PBB, Sumselupdate.com – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan keprihatinan mendalam atas meningkatnya aktivitas militer Israel di Lebanon yang terus berdampak terhadap warga sipil dan layanan kesehatan.
Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stephane Dujarric, mengatakan Pasukan Sementara PBB di Lebanon atau United Nations Interim Force in Lebanon terus memantau aktivitas militer ekstensif yang dilakukan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) di wilayah operasinya.
Menurut Dujarric, aktivitas tersebut meliputi pergerakan kendaraan lapis baja dalam jumlah besar, operasi rekayasa militer dan penghancuran skala luas, serta lalu lintas logistik yang terus berlangsung.
Selain itu, UNIFIL juga mencatat meningkatnya aktivitas udara Israel yang melibatkan pesawat tempur dan berbagai sistem pesawat nirawak.
Pada Kamis (11/6/2026), UNIFIL mendokumentasikan 72 pelanggaran wilayah udara Lebanon oleh IDF. Pada hari yang sama, delapan serangan udara Israel dilaporkan terjadi di area operasi UNIFIL.
“PBB tetap sangat prihatin atas dampak berkelanjutan dari pertempuran terhadap layanan kesehatan dan akses masyarakat ke layanan esensial di Lebanon,” ujar Dujarric.
Salah satu insiden yang menjadi perhatian terjadi di sekitar Rumah Sakit Hiram di Distrik Tyre, Lebanon Selatan.
Berdasarkan laporan otoritas setempat, serangan yang terjadi pada Kamis menyebabkan 10 staf rumah sakit mengalami luka-luka serta mengakibatkan kerusakan pada bangunan rumah sakit dan sejumlah kendaraan.
Insiden tersebut menjadi sedikitnya kejadian kelima yang berdampak pada Rumah Sakit Hiram sejak eskalasi konflik meningkat pada 2 Maret 2026.
Sementara itu, World Health Organization melaporkan bahwa sedikitnya 17 rumah sakit di seluruh Lebanon mengalami kerusakan selama periode konflik berlangsung.
Seluruh tiga rumah sakit yang berada di wilayah Tyre juga dilaporkan terdampak.
WHO mencatat sebanyak 135 tenaga kesehatan dan petugas tanggap darurat tewas akibat konflik tersebut, sementara hampir 400 lainnya mengalami luka-luka.
PBB kembali menyerukan perlindungan terhadap fasilitas kesehatan dan tenaga medis di tengah meningkatnya eskalasi konflik yang terus memperburuk kondisi kemanusiaan di Lebanon.
(**)











