Mengenal Lebih Dekat Paulo Freire, Tokoh Pendidikan yang Menguncangkan Dunia

Paulo Freire. IST

Oleh: Nandhy Prasetyo

Paulo Freire (1921-1997) tokoh pendidikan internasional dari Brazil, yang mampu mengguncangkan dunia pedagogik lama. Karyanya yang terkenal ‘Pedadogy of the oppressed (1970) pendidikan untuk kaum tertindas. Mampu menginspirasi sistem pendidikan dibanyak Negara hingga dewasa ini.

Read More

Gagasannya menjadi salah satu peletak dasar yang meneguhkan hak pendidikan bagi semua umat manusia.  Freire muda, kuliah di Universitas lokal Resive dengan menyelesaikan studi S1, S2 dan S3, dengan mempelajari bidang hukum, serta mempelajari ilmu lain seperti filsasat dan sosiologi.

Aktivitasnya dalam mendidik, sudah ia mulai dengan mengajar bahasa Portugis diawal-awal masa kuliahnya. Banyak sumber literasi menuliskan bahwa, salah satu jasa dari Freire di tengah keterasingan dari negaranya, Freire berhasil membebaskan buta huruf di Chili.

Berkat jasanya, Freire kemudian dijadikan menteri pendidikan dan namanya dijadikan menjadi nama sebuah Universitas.

Kepekaannya melihat fenomena sosial terkait dengan dunia pendidikan, Ia dengungkan melalui jargon ‘With hout a sense of identity there can be no real struggle’ tanpa adanya pemahaman terhadap siapa aku, siapa kita tidak mungkin muncul perjuangan sejati.

Lain pada itu, Ia meyakini ‘Education does not make us educable, it is our awareness of being unfinis hed that makes us educable’, pendidikan tidak membuat kita menjadi masyarakat terdidik, akan tetapi masyarakat terdidik adalah masyarakat yang sadar bahwa, dirinya belum mengerti apa-apa, belum pintar, serta belum paham (rasa belum mengetahui banyak hal ini lah yang menycirikan manusia terdidik/ sadar diri).

Selain merumuskan pendidikan, Freire juga memberikan kritikan terhadap dunia pendidikan pada masanya, praktis pendidikan hanya berorientasi untuk dapat pekerjaan. Proses pembelajaran di sekolah diarahkan dan dibentuk sadar struktur serta status (diarahkan harus melakukan apa dan dilarang melakukan apa, dalam arti kata penyeragaman proses).

Tujuan pendidikan pada masanya hanya berorientasi pada masyarakat (Barometer keberhasilan pendidikan diukur dari suatu keumuman yang berlangsung dimasyarakat, kendati bisa saja berarti mempertahankan statusquo).

Pada massanya banyak konsep pendidikan mempraktikan sistem pendidikan kolonial, yang menurutnya banyak menyimpan kerusakan.

Dalam perfektifnya sistem pendidikan kolonial memiliki cirri keidak adilan, di antaranya, sekolah kolonial biasanya merefleksikan kepentingan penjajah bukan negara yang dijajah, sehingga aspirasi daerah terjajah biasanya terabaikan.

Negara penjajah biasanya mengungkap nilai-nilai negaranya kepada daerah terjajah dengan menggambarkan dan menggaris bawahi bahwa negaranya memiliki kekuatan superior.

Dengan sendirinya pendidikan kolonial mengisolasi masyarakat terjajah dari budaya aslinya, atau dengan kata lain seseorang diasingkan dari budaya aslinya. Dampak bengis lainnya akibat dari sistem pendidikan colonial adalah membayang-bayangi masyarakat daerah terjajah dari kemandirian.

Keyword penting dalam karya fenomenalnya ‘Pedagogy of the oppressed’ sekurangnya mendistribusikan keadilan, di antaranya, memperjuangkan kesetaraan dalam pendidikan, merefleksikan kepekaan pada kaum tertindas (masyarakat tidak boleh berdiam diri/ bersikap netral), sistem pendidikan harus berbasis kultural (kontekstual/ membumi) dan pembebasan (bebas dari hierarki, dan tidak adanya strata).

Selanjutnya, hindari banking education, dan Conscientization. Freire meyakini hubungan sinambung antara sosial dan pendidikan, karena transformasi pendidikan tidak akan terjadi tanpa ada tranformasi sosial, tetapi transformasi sosial sangat membutuhkan pendidikan. Dari situlah pentingnya memelihara praktik-praktik pendidikan sebagai kecamba kepekaan kesadaran yang hakiki oleh masyarakat.

Dalam kontek ini, praksis pendidikan seyogyanya menjadi alat pembebasan. Transformasi praktik-praktik pendidikan yang ideal sudah semestinya dilandaskan pada beberapa aspek, seperti, bersandar pada nilai-nilai humanisme, pendidikan harusnya menjadi proses pengajaran dan pembebasan umat manusia dari ketertindasan, proses belajar hendaknya bersikan investigasi (yaitu proses melibatkan identifikasi permasalahan yang terjadi dimasyarakat), kurikulum yang linier/ kontekstual), serta pendidikan harus berprose secara dialogis (terjadinya interaksi dua arah).

Teori terpenting sekaligus kritik Paulo Freire yang kita kenal dewasa ini adalah  ‘Bank Education’. Freire melihat bahwa praktik pendidikan pada ahirnya menjadi sebuah kegiatan menabung, dimana para siswa berposisi penampung pengetahuan sementara guru menjadi si penabung (tidak adanya komunikasi/dialogis; hanya bersikap diterima, dihapal dan diulang) sehingga praktik pendidikan dapat dipahami sebatas pewarisan ilmu (pendidikan tidak berfokus pada pendewasaan pemikiran dan sikap kritis).

Proses pendidikan yang menerapkan gaya bank pada gilirannya akan membawa pendidikan sebagai proses  penghibahan dari mereka yang menganggap dirinya berpengetahuan. Freire mengidamkan pendidikan semestinya menjadi tempat untuk berproses, dimana murid memaksimalkan potensi dan mengenali dirinya sendiri.

Sebagai seorang intelektual, Fraire menawarkan beberapa solusi untuk menghindari bank education, di antaranya, pendidikan harus kontekstual/ sesuai dengan realitanya dimasyarakat, membangun kesadaran kritis pada murid.

Keduanya menjadi penting, sebagi refleksi apa yang seharusnya diajarkan dikelas, sehingga muncul kesadaran bahwa ada ketidak stabilan dalam hidupnya karena hidup selalu  juga menggambarkan suatu fenomena yang ada dalam realitas.

Dalam kacamata Freire kesadaran masyarakat akan suatu ketimpangan, pada gilirannya dapat membebaskan apa yang disebutnya ‘kebudayaan bisu’. Freire sendiri memaparkan beberapa cirri dari kebudayaan bisu diantaranya; (a) kaum tertindas biasanya bersikap pasrah pada kaum penindas/ status quo, (b) hal ini dapat terjadi karena adanya ketidak pahaman pada masyarakat, karena memang mereka bisu, dibisukan, dan bukan membisu. Kengerian yang dapat menimpa masyarakat, sebagaimana Ia jelaskan hanya dapat diatasi melalui pendidikan yang bebas dan memberdayakan, yaitu pendidikan yang menjadikan orang tertindas dapat mendengarkan yang senyatanya dari realita, sehingga pendidikan harus bersifat konstektual.

Selain memberikan penekanan tujuan pendidikan yang membebaskan guna mencapai kesadaran pada masyarakat. Freire meyakini bahwa pemahaman yang tumbuh di dalam suatu masyarakat tidak bersifat drastis akan tetapi berjalan secara gradual.

Oleh karenanya, a memberikan kategorisasi tahapan yang terjadi dimasyarakat dari tingkatan terendah sampai pada pencapaian kesadaran kritis.. Dalam literasi aslinya, Freire menuliskan: conscientization, consciousness raising dan critikal consciousness (kesadaran kritis), melalui tahapan, Pra Intransitif (masyarakat dalam frase ini masih memiliki frase paling dasar dengan ciri masih berfikir fisik dan material) dan kesadaran magis (masyarakat dalam frase kesadaran ini terjerat dalam magis inferioritas alamiah, dengan ciri tidak adanya perlawanan untuk mengubah yang terjadi, tetapi ikut menyesuaikan diri terhadap situasi itu, adanya fatalisme, yang membuat manusia membisu tanpa perlawanan pada penguasa, semua situasi ditentukan oleh takdir ilahiah.

Kesadaran naif (pada level ini masyarakat sudah mengetahui adanya ketimpangan, akan tetapi pengetahuan dan pemahaman dari yang tertindas belum memadai, tidak keberpihakan situasi dan kondisi, belum mampu bersikap mandiri dan selalu mengukur segala keberhasilan pada historisitas, pendominasinan emosi, banyak polemik dan perdebatan bukan pada level dialogis, selalu mmenyalahkan individu bukan pada sistem.

Kesadaran kritis, inilah kesadaran ideal menurut Freire (sadar adanya masalah, berusaha memperjuangkan dan mampu memecahkannya. Sudah memahi istilah sebab-akibat, pada frase ini proses memiliki dau aspek, (a) penegasan diri dan penolakan untuk jadi pelanggeng status quo yang bersifat penindasan, (b) berusaha penuh kesadaran terhadap empirisitas, dan menggunakan sistem dialogis.

Dari 4 frase yang dipaparkan diatas bagi Freire ada frase yang sangat membahayakan dalam perkembangan kemaslahatan kemanusiaan, yaitu frase kesadaran fanatik, fase ini terletak diantara fase naik dan fase kritis, dimana seseorang sudah memahami ketertindasan, akan tetapi tidak berusaha mencarikan solusinya, justru menggantinya dengan penindas lain yang dia kehendaki (masifikasi) dengan tujuan agar yang difanatiki mendapatkan posisi atas, sehingga memposisikan sitertindas hanya sebagai alat.

Menurutnya frase ini terlihat sepertinya revolusioner, padahal pada kenyataannya mereka mengendalikan dan memanipulasi revolusi demi kepentingannya. Di sini perlunya pendidikan, karena hanya pendidikanlah yang mampu mengubah manusia, dan manusia adalah subjek yang mengubah dunia.

Quote Friere dalam pendidikan, seorang pengajar bermutu adalah pengajar yang ikut belajar, begitu pula sebaliknya. Makna filsafat pendidikan Freire  ‘Education is love and love is forec pendidikan adalah cinta, sedangkan cinta merupakan keberanian, sehingga dalam pendidikan diperlukan keberanian.

Dengan keberanian mampu mengubah pendidikan melalui cinta, sehingga manusia mencintai dirinya sendiri, mencintai dunia, mencintai perubahan, serta mencintai dan menjujung tinggi keadilan. (**)

Yuk bagikan berita ini...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.