Pengangguran Inggris Tembus 5,1 Persen, Dunia Usaha Kian Enggan Merekrut

Writer: - Kamis, 18 Desember 2025
Sebuah kapal pesiar melintas di bawah Jembatan London (London Bridge) saat matahari terbenam di London, Inggris, pada 2 Agustus 2025. (Xinhua/Wang Muhan)

London, Sumselupdate.com – Tingkat pengangguran di Inggris untuk penduduk berusia 16 tahun ke atas diperkirakan mencapai 5,1 persen pada periode Agustus–Oktober. Angka tersebut terus meningkat seiring melemahnya kondisi pasar tenaga kerja, berdasarkan data yang dirilis Kantor Statistik Nasional Inggris (Office for National Statistics/ONS), Selasa (16/12).

ONS mencatat tingkat pengangguran naik 0,4 poin persentase dibandingkan periode Mei–Juli. Kenaikan ini menunjukkan aktivitas perekrutan yang semakin lesu di tengah tekanan ekonomi yang masih berlangsung.

Read More

Di sisi lain, pertumbuhan tahunan rata-rata total pendapatan pekerja, termasuk bonus, tercatat sebesar 4,7 persen pada periode Agustus–Oktober. Namun, setelah disesuaikan dengan inflasi berdasarkan indeks harga konsumen (consumer price index/CPI) Inggris, pendapatan riil karyawan hanya meningkat 1 persen.

Jumlah pekerja yang menerima upah rutin (payrolled employee) juga mengalami penurunan. ONS mencatat penurunan sebesar 0,5 persen pada periode Oktober 2024 hingga Oktober 2025, serta turun 0,1 persen pada periode September hingga Oktober 2025.

Direktur Statistik Ekonomi ONS, Liz McKeown, mengatakan data tersebut menggambarkan pasar tenaga kerja yang terus melemah. Penurunan jumlah pekerja bergaji, menurutnya, mencerminkan minimnya aktivitas perekrutan, sementara perusahaan melaporkan semakin sedikitnya lapangan kerja yang tersedia pada periode terkini.

Sementara itu, Wakil Direktur Kebijakan Publik Kamar Dagang Inggris (British Chambers of Commerce/BCC), Jane Gratton, menilai dunia usaha masih kurang percaya diri untuk merekrut tenaga kerja baru. Hal ini dipicu oleh tingginya biaya ketenagakerjaan serta banyaknya regulasi ketenagakerjaan baru yang akan segera diberlakukan.

Gratton mengungkapkan, sekitar 72 persen pelaku usaha yang disurvei BCC menyebut biaya tenaga kerja sebagai tekanan biaya terbesar yang mereka hadapi. Ia menegaskan terdapat batas kemampuan perusahaan dalam menanggung beban biaya tambahan tanpa berdampak pada investasi dan pertumbuhan.

Oleh karena itu, Gratton mendorong adanya fokus kuat untuk menstimulasi pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan investasi, perdagangan, inovasi, dan pengembangan keterampilan, agar tahun 2026 dapat menjadi periode yang lebih positif bagi perekonomian Inggris.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts