila ini.

Eva, ibu rumah tangga ini berpendapat bahwa pemimpin saja masih banyak yang tidak berlaku adil dengan tidak memberi hak-hak rakyat secara merata.

Banyak pemimpin yang hanya mementingkan dirinya sendiri terlebih dahulu daripada kebutuhan rakyatnya.

Dari hal tersebut dapat disimpulkan, bahwa sila kelima belum bisa diterapkan dengan sebagaimana yang terkandung dalam makna Pancasila, masih banyak yang mementingkan rasa egoisme.

Maka untuk itu perlunya kesadaran pada diri masing-masing, Seluruh warga Negara harus berpastisipasi untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila agar terwujudnya tujuan bangsa Republik Indonesia berdasarkan pada UUD 1945 alenia ke- 4. (**)

Identitas Penulis:

Nama: Nuril Auliya

Tempat, Tanggal Lahir: Palembang, 15 September 2003

Status: Mahasiswi Semester I UIN Raden Fatah Palembang.

Hobbi: Menulis

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.