Minim Guru Besar,  UIN Kesulitan Akreditasi

Rabu, 10 Mei 2017
Rektor Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang Prof Dr Sirozi usai Pengukuhan dosennya yang bergelar Guru Besar.
Palembang,  Sumselupdate.com – Meskipun Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah baru saja menelurkan dua dosen Profesor atau guru besar Prof Dr Izmiddin, MA, serta Prof Dr Kasinyo Harto, MAg, namun diakui Rektor UIN, kuantitas SDM Profesor masih minim sehingga kesulitan menuju akreditasi. Apalagi,  program Strata tiga sudah berjalan cukup lama.
“Sepanjang berdirinya, kita memiliki 19 guru besar, namun yang aktif hanya 12 dosen. Ada beberapa dosen yang tugas di luar dan ada juga yang sudah meninggal,” ujar rektor UIN Raden Fatah Palembang, Prof Dr Sirozi usai pengukuhan guru besar di Gedung Akademik UIN,  Palembang, Rabu (10/5/12).
Jumlah guru besar yang ada di UIN Raden Fatah inipun dirasa sangat kurang jumlahnya. Menurut Sirozi, disetiap perguruan tinggi ini, setidaknya 40 persen guru besar dari total dosen yang mengajar.
“Dosen kita ini ada sekitar 300 orang, berarti semestinya kita memiliki 30-40 orang guru besar,” ungkapnya.
Untuk itulah Sirozi terus mendorong para doktor yang ada di UIN Raden Fatah untuk bekerja keras agar dapat memperjuangkan dirinya menjadi guru besar. Hal itu juga dilakukan, agar UIN Raden Fatah dapat mengembangkan lagi perguruan tingginya. Saat ini, setidaknya ada sekitar 75 dosen di UIN Raden Fatah yang telah memiliki gelar doktor.
“Seperti membuka program doktor S3, saat disertasi, pembimbing dan pengujian harus profesor‎, sehingga kami agak kesulitan. Untuk mencukupinya kita sering meminjam dosen yang sudah profesor ya dari Unsri (Universitas Sriwijaya), maupun Universitas lain, tapikan tidak bisa juga meminjam terus,” tegasnya.
Sirozi mengungkapkan, yang menjadi kendala sulitnya seorang doktor yang hendak menjadi profesor ialah dalam lima tahun terakhir adanya syarat baru.‎ Pasalnya disertasi yang dibuat oleh calon profesor ini harus merupakan jurnal internasional yang sudah memiliki reputasi.
“Padahal banyak juga jurnal-jurnal yang tidak terpublikasi secara internasional namun kualitasnya sangat baik. Untuk itu kami juga sudah mendesak dalam forum dosen, agar kemendikti merevisi persyaratan untuk menjadi guru besar tersebut. Mendapatkan gelar guru besar ini sulit, sesudah mendapatkannya juga sulit,” pungkasnya. (sbw) 

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts