Indralaya Utara, Sumselupdate.com – Keterbatasan ruang dan waktu tidak menyurutkan semangat siswa SMAN 1 Indralaya Utara untuk mendapatkan pengalaman praktikum fisika secara langsung.
Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Sriwijaya (Unsri), sebanyak 20 siswa diperkenalkan dengan laboratorium mini berbasis proyek yang memadukan pembelajaran fisika dengan teknologi.
Kegiatan yang berlangsung pada 1 September 2026 di SMAN 1 Indralaya Utara, Desa Tanjung Pering, Kecamatan Indralaya, tersebut mengangkat tema ‘Penguatan Keterampilan Proses Sains Siswa melalui Kegiatan Laboratorium Mini Berbasis Proyek di SMAN 1 Indralaya Utara, Desa Tanjung Pering, Kecamatan Indralaya’.
Program PkM ini diketuai Iful Amri, M.Si., bersama tim yang terdiri atas Dr. Ismet, M.Si., Apit Fathurohman, M.Si., Ph.D., Dr. Melly Ariska, M.Si., Ahmad Fitra Ritonga, M.Si., Nadya Anggraini, M.Si., serta mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika Universitas Sriwijaya.
Dalam kegiatan tersebut, laboratorium mini diperkenalkan dalam bentuk portable box kit yang mudah dipindahkan dan dapat digunakan di dalam maupun luar kelas.
Perangkat tersebut dilengkapi berbagai komponen eksperimen berupa mini proyek berbasis Arduino dan sensor.
Dengan perangkat yang ringkas, siswa tetap dapat melakukan kegiatan praktikum tanpa harus bergantung sepenuhnya pada laboratorium konvensional.
Kegiatan diawali dengan apersepsi dan pengenalan konsep dasar yang disampaikan Dr. Ismet, S.Pd., M.Si. Materi tersebut menjadi pengantar untuk menghubungkan konsep fisika yang telah dipelajari siswa dengan fenomena yang dapat diamati melalui eksperimen.
Selanjutnya, Iful Amri, S.Pd., M.Si., memperkenalkan perangkat laboratorium mini kepada para siswa, termasuk fungsi mikrokontroler Arduino, berbagai jenis sensor, serta perangkat lunak Arduino IDE yang digunakan untuk memprogram sistem.
Tak hanya melakukan eksperimen fisika, siswa juga mendapatkan pengalaman awal dalam pemrograman dan coding.
Dengan pendampingan tim PkM, siswa mengikuti tahapan pemrograman secara bertahap, mulai dari menuliskan dan memasukkan kode program, melakukan compile untuk memeriksa kode, hingga mengunggah program ke mikrokontroler Arduino.
Para siswa juga diberi kesempatan mencoba langsung setiap tahapan tersebut. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya berlangsung melalui penjelasan teori, tetapi juga melalui pengalaman praktik.
Suasana kegiatan berlangsung interaktif dan partisipatif. Siswa tampak aktif mengikuti penjelasan, mencoba perangkat dan komponen, melakukan pemrograman, hingga mengajukan pertanyaan ketika mengalami kendala dalam proses coding maupun penggunaan alat.
Pendampingan langsung dari tim PkM membantu siswa memahami tahapan praktik secara lebih terarah sekaligus mengenalkan pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran sains.
Penggunaan Arduino dan sensor juga memperlihatkan keterkaitan antara konsep fisika dengan perkembangan teknologi. Siswa dapat melihat bagaimana konsep yang dipelajari di kelas diterapkan dalam sebuah sistem sederhana.
Mereka juga diperkenalkan pada prinsip kerja sensor dalam membaca kondisi atau besaran tertentu. Data yang diperoleh kemudian dapat diproses oleh Arduino untuk menghasilkan respons sesuai dengan program yang dibuat.
Pendekatan berbasis proyek dalam laboratorium mini turut mendorong pengembangan keterampilan proses sains siswa. Di antaranya kemampuan mengamati, mengidentifikasi masalah, melakukan pengukuran, mengolah informasi, menganalisis hasil, hingga menarik kesimpulan.
Selain keterampilan proses sains, kegiatan tersebut juga memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, pemecahan masalah, kolaborasi, dan literasi digital.
Laboratorium mini berbasis proyek dinilai dapat menjadi salah satu alternatif pembelajaran bagi sekolah yang menghadapi keterbatasan sarana praktikum.
Perangkat yang portabel dan relatif sederhana memungkinkan kegiatan eksperimen dilakukan secara lebih fleksibel tanpa selalu bergantung pada laboratorium dengan fasilitas lengkap.
Melalui kegiatan tersebut, siswa SMAN 1 Indralaya Utara tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai fisika dan teknologi, tetapi juga pengalaman belajar melalui proses mencoba, mengamati, mengukur, memprogram, dan memecahkan masalah.
Integrasi sains, kegiatan laboratorium, pembelajaran berbasis proyek, dan pemrograman Arduino diharapkan dapat menciptakan pembelajaran fisika yang lebih aktif, kontekstual, dan bermakna.
Kegiatan PkM ini sekaligus menjadi bagian dari kontribusi Program Studi Pendidikan Fisika Universitas Sriwijaya dalam menghadirkan inovasi pembelajaran yang dapat diterapkan secara nyata di sekolah.
Melalui pengembangan laboratorium mini berbasis proyek, keterbatasan fasilitas diharapkan tidak menjadi penghalang bagi siswa untuk memperoleh pengalaman praktikum secara langsung.
Lebih jauh, kegiatan tersebut membuka peluang bagi siswa untuk mengenal penerapan sains, teknologi, dan pemrograman dalam menyelesaikan berbagai persoalan nyata di lingkungan sekitar.
(**)











