Opini: Dunia Dalam Genggaman, Jadi Primordialisme Masa Kini?

Ahmad Ferly

Oleh: Ahmad Ferly – Pemuda Kabupaten Lahat

Sejak terjadinya revolusi industri pertama 1.0 telah banyak membawa berbagai macam perubahan hingga ke revolusi industri 4.0 seperti yang kita rasakan saat ini. Kehidupan tanpa smartphone mungkin adalah hal yang tak mungkin dilakukan di era industri 4.0 seperti saat ini, dimana setiap kegiatan dimana pun dan kapan pun pasti menggunakan smartphone.

Read More

Keberadaan smartphone untuk mengakses suatu informasi sangat mudah dan tanpa batas, apa lagi di tengah pandemi covid-19 saat ini, teknologi digital seperti smartphone sangatlah penting bagi para siswa dan mahasiswa tentunya. Semua kegiatan belajar mengajar dilakukan secara online, tatap muka melalui layar smartphone.

Kecanggihan teknologi digital ini harusnya dapat dimanfaatkan dengan bijak sesuai dengan asas manfaat dan kegunaannya, jangan sampai kita sebagai user tidak dapat mengontrol apalagi menjadi primordial terhadap teknologi digital ini. Problematika yang sering terjadi masih banyak user-user belum dapat mengontrol dan menggunakan dengan bijak kecanggihan dari berbagai macam teknologi yang ada saat ini. Apa lagi di kalangan anak-anak usia belia.

Dahulu sebelum pesatnya perkembangan teknologi digital masih banyak anak-anak bahkan dewasa bermain dengan permainan budaya lokal maupun nasional. Seperti contoh permainan tradisional di Kabupaten Lahat yakni cak ingking, yeye, gerobak sodor, bedil-bedilan, dan permainan tradisional lainnya dari berbagai daerah semisalnya ABC lima dasar, lompat tali karet, kelereng, bermain mobil-mobilan dari bahan dasar kayu, petak umpet, congklak dan rumah-rumahan dengan atap daun pisang. Hal inilah yang membuat interaksi sosial antar sesama mereka terjalin dan menjadi kenangan tentunya.

Namun berbanding terbalik dengan kondisi digital saat ini. Ada beberapa contoh kasus anak-anak yang kecanduan game online seperti Free fire,Mobile Legends, dll. Mereka rela menghabiskan uang jajan bahkan berbohong ke orang tuanya untuk terus bermain game online.

Anak-anak yang terkadang masih belum bisa menggunakan secara cermat smartphonenya malah sudah dianggap biasa diera modern ini. Bahkan banyak anak-anak yang tidak tahu siapa presiden dan wakilnya, siapa pahlawan pendiri bangsanya, apa budaya yang ada di negaranya dan bahkan yang sangat disayangkan mereka lebih kenal dengan karakter game online mereka.

Saat ini nampaknya kita sudah terbiasa mendalamkan yang luar dan meluarkan yang dalam, tentunya sangat disayangkan jika budaya kita hilang apa lagi terhapuskan dengan perubahan teknologi digital yang semakin hari semakin maju seperti saat ini.

Penutup penulis ingin mengajak para pemuda, mahasiswa para penggerak budaya, para cerdik pandai mari kita sama-sama bangkitkan dan lestarikan lagi budaya-budaya kita yang saat ini sudah mulai terbiaskan dengan perubahan zaman, jangan sampai budaya asli kita hilang apa lagi terhapuskan dengan kecanggihan teknologi digital seperti yang kita rasakan saat ini.(**)

Yuk bagikan berita ini...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.