OPINI: Esensi Sintren Sarat Makna Filosofis: Dari Kehangatan Sosial Sampai Intelektual

Ilustrasi Penari Sitren

Oleh: Nandhy Prasetyo

Menggali nilai-nilai seni sebagai bagian dari kebudayaan, rasanya absurd lagi ambigu tanpa menjangkarkan aspek-aspek manusia secara tepat. Supartono (2011) mendekati kebenaran aspek krusial dalam diri manusia melalui terminologi filsafat dengan membaginya ke dalam tiga aliran pemikiran, di antaranya1 : Aliran materilisme yang meyakini bahwa tubuh merupakan bagian yang sublime pada manusia, karena sesuatu disebut nyata bila dapat tertangkap oleh panca indra.

Read More

Sebagaimana Ludwig Feurbach (1804-1872) berasumsi bahwa manusia merupakan mahluk jasmani yang dinamis, sementara jiwa hanya gejala sampingan yang timbul dari kesan subjektif yang timbul akibat penghayatan pribadi atas eksistensinya2. Aliran spiritualitas yang mengusung Plato (427-347 SM) sebagai tokoh besarnya menggambarkan bahwa jiwa (psyce) lebih agung daripada tubuh. Kaum spiritualis menganggap jiwa telah hidup di alam “keabadian” sebelum terjerembab ke dalam tubuh, terikat serta jatuh ke dalam kehidupan duniawi yang fana3. Aliran dualisme menjembatani jurang terjal aliran materialisme dan spiritualisme, dengan berpedoman bahwa tubuh dan jiwa diproyeksi sebagai kesatuan yang terikat pada manusia. Rene Descartes (1569- 1650) salah satu tokoh aliran ini, secara eskklusif mengatakan jiwa merupakan substansi yang berpikir, sementara badan substansi yang berkeleluasaan.

Mendasarkan seni sebagai bagian dari kebudayaan secara niscaya menempatkan pandangan filosofis yang ketiga yakni aliran dualisme dan mengesampingkan aliran materialisme maupun spiritualisme dalam konteks tradisi filsafat Barat. Terminologi aliran dualisme pada wilayah kesenian dan kebudayaan, menurut hemat penulis mewakili dua aliran sebelumnya. Di mana nilai-nilai moral nan luhur, keragaman kultur nan menawan, keakraban sosial nan hangat, keeksotikan seni yang menggoda serta keheningan dan ketundukan spiritualitas dengan segenap ketaatannya bercumbu dalam lentera kehidupan yang ideal.

Menyematkan kata “Budaya” di suatu tempat/ masyarakat, dengan sendirinya menafikkan pengambilan jarak dari makna tradisi yang identik dengan nilai-nilai kearifan lokal. Pengakuan inhern dari masyarakat terkait dengan nilai yang diyakini secara kolektif, menjadi pengikat “kekitaan” sekaligus melegitimasi pencapaian identitas bersama. Pemahaman ini pada gilirannya menempatkan tradisi sebagai pilar, yang dengan sendirinya kemaslahatannya selalu dirindukan sebagai produk budaya yang adiluhung.

Dalam wilayah seperti inilah seni, menjadi bagian dari tradisi yang selalu berkait dengan karya-karya masa lalu yang melegasikan hasil peradaban manusia. Karenanya, menceraikan seni yang merupakan produk kebudayaan dari kehidupan manusia adalah suatu tindakan gegabah bahkan cenderung konyol. Meskipun dalam melacak keberadaan seni untuk memperoleh kefinalan, sama rumitnya dengan melacak keberadaan awal kehidupan manusia yang ditelusuri dari bentang jangkar historis. Keberadaan seni bagi manusia merupakan bagian integral yang tidak mungkin terisolir satu sama lain. Seni hadir dalam kehidupan untuk merefleksikan pemenuhan kebutuhan jasmani sekaligus rohani dalam diri manusia.

Bahkan dapat kita geser dan menganalogikan, seni sebagai neuron yang dikaruniakan sang Illahi melalui fenomena eksoteris pada diri setiap insan. Membenarkan hal itu, secara sempurna Hamdy Salad (2000) menuliskan kalimat yang dikemas dengan bahasa metafor nan cantik, sebagai berikut:

“Dalam tingkatan tertentu, seni dapat menjelma sebagai pengembara abadi dalam ruang metafisis, menjadi wakil budaya untuk mendampingi dan menuntun manusia menuju keindahan Illahiyah”.

Dari penjelasan sekilas itu, tidak berlebihan kiranya bila penulis secara radikal mengatakan tidak ada alasan bagi masyarakat dewasa ini, untuk menolak atau bersikap apriori terhadap kenyataan artistik maupun estetis dalam mengisi ruang-ruang realitasnya. Seni yang melekat dan mentradisi dimasyarakat, merupakan sebuah realitas yang perlu mendapatkan pengagungan sebagai suatu hasil karya yang bermartabat, karena tidak pernah ada di dalam sejarah, seberapapun mondialnya suatu peradaban manusia yang dapat terlepas dari praktik-praktik berkesenian. Sesederhana apapun nilai seninya, Ia tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat pendukungnya.

Di lain sisi, karakteristik natural seni yang senantiasa berdialektika dengan aspek-aspek kehidupan dan variabel sosial lain yang dapat dijadikan indikator keberasilan proses peradaban. Dengan demikian secara ringkas dapat dikatakan setiap tempat yang didiami manusia tidak pernah luput dari praktik kreatif, ekspresif, intuitif yang berbau estetis.

Sehingga menjadi keniscayaan, menghadirkan Falklor dalam terminologi Antropologi sebagai dasar rujukan dalam membahas seni-seni tradisi yang hidup di masyarakat. Alan Dundes secara esklusif menerangkan, Falklor sebagai salah satu cabang ilmu antropologi yang mempelajari seni tradisional di suatu masyarakat seperti: kesusastraan rakyat, tarian, mainan rakyat, seni pertunjukan, syair dan nyanyian rakyat. Seayun dengan itu Ibrahim Chalid mempertegas, dalam hampir semua isi dan kandungan falklor mengandung kebijakan, local wisdom serta kearifan yang memuat pandangan hidup, keluhuran budi yang dijalankan secara turun temurun dan mentradisi sehingga menjadi bagian yang melekat pada masyarakat.

Pemanfaatan Falklor yang secara inhern berkait dengan masyarakat dan seninya, dalam hemat penulis sekurangnya mengantongi tiga substansi krusial, di antaranya: a. proses penciptaan kesenian dapat dikatakan sebagai salah satu hasil interaksi sosial (parsial) minimalnya internal di dalam masyarakat, b. kesenian merupakan bentuk manifestasi dari pola pikir masyarakat yang dikemas secara simbolis yang memiliki unsure estetis, dan c. kesenian merupakan bentuk seni yang bersumber dan berakar serta dirasakan sebagai milik sendiri oleh masyarakat pendukungnya, sehingga kesenian tradisional merupakan identitas daerah.

Sintren merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan tradisional Indonesia yang berkembang di daerah pesisir pulau Jawa, seperti: Cirebon, Indramayu, Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan dan Batang. Diantara daerah yang menjadi tempat berkembangnya kesenian sintren, Brebes menjadi salah satu daerah yang masih melestarikan jenis kesenian tradisional ini. Sekurangnya ada dua sumber literasi ilmiah yang menuliskan bahwa eksistensi calung di kabupaten Brebes hidup dan berkembang di desa Pasarbatang dan desa Pagejugan. Dalam konteks historis: kedua desa tersebut hanya menjadi proportipe tempat tumbuh dan berkembangnya sintren di kabupaten Brebes, pasalnya masih banyak desa lain di Brebes yang turut melestarikan serta memiliki grup sintren.

Hipotesis dalam terminologi “sejarah sintren” dapat penulis utarakan dengan asumsi bahwa sintren adalah salah satu kesenian tradisional Brebes yang familiar di bawah tahun 1990. Bahkan eksistensi pertunjukan kesenian sintren sendiri masih penulis ingat dan nikmati di ahir tahun 1990-an. Maka dalam konteks ini, kalkulasi tahun serta eksistensi pertunjukan dapat dikatakan sebagai biang keladi pemisah antara kesenian sintren dengan masyarakat pemiliknya.

Secara harafiah kata sintren berakar dari dua suku kata “si” yang memiliki arti (dia) dan “tren” merupakan panggilan untuk sang putri. Ada yang berpendapat bahwa sintren berasal dari akar kata si dan tren, dengan memberikan penekanan pada kata tren yang berarti si-putri-an. Keragaman pendasaran etimologi sintren sah-sah saja selama tidak mengaburkan esensi pokoknya, yakni “siputri” yang merupakan pemeran utama dalam pertunjukan. Menurut Proyek Inventarisasi kebudayaan Daerah Jawa Tengah: Kesenian Tradisional (1991) menerangkan bahwa sintren adalah bentuk pertunjukan di mana seorang gadis suci menari-nari dalam keadaan tidak sadarkan diri mengikuti lantunan vokal dan gamelan.

Lain pada itu, bagi sebagian masyarakat pantura meyakini bahwa kesenian sintren bermula dari legenda percintaan Sulasih dan Raden Sulandono seorang putra bupati yang bernama Baurekso dan Rantamsari.

Percintaan Sulasih dan Sulandono tidak direstui ayahnya yaitu Baurekso, sehingga Sulandono diperintahkan oleh ibunya untuk bertapa dengan diberikan selembar sapu tangan sebagai media kelak bertemu dengan Sulasih. Sementara Sulasih sendiri diperintahkan oleh Rantamsari (Ibu Sulandono) untuk menjadi penari pada setiap acara bersih desa yang diadakan sebagai syarat untuk dapat bertemu kembali dengan Sulandono. Kendati tradisi lisan yang dipercayai warga masyarakat tidak mengantongi legalitas ilmiah, akan tetapi sarat akan nilai-nilai filosofis yang sepatutnya tidak diusangkan. Kesenian sintren dengan segala dinamikanya telah meninggalkan jejak sejarah bagi masyarakat Brebes, yang wajib kita jaga, lestarikan dan apresiasi secara luhur.

Petunjungan merupakan salah satu desa di Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes. Dalam arsip administrasi desa, tahun 2020 menerangkan bahwa Desa Petunjungan memiliki luas kurang lebih 387,000 Ha dengan jumlah penduduk sekitar 12.394 jiwa. Secara geografis letak desa petunjungan berbatasan langsung dengan beberapa desa di antaranya: Sebelah Utara (berbatasan dengan Desa Banjaratma), Sebelah Selatan (berbatasan dengan Desa Tegalglagah), Sebelah Timur (berbatasan dengan desa Dukuh Ringin) dan sebelah Barat (berbatasan dengan desa Rancawuluh).

Berdasarkan tataletaknya desa petunjukan berjarak kurang lebih 14,4 km dari kecamatan Bulakamba atau dapat ditempuh selama 30 menitan, sementara ke pusat Kabupaten berjarak 16 km atau dapat ditempuh sekitar 35 menitan. Desa yang hampir dihuni oleh sebagian masyarakat bermata pencaharian petani bawang merah, yang mayoritas beragama Islam ini, memiliki banyak ragam kesenian tradisional. Namun cukup disayangkan kekayaan budaya yang begitu luhur, kini hanya menjadi buah percakapan yang terdengar kian lirih. Kesenian Burokan, terbangan, genjring, bahkan sintren yang dahulu sempat eksis, dewasa ini hanya bernilai jejak sejarah misterius yang enggan terakses.

Sintren dahulu menjadi salah satu kesenian primadona warga masyarakat Desa Petunjungan, dalam mengisi waktu senggangnya. Pada umumnya pertunjukan sintren yang memang diadakan pada malam hari, menjadi media hiburan sekaligus rileksasi warga di tengah rutinitasnya bertani. Ibu Wajep (70) salah seorang pemain sintren dalam wawancara 7 Oktober 2021, menjelaskan:

“Sintren merupakan salah satu kesenian pertunjukan tradisional yang identik dengan nuansa mistik. Dalam perwujudan pertunjukannya yang sederhana, kesenian sintren menyiratkan kekhususan, nilai intelektual dan filososif”.

Terkait dengan keberadaan sintren sendiri, banyak sumber literasi menerangkan bahwa secara umum kesenian ini masuk di Kabupaten Brebes sekitar tahun 1930. Menurut pengakuan Ibu Wajep dalam wawancara, grup sintren yang pernah beliau ikuti di akhir tahun 1990 terdiri dari beberapa orang pemain di antaranya: pimpinan grup, sintren, sinden, bodor, pawing, dan pemusik. Peran Ibu Wajep sendiri dalam pementasan kesenian sintren pernah menjadi pemain sintren dan penyinden. Sintren selain mengacu pada nama kesenian juga merupakan penyebutan tokoh utama dalam pertunjukan. Syarat yang paling utama dalam penokohannya, sintren dimainkan oleh seorang gadis yang masih suci (perawan), belum akil baliq dan belum menikah.

Lain daripada itu, pada umumnya jalur keturunan yang memungkinkan seorang menjadi pemain sintren. Warga masyarakat meyakini, beberapa syarat di atas diwajibkan agar seorang sintren bisa ektase dalam menari karena dimasuki roh Dewi Lanjar, Dewi Rantamsari dan Dewi Sri. Dalam pertunjukan pemain sintren tidak dapat ekstase (tidak sadarkan diri) tanpa kehadiran pawang, karena perannya memanggil roh dewi-dewi untuk merasuki penari dan menyembuhkannya kembali.

Tugas lain dari pawang juga menyiapkan peralatan dari sintren seperti baju ganti sintren saat di kurungan dan sajen saat pertunjukan. Sama halnya dengan pemeran sintren, kemampuan pawang juga didapat dari jalur keturunan pendahulunya. Pengkhususan yang wajib dilakukan seorang pawang adalah menjalankan puasa sehari sebelum pertunjukan, agar acara berjalan dengan lancar. Sementara tokoh lain dari kesenian sintren adalah bodor yang nantinya dipasangkan dengan penari sintren. Untuk sinden dan pemusik memberikan iringan dalam pertunjukan, khususnya pada saat penari sintren dan bodhor menari.

Ibu Wajep dalam wawancara menjelaskan bahwa kesenian sintren merupakan salah satu jenis kesenian tradisional yang sarat akan muatan mistik. Pernyataan itu dapat kita lihat secara sekilas dari beberapa properti dan sesaji pada saat pertunjukan berlangsung. Adapun properti dan sesaji yang diperlukan dalam pertunjukan sintren di antaranya:

a. Kurungan, merupakan alat utama dalam pertunjukan sintren yang terbuat dari bambu, secara simbolis kurungan menjadi rumah bagi penari sintren, b. Kain penutup kurungan, merupakan kain yang digunakan untuk menutup kurungan pada saat pementasan. Secara umum warna kain penutup kurungan menggunakan warna-warna yang mencolok, selain memberikan muatan estetis, juga memberikan fokus yang memudahkan penonton pada saat pementasan, c. Layah dan Anglo, yang digunakan untuk membakar kemenyan dan dupa. Layah dan Anglo ini umumnya terbuat dari tanah, sebagai manifestasinya simbol menyatunya pertunjukan sintren dengan bumi. d. Dupa/ kemenyan merupakan bahan yang dibakar dan dipercaya menjadi media mendatangkan atau memanggil roh-roh, e. Arang, digunakan sebagai saran untuk membakar dupa, f. Sesaji, terdiri dari: pisang tujuh rupa (menyimbolkan jumlah hari), juadah pasar, arang-arang nambang (rengginang di atas air), sega liwet, telor ayam kampung, tumpeng alus (melambangkan kesucian), kembang telon, dan macam-macam jajanan tradisional. g. doa, merupakan mantra yang dibacakan oleh pawang pada saat pertunjukan untuk memanggil dan memulangkan roh yang dipercaya merasuki penari sintren.

Penuturan informan kepada penulis, menerangkan bahwa secara garis besar urutan pertunjukan sintren di Desa Petunjungan terdiri dari tiga bagian yakni, awal pertunjukan, inti pertunjukan dan penutup. Awal pertunjukan sendiri ditandai dengan mempersiapkan alat musik yang digunakan, menyiapkan beberapa sesaji dan membakar dupa/kemenyan. Untuk selanjutnya pawang melakukan ritual pembacaan doa dengan posisi tangan kanan memegang kepala penari sintren, sementara tangan kiri menyentuh pundak penari. Posisi penari sintren sendiri dengan duduk bersila, sambil membawa nampan yang berisi pakaian ganti di atas pahanya.

Penari Sintren sebelum ekstase (Dok. Amalia Mega H)

Beberapa menit kemudian penari menundukan kepalanya dan tidak sadarkan diri “ekstase”. Tugas pawang yang selanjutnya adalah memasukan penari kedalam kurungan, sambil mengucapkan mantra diikuti dengan membawa kemenyan mengelilingi kurungan lalu meletakan kemenyan persis didepan kurungan. Selang 15-20 menit penari berada dalam kurungan, pawang mengeluarkan penari sudah dalam keadaan ektase lengkap dengan costum dan perlengkapannya.

Penari Sintren setelah ekstase (Dok. Amalia Mega H)

Dengan mengikuti alunan sinden dan musik, penari sintren menari dengan gerakan-gerakan diluar kemauannya. Setelah terasa cukup dinikmati oleh penonton, sintren yang masih dalam keadaan ekstase duduk kembali dan berbisik meminta ganti lagu pada pesinden. Adegan itu menjadi penanda sintren masuk pada inti pertunjukan yang terdiri dari: Temoan (meminta sumbangan seikhlasnya), Nunggang jaran, Balangan (melempar suatu benda ketubuh penari), dan Mburu bodor. Setelah inti pertunjukan berahir, maka masuk pada bagian penutup. Pada saat pertunjukan sintren hampir berahir, sinden menyanyikan lagu kembang gelang sepatu dan Sayonara sebagai ahir pementasan. Rangkaian ahir pertunjukan juga ditandai dengan adegan pawang memasukan kembali penari sintren kedalam kurungan, diikuti dengan pembacaan beberapa mantra untuk mengembalikan roh dan menyembuhkan penari sintren.

Dari penuturan Ibu Wajep sebagai informan utama, diketahui bahwa seluruh rangkain pertunjukan sintren diiringi dengan beberapa tembang seperti: Turun sintren, Rame-rame pawari lais, Widadari temuruna, Manuk puter pada muni, Perkutut manjing kurungan, Kembang jahe laos, Kecampur kembang kemuning, Arep balik Age los, dan Mengko sore menea maning. Tembang-tembang yang dinyanyikan oleh sinden dalam pertunjukan sintren diiringi dengan beberapa instrumen tradisional seperti: kecrek, tuthukan, blampak/ kendang, saron, dan gong. Berdasarkan hasil penuturan dari informan di atas dapat disimpulkan bahwasanya kesenian sintren yang pernah hidup dan berkembang di desa Petunjungan, Kecamatan Bulakamba, kabupaten Brebes merupakan jenis seni tradisional yang sederhana, syarat akan nilai dan makna filosofis.

Terlepas dari asumsi beberapa pihak yang mensyirikan kesenian ini, pada kenyataanya eksistensi sintren memberikan banyak ruang positif. 1. Para pemain dan penonton kesenian sintren perwujudan manifestasi kerukuanan, kerjasama, toleransi, 2. Tradisi lisan, cerita yang melatar belakangi keberadaan sintren inheren nilai pendidikan, serta 3. Bentuk pertunjukan sintren: urutan, gerakan, syair/ lagu dan instrumen yang digunakan kaya akan makna filosofis, pandangan hidup serta keluhuran. (**)

Penulis : Nandhy Prasetyo
Yuk bagikan berita ini...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.