Pers dan Efek Berganda Industri Hulu Migas: Menebar Manfaat Merajut Harapan

Hamparan padi yang mulai menguning milik Joni Hendro atau yang akrab disapa Pak Een di Lingkungan Rejosari, Kelurahan Talang Ubi Utara, Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten PALI, Sumsel.

Pers, SKK Migas, dan KKKS sebuah hubungan simbiosis mutualisme. Efek berganda industri hulu migas suatu harapan baru masyarakat dalam merajut masa depan.

Laporan: Edwar Heryadi

Read More

SORE itu, Selasa (16/8/2022) sunset mulai samar-samar terlihat. Matahari sebentar lagi akan tenggelam di bawah garis cakrawala sebelah barat.

Warna sunset yang begitu indah sore itu, tampak menyatu dengan hamparan padi yang mulai menguning di areal persawahan milik Joni Hendro (50), warga Lingkungan Rejosari, Kelurahan Talang Ubi Utara, Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel).

Hamparan padi yang mulai menguning milik Joni Hendro atau yang akrab disapa Pak Een di Lingkungan Rejosari, Kelurahan Talang Ubi Utara, Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten PALI, Sumsel.

Pria yang akrab disapa masyarakat setempat Pak Een, merupakan satu dari sekian petani padi binaan Pertamina EP Field Pendopo yang ada di Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten PALI.

Sore itu Pak Een tengah bercengkrama dengan Rahmad Hidayat, seorang pendamping lapangan dari Pusat Pemberdayaan Masyarakat Pertamina (PPMP) yang dibentuk oleh Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi  atau SKK Migas melalui Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Pertamina EP Field Pendopo yang berada di Kabupaten PALI.

Gubuk sederhana yang terbuat dari papan beratapkan seng itu tampak menjadi tempat favorit Pak Een ketika bertanam padi. Selain tempatnya yang sejuk, juga dikelilingi padi yang kini sudah menguning.

Seolah menjadi pengobat untuk menghilangkan rasa penat dari aktivitas sehari-hari bagi siapa saja yang berkunjung di gubuk tersebut.

Suara bebek, suara sapi serta suara burung disertai kaleng pengusir burung hingga angin sepoi-sepoi mengawali perbincangan kami sore itu.

Pak Een, merupakan satu dari sekian banyak petani yang merasakan manfaat dari kehadiran Pertamina EP Field Pendopo.

Bukan bermaksud melebihkan, namun Pertamina Pendopo termasuk salah satu perusahaan yang ada di Kabupaten PALI, yang konsisten dalam menyalurkan program Corporate Social Responsibility (CSR) ke masyarakat.

Kehadiran Pertamina EP Field Pendopo bagi Pak Een terasa ketika dirinya diberikan ilmu baru terkait proses pengelolaan padi yang dinamakan Padi SRI.

Bapak dua orang anak itu mengungkapkan hasil panen dengan metode Padi SRI menjadi dua kali lipat dibandingkan dengan metode konvensional sebelumnya.

“Selain modal jauh lebih hemat. Karena biaya bibit dan biaya pupuk kimia yang selama ini diterapkan, itu semua dipangkas. Bahkan, yang tidak kalah penting, proses tanam padi lebih cepat karena usia padi yang ditanam sekitar tujuh hari,” ujar Pak Een.

Dari itulah, sambung Pak Een, terjadi peningkatan ekonomi keluarga sebagai dampak dari penggunaan metode Padi SRI yang diajarkan Pertamina EP Field Pendopo.

“Alhamdulillah Pak, selain hasil panen menjadi dua kali lipat, harga jual beras dari Padi SRI Organik juga lebih tinggi dibandingkan beras hasil panen yang tidak menggunakan metode Padi SRI. Jika sebelumnya kami hanya menjual beras ke warga Rp10.000 sampai Rp10.500 per kilogram, dengan metode Padi SRI Organik, harga jualnya menjadi Rp12.500 hingga Rp17.000 per kilogram,” ujar Pak Een dengan muka berbinar.

Tingginya harga jual beras dari hasil pengelolaan Padi SRI menurut Pak Een, disebabkan karena beras lebih sehat ketimbang beras dari hasil panen sebelumnya.

“Beras tidak mengandung bahan-bahan kimia, karena pada saat penanaman, tidak menggunakan pupuk kimia. Tidak ada pengawet dan pemutih, sehingga masyarakat sudah ada yang memesan terlebih dahulu sebelum panen. Kemudian, ekosistem sawah juga menjadi lebih sehat,” imbuhnya.

Ditambahkan Pak Een dirinya baru mulai menerapkan metode Padi SRI itu sejak tahun 2021, saat Pertamina EP Field Pendopo memulai program CSR ke arah pendampingan dan pemberdayaan petani di Lingkungan Rejosari, Kelurahan Talang Ubi Utara, Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten PALI.

“Pada saat Pertamina Pendopo menawarkan program pengelolaan padi dengan metode Padi SRI, saya langsung setuju. Karena, dari penjelasan yang disampaikan memang sudah tepat. Bahwa, kita menanam padi itu yang paling utama yaitu terjaganya ekosistem alam yang baik dan berkelanjutan,” ungkap Pak Een.

Memang untuk saat ini, diakui Pak Een, petani yang berada di seputar Lingkungan Rejosari, tidak semuanya menggunakan metode Padi SRI.

Untuk itu ia berharap, agar pendampingan dari Pertamina EP Field Pendopo terkait pengelolaan Padi SRI tetap berlanjut, agar bisa tetap meyakinkan petani lainnya untuk mengubah pola penanaman.

“Hasilnya sudah terlihat Pak, petani lebih sehat karena terjadi peningkatan ekonomi, berasnya juga lebih sehat dan tanah tempat bersawah juga lebih sehat. Untuk itu saya mengajak petani lainnya untuk ikut menggunakan metode Padi SRI,” harap Pak Een.

Di tempat yang sama, Rahmad Hidayat selaku pendamping lapangan dari PPMP menjelaskan awal mula penanaman padi dengan sebutan Padi SRI Organik yang dibina oleh Pertamina EP Field Pendopo.

Metode padi SRI yang diinisiasi oleh Pertamina EP Field Pendopo dijelaskan Rahmad dimulai sejak tahun 2019 di Kecamatan Jirak, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Sumsel.

Metode pengelolaan Padi SRI Organik kala itu dikenal dengan sebutan Pertanian Sehat Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PSRLB).

Bahkan Rahmad mengaku, banyak lahan kritis yang saat ini ditemukan karena pola penggunaan pupuk kimia. Akibatnya tanah kurang zat organik.

“Ada beberapa kelompok tani yang berada di Jirak yang kami lakukan pelatihan dengan istilah Sekolah Lapangan. Pelatihan hanya dua minggu,” kata Rahmad.

Dari pelatihan itu, Rahmad menjelaskan para petani diberi pengetahuan tentang siklus tanah, komposisi tanah yang baik, mengatur kadar air, hingga diajarkan untuk mencermati, dan mengamati perkembangan padi setiap minggu.

Bahkan, yang tidak kalah penting diajarkan juga terkait pengendalian hama terpadu dan serta mengenali musuh alami padi.

Sepintas, Rahmad menjelaskan pola metode Padi SRI Organik dimulai dari identifikasi lahan yang akan diolah. Hal itu berguna untuk kemudian memberi jumlah pupuk kompos ke lahan yang akan digarap.

“Kemudian seting lahan, membuat parit dan cetakan sawah. Selanjutnya tanam bibit muda usai 5-10 hari. Setelah itu disiangi, terus langkah selanjutnya mengatur kadar air serta dilanjutkan dengan pengamatan setiap minggu terhadap perkembangan padi dan perkembangan hama,” papar Rahmad.

Mengatasi hama lanjut Rahmad dengan menjaga kelembaban sawah.

“Kehadiran hama jangan dibunuh dengan menggunakan pupuk kimia. Melainkan lebih kepada penerapan membuat hama tidak betah dengan cara mengatur kelembaban sawah. Hadirnya hama juga tentu akan menjadi makanan dari musuh padi seperti serangga, burung dan lainnya,” jelasnya lagi.

Kemudian, kelompok tani yang diberikan pelatihan tadi langsung menerapkan pola itu dan hasilnya didapati menjadi dua kali lipat dari yang sebelumnya.

“Dari satu hektar biasanya dapat 3,5 ton beras, dengan menggunakan metode ini  menjadi 7,3 ton beras. Dengan hasil ini, maka kemudian diikuti oleh kelompok tani lainnya di Jirak. Baru kemudian pada tahun 2021, pola ini juga mulai dikenalkan pada petani yang ada di Kabupaten PALI,” ujarnya.

Rahmad menerangkan bahwa memperbaiki ekosistem menjadi paling utama dari pola ini.

“Banyak sekali manfaat yang didapatkan dari metode padi SRI. Tanah sehat, produknya sehat, petani sehat karena biaya modal dipangkas, serta yang lebih dahsyatnya lagi pola ini bisa mencegah pemanasan global dan efek rumah kaca. Karena, kalau biasanya ada proses pembakaran jerami usai panen, tapi dengan metode padi SRI, hal itu tidak dilakukan lagi, sebab bisa dimanfaatkan kembali,” terangnya lagi.

Terakhir Rahmad berpesan bahwa sawah atau lahan yang saat ini terhampar merupakan titipan dari anak cucu di masa mendatang.

“Oleh karenanya, sangat penting bagi kita untuk menjaga, merawat lahan agar berkelanjutan untuk anak cucu kita,” tutupnya.

Terpisah, Senior Manager Pertamina EP Field Pendopo, I Wayan Sumarta mengatakan, metode Padi SRI Organik yang diajarkan kepada dua kelompok tani binaan Pertamina Pendopo, bertujuan menghindari penggunaan pupuk kimia agar ekosistem lingkungan terjaga.

“Awalnya saya sendiri ragu, lantaran dari pembenihan saja saya nilai janggal. Lantaran pembenihan hanya menggunakan satu butir dalam satu lubang. Penyemaian benih hanya tujuh hari langsung tanam. Tapi ternyata hasilnya tidak kalah dengan metode pertanian konvensional. Artinya, dengan metode ini lebih hemat waktu, juga biaya karena tanpa menggunakan pupuk kimia serta waktu panen lebih singkat,” kata I Wayan.

Ditambahkannya, selain menghemat waktu dan biaya, hasil panen metode Padi SRI Organik juga lebih sehat karena tidak menggunakan produk kimia sama-sekali. Semua penunjang pertanian berupa pupuk dan desinfektannya berasal dari alam.

“Dengan penanaman benih satu butir per lubang dan ternyata pertumbuhannya cukup baik dan ini luar biasa karena pertumbuhan bisa lebih bagus dibanding pertanian konvensional. Ini sangat menghemat waktu dan biaya. Mudah-mudahan metode ini bisa menggerakkan para petani disekitar kita dengan biaya yang lebih murah menghasilkan hasil panen yang banyak dan tentunya lebih sehat,” tukasnya.

Harapan I Wayan juga metode Padi SRI Organik ini bisa diterapkan bukan hanya di kelompok tani binaan Pertamina Pendopo saja, melainkan bisa maju bersama-sama diterapkan pada petani lainnya yang ada di Kabupaten PALI agar bisa berswasembada pangan.

“Kedepan petani binaan Pertamina Pendopo akan mengembangkan tanaman herbal dan jamu tradisional, yang harapan kami dapat membawa kesejahteraan bagi kelompok tani binaan kami dan umunnya bagi petani di Kabupaten PALI,” harapnya.

Usaha menjahit milik Yulianti hasil bantuan pembinaan Medco E&P South Sumatra Region di Desa Bangun Sari, Kecamatan Gunung Megang, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumsel.

Efek berganda atas hadirnya industri hulu migas juga dirasakan masyarakat Desa Bangun Sari, Kecamatan Gunung Megang, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumsel.

Hadirnya Medco E&P South Sumatra Region membawa berkah bagi masyarakat setempat, salah satunya dirasakan Yulianti (33).

Sebelum hadirnya perusahaan pengeboran migas, ibu dua anak yang bersuamikan Ade Suparman, hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa.

Kesehariannya Yulianti hanya mengandalkan penghasilan suaminya sebagai petani karet.

Akan tetapi, sejak hadirnya Medco E&P South Sumatra Region, pihak perusahaan mendirikan Kelompok Sari Busana di Desa Bangun Sari pada 2017 lalu.

Hadirnya Kelompok Sari Busana, Yulianti dan ibu rumah tangga lainnya di desa tersebut, mendapatkan penghasilan dari usaha menjahit.

“Pernah ikut pelatihan menjahit dari Medco, ini berawal dari pelatihan yang diadakan oleh desa, namun banyaknya jumlah peserta dan waktu pelatihan yang hanya empat hari sehingga kelompok kami mengusulkan bantuan ke Medco. Akhirnya disetujui pelatihan menjahit tingkat dasar oleh Medco selama dua bulan hari kerja,” kata Yulianti.

Tak berhenti di situ, menurut Yulianti, usai mengikuti pelatihan menjahit tingkat dasar, dirinya kembali diajak Medco untuk ikut pelatihan tingkat terampil selama satu bulan dengan guru menjahit dari Kecamatan Gelumbang dan instruktur dari BLK Muara Enim.

Dengan mengikuti proses pelatihan, Yulianti berhak menerima sertifikat BNSP dari BLK baik untuk tingkat dasar maupun tingkat terampil.

Berbekal ilmu menjahit yang dipelajarinya, Yulianti mengaku perekonomian keluarganya meningkat. Di mana pendapatan jasa permak pakaian Rp500 ribu-Rp1 juta per bulan, dan jasa buat pakaian mencapai Rp4 juta per bulan.

“CSR Medco sangat membantu sekali, apalagi pihak perusahaan bertanggung jawab terhadap keberlangsungan kelompok menjahit ini sehingga keberadaan kelompok ini tetap ada (eksis). Dan saya bersyukur di saat harga karet dan sawit murah, perekonomian keluarga tak terganggu karena saya mempunyai penghasilan sendiri dari menjahit,” kata Yulianti.

Gustam dan usaha ternah madunya yang terletak di Dusun Banding Ayu, Desa Aurduri, Kecamatan Rambang Dangku, Kabupaten Muara Enim, Sumsel.

Terdongkraknya perekonomian keluarga juga dirasakan masyarakat yang tinggal di Dusun Banding Ayu, Desa Aurduri, Kecamatan Rambang Dangku, Kabupaten Muara Enim, Sumsel.

PT Medco E&P Lematang menyalurkan dana CSR berupa bantuan mengembangkan kelompok usaha ternak madu dengan nama Karya Maju Bersama paada akhir 2014 silam.

Jumlah anggota kelompok usaha ternak madu yang diketuai oleh Gustam (63) beranggotakan 10 kepala keluarga (KK).

Saat ini, kelompok usaha ternak madu ini sudah mempunyai 170 kotak madu, di mana dalam sekali panen satu kotaknya bisa menghasilkan dua kilogram madu dengan pemasaran hampir seluruh provinsi di Indonesia mulai dari Ciamis Jawa Barat dan provinsi lainnya.

Gustam mengatakan bantuan PT Medco E&P Lematang, tidak berupa uang, namun pembinaan, barang, dan pemasaran.

Untuk pembinaan, menurut Gustam PT Medco E&P Lematang mendatangkan dua dosen dari Kota Semarang untuk memberikan pelatihan kepada warga bagaimana berternak madu yang efesien dan menghasilkan.

Selain bantuan pembinaan, PT Medco E&P Lematang juga memberikan kotak madu, sumur bor, peralatan, dan bantuan lainnya.

“Alhamdulillah setelah adanya bantuan dari PT Medco ini penghasilan warga dari beternak madu ini meningkat dan bertani karet yang dulunya pendapatan utama menjadi pendapatan sampingan,” kata Gustam.

Sedikit berbeda bantuan yang disalurkan PT Sele Raya Belida (SRB) yang berada di Kecamatan Gelumbang, Kabupaten Muara Enim.

Perusahaan pengeboran migas ini menyalurkan bantuan bagi masyarakat Desa Melilian, Kecamatan Gelumbang dan Desa Lembak, Kecamatan Lembak, Kabupaten Muara Enim, Sumsel yang merupakan berada di wilayah ring 1 perusahaan.

Bantuan itu berupa peralatan masjid, musholla, uang untuk membeli peralatan sekolah bagi anak kurang beruntung, dan lainnya.

Karyawan PT Sele Raya Belida (SRB) saat menyerahkan bantuan kepada kaum lansia yang berada di Kecamatan Gelumbang, Kabupaten Muara Enim.

Salah satu dari penerima bantuan CSR PT SRB itu M Satria Saputra (11) dan Beli Asmi (11), warga Desa Melilian, Kecamatan Gelumbang, Kabupaten Muara Enim.

Kedua anak yatim yang ditinggal pergi bapaknya untuk selama-lamanya ini mengucapkan terima kasih kepada PT SRB yang telah membantu berupa uang, sehingga bisa membeli buku dan peralatan sekolah lainnya.

Kepala Desa Melilian Kecamatan Gelumbang, Ahmad Zubandri, SKom mengatakan, Desa Melilian termasuk ring 1 Sumur SAS-1X milik PT SRB.

“Saya mengucapkan terima kasih banyak kepada perusahaan yang telah membantu anak yatim sehingga mereka bisa membeli keperluan sekolah, seperti buku, pena, dan peralatan sekolah lainnya,” katanya.

Dikatakan Ahmad Zubandri, untuk baju dan sepatu anak kurang beruntung di wilayahnya, sudah dapat bantuan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Muara Enim.

“Yang dapat baju dan sepatu bukan hanya anak yatim saja, namun seluruh siswa tingkat SD dan SMP se-Kabupaten Muaraenim mendapatkannya,” jelasnya.

Kepala SDN 1 Lembak, Lisda Wati, SPd mengatakan jika sekolahnya beberapa hari lalu mendapat bantuan dari PT SRB sebesar Rp2,5 juta.

Bantuan PT SRB ini merupakan pengajuan proposal sekolah ke perusahaan untuk pembelian laptop.

Lantaran uang tersebut belum mencukupi membeli laptop, maka dana bantuan itu akan dibelanjakan perlengkapan untuk sekolah.

Humas dan Koordinator Security  PT SRB, Dani Yuliana didampingi rekannya A Rifa’i mengatakan, manajemen perusahaan akan selalu memberikan sumbangsih terhadap masyarakat khususnya yang berada di lingkungan kerja yakni lokasi Cantik-01 wilayah Desa Lembak dan lokasi SAS-1 Desa Tapus, Kecamatan Lembak dan Desa Melilian, Kecamatan Gelumbang merupakan kegiatan rig drilling atau pengeboran.

Pentingnya Sinergisitas

Tumbuhnya industri hulu migas tak hanya bisa meningkatkan pendapatan negara, namun roda perekonomian masyarakat di lingkungan kerja perusahaan, ikut berputar.

Corporate Social Responsibility (CSR) yang diatur ketat dalam regulasi melalui Pasal 74UU No 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas dan Pasal 15 huruf (b) UU No 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal, menjadi tanggung jawab besar bagi perusahaan dalam menggerakkan roda perekonomian masyarakat.

Kaitan dengan hal tersebut, sinergisitas pers, SKK Migas, dan KKKS begitu penting dalam menyampaikan informasi sejauh mana tanggung jawab sosial itu bisa terlaksana dengan baik dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Kepala Departemen Humas SKK Migas Sumbagsel, Andi Arie Pangeran mengatakan tak bisa dipungkiri jika kehadiran industri hulu migas memberikan dampak sangat positif bagi masyarakat.

Tak hanya lapangan kerja yang bisa terserap, akan tetapi infrastruktur jalan, tempat beribadah, sekolah, dan kegiatan sosial kemasyarakat akan berdampak positif dari efek berganda hadirnya industri hulu migas.

Namun langkah dan kinerja positif industri hulu migas dalam mengemban amanah meningkatkan pendapatan negara dan melaksanakan tanggung jawab sosialnya kepada masyarakat, tak berarti apapun jika informasi itu tak disampaikan secara luas oleh media massa.

Andi Arie Pangeran mengatakan bentuk kongkret dari sinergisitas pers, SKK Migas, dan KKKS, salah satunya dengan meningkatkan kualitas wartawan melalui Sharing Session, Uji Kompetensi Wartawan (UKW), dan kegiatan lainnya yang bisa mengasah kemampuan jurnalis.

“Kita ingin bertumbuh kembang bersama dengan industri media massa yang sehat dan kuat, karena itu kita berkesinambungan menggelar UKW setiap dua kali setahun demi peningkatan kualitas wartawan,” kata Andi Arie Pangeran.

Ketua PWI Sumsel H Firdaus Komar.

Senada dikemukakan Ketua PWI Sumsel H Firdaus Komar yang memandang pers penting melakukan sinergisitas kepada semua pihak, salah satunya dengan SKK Migas dan KKKS.

Menurut Firdaus, bentuk sinergisitas dengan SKK Migas dan KKKS tersebut dengan meningkatkan kualitas wartawan.

“Jika wartawan sudah kompeten maka akan melahirkan informasi yang valid dan jauh dari ketegori berita hoaks,” kata Firdaus.

Pengamat Kebijakan Publik dari Universitas Sriwijaya (Unsri) Dr Andreas Leonardo, SIP, MSi melihat sinergisitas pers, SKK Migas, dan KKKS dalam mendukung efek berganda industri hulu migas bagi masyarakat sangat penting dalam menunjang pembangunan suatu daerah.

Andreas menjabarkan, dalam pembangunan dalam suatu negara atau daerah memang harus ada sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan koorporasi (perusahaan).

Nah, di situlah peran SKK Migas dan KKKS untuk memberi kontribusi kepada negara dalam rangka menyumbang pendapatan asli daerah. Tentunya pers sebagai salah satu pilar dalam pembangunan harus ikut berperan.

Dikatakan Andreas, ada dua peran pers dalam membangun sinergisitas maupun mengawasi kinerja SKK Migas dan KKKS.

Peran pers yang pertama; pers sebagai media fatner perusahaan untuk memberikan pesan dan informasi seputar perusahaan baik dalam pengelolaan migas maupun dalam hal sektor-sektor lainnya, seperti penyaluran CSR atau kesempatan kerja bagi masyarakat.

“Artinya peran pers sebagai media fatner perusahaan, harus bisa memberikan informasi terbaik kepada masyarakat terhadap kehadiran perusahaan di lingkungan tersebut,” kata Andreas yang kesehariannya menjabat Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Unsri ini.

Andreas menambahkan peran pers yang kedua; sebagai public relations perusahaan untuk menjadi mediator kepada masyarakat dan menjaga branding atau image dari perusahaan itu sendiri.

Dengan dua peran pers ini, perusahaan dapat memiliki eksistensi yang positif di tengah masyarakat, sehingga bisa memberikan kontribusi sumbangan kepada pendapatan negara dan pada akhirnya bisa memberikan manfaat (efek berganda) kepada masyarakat melalui dana CSR, kesempatan kerja, dan jaminan kebutuhan minyak serta gas kepada masyarakat sekitar. (**)

 

Yuk bagikan berita ini...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.