Teheran, Sumselupdate.com – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan Teheran siap memenuhi kewajibannya dalam nota kesepahaman (MoU) perdamaian dengan Amerika Serikat (AS), apabila Washington kembali menunjukkan komitmennya terhadap kesepakatan tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Pezeshkian saat bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) 2026 di Bishkek, Kirgizstan, Selasa (1/9).
Menurut pernyataan yang dirilis kantor kepresidenan Iran, Pezeshkian menegaskan bahwa AS tidak lagi dapat memaksakan tuntutan yang disebutnya ilegal terhadap Iran melalui penggunaan kekuatan.
Pezeshkian juga menyinggung konflik yang melibatkan Iran, AS dan Israel. Ia mengecam serangan yang menurutnya dilakukan AS dan Israel terhadap Iran serta menewaskan pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei, sejumlah komandan militer dan warga sipil.
Ia menilai tindakan tersebut tidak memiliki dasar hukum dan tidak dapat dibenarkan.
“Agresi semacam itu sama sekali tidak dapat dibenarkan,” kata Pezeshkian, sebagaimana dikutip Xinhua.
Pezeshkian turut menegaskan sikap Iran yang menolak unilateralisme serta kebijakan yang mengandalkan tekanan dan sanksi. Menurut dia, kerja sama regional dan multilateralisme perlu diperkuat untuk menghadapi berbagai persoalan di kawasan.
Dalam pertemuan tersebut, Pezeshkian juga menggambarkan hubungan Iran dan Rusia sebagai hubungan strategis yang berada pada tingkat sangat baik. Ia sekaligus menyampaikan apresiasi atas dukungan Moskow terhadap Teheran.
Sementara itu, Putin menyatakan keprihatinannya terhadap ketegangan yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah.
Presiden Rusia tersebut berharap perundingan antara Iran dan AS dapat menghasilkan perkembangan nyata. Putin juga kembali menegaskan komitmen Rusia untuk memperkuat hubungan dengan Iran di berbagai bidang.
Iran Bantah Klaim AS
Di tengah upaya diplomasi tersebut, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei membantah klaim Amerika Serikat terkait serangan terbaru terhadap Pulau Larak, Iran.
Baghaei menyebut tudingan bahwa serangan tersebut dilakukan karena pasukan Iran tengah mempersiapkan pemasangan ranjau di Selat Hormuz sebagai sebuah kebohongan.
Dalam konferensi pers mingguan pada Selasa (1/9), Baghaei juga menyinggung tudingan berulang Washington mengenai dugaan upaya Iran mengembangkan senjata nuklir.
Menurut dia, Washington kerap menggunakan tudingan tersebut untuk membenarkan tindakannya terhadap Iran.
“Selalu mengarang kebohongan untuk membenarkan kejahatannya,” ujar Baghaei.
Ketegangan Iran dan AS meningkat setelah Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Teheran serta sejumlah kota lain di Iran pada 28 Februari.
Iran kemudian merespons dengan meluncurkan serangkaian serangan rudal dan drone yang menyasar Israel, pangkalan serta aset militer AS di kawasan Timur Tengah.
Iran juga memperketat kendalinya terhadap Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran strategis dunia.
Sebelumnya, pada 18 Juni, Iran dan AS disebut menandatangani MoU untuk mengakhiri perang di kawasan tersebut. Berdasarkan kesepakatan itu, perundingan lanjutan dijadwalkan berlangsung selama 60 hari hingga 17 Agustus untuk mencapai kesepakatan final.
Namun, hingga kini masa depan perundingan tersebut masih belum jelas di tengah berlanjutnya ketegangan dan eskalasi di kawasan.
(**)











