Palembang, Sumselupdate.com – Kalangan pelajar dan mahasiswa lebih mudah diracuni paham-paham yang radikal dan sesat. Penyebabnya rendahnya pemahaman terhadap agama itu sendiri.
Kasubdit Keamanan Negara Polda Sumsel, AKBP Basani Sagala dalam seminar yang digagas Lembaga Independen Pemuda Peduli bangsa (LIPPB) di Hotel Swarna Dwipa, Kamis (4/2), mengatakan kurangnya pemahaman agama sangat berbahaya.
Menurut dia, rendahnya pemahaman agama itu turut serta memicu berkembangnya aliran radikal di Indonesia. Pemahaman intelektual, kata dia, sangat penting bagi pelajar dan mahasiswa, dengan melakukan penggalian pemahaman akidah serta pentingnya penanaman nilai Pancasila dalam kehidupan.
“Kenyataannya mereka yang ikut aliran itu kebanyakan pelajar SMA dan beberapa di antaranya mahasiswa. Tugas kita bersama untuk membawa mereka ke jalan yang benar,” tegas dia.
Senada dikatakan Ketua PW NU Provinsi Sumsel, Amri Siregar. Dia mengungkapkan, ajaran Islam sangat menentang kekerasan dan mengutamakan ajaran akhlak. Ajaran dan paham yang ada saat ini, seperti Gafatar, telah jauh dari ajaran Islam.
“Demikian juga dengan jihad, dalam Islam jihad itu tidak selamanya peperangan, tetapi dalam banyak hal umat muslim dapat berjihad. Seperti berdakwah, menuntut ilmu, dan berbakti pada orang tua juga termasuk jihad,” kata dia.
Sementara itu, Perwakilan Korem 0418 Gapo, Mayor Sapriyansah menambahkan, berkembangnya aliran paham radikalisme di Indonesia terjadi, akibat meningkatnya jumlah masyarakat dunia.
Dan saat ini ada upaya untuk mengurangi jumlah manusia, dengan cara membuat konflik lewat aksi terorisme dan paham radikal, terhadap masyarakat dunia ketiga.
“Ini yang perlu di waspadai. Dalam TNI terdapat tiga hal yang dikatakan radikal, yakni radikal agama, komunis, dan lainnya. Nah, yang lainnya iniadalah paham radikal seperti halnya Gafatar,” kata dia. (erk)











