Palembang, Sumselupdate.com – Masjid Ar Rahmah yang berlokasi di kawasan Tanjung Barangan RT 04 RW 03, Kelurahan Bukit Baru, Kecamatan Ilir Barat I, Kota Palembang, menggelar peringatan Nuzul Quran pada Minggu (8/3/2026) malam.
Kegiatan diawali dengan pelaksanaan shalat tarawih yang dilanjutkan dengan shalat witir bersama para jamaah.
Setelah itu, rangkaian acara peringatan Nuzul Quran dibuka dengan pembacaan ayat suci Alquran oleh Zaki Abduh Wahab.
Ketua Masjid Ar Rahmah, Sukaria Dermawan, SE, MSi dalam sambutannya menyampaikan permohonan maaf apabila terdapat kekurangan dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.
Ia menjelaskan bahwa peringatan Nuzul Quran merupakan momentum penting bagi umat Islam untuk mengingat peristiwa turunnya wahyu Alquran kepada Nabi Muhammad SAW.
“Peringatan ini menjadi refleksi bagi kita semua, apakah Alquran sudah benar-benar menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Menurutnya, Alquran tidak hanya sekadar indah untuk didengar, tetapi juga harus diamalkan serta dijadikan tuntunan dalam menjalani kehidupan.
Sementara itu, dalam tausiyahnya, Ustaz Nabief Idris menyoroti fenomena berkurangnya jumlah jamaah di masjid ketika Ramadhan memasuki pertengahan bulan.
Ia mengatakan, pada malam-malam awal Ramadhan biasanya masjid, mushala, maupun surau dipenuhi jamaah hingga ke pelataran. Namun memasuki malam ke-11, jumlah jamaah umumnya mulai berkurang.
Menurutnya, kondisi tersebut merupakan ujian bagi umat Islam yang menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan.
“Ada dua ujian dalam ibadah, yaitu rasa malas dan jenuh. Jika seseorang mampu bertahan dari malam ke-11 hingga akhir Ramadhan, maka mereka termasuk orang-orang yang lulus dari ujian tersebut,” katanya.
Ustaz Nabief juga menjelaskan bahwa Nuzul Quran merupakan peristiwa besar dalam sejarah Islam, yaitu turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW saat beliau berkhalwat di Gua Hira yang berada di Jabal Nur.
Peristiwa tersebut sekaligus menjadi awal diangkatnya Nabi Muhammad SAW sebagai rasul.
Ia juga menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai nabi yang ummi atau tidak dapat membaca dan menulis.
Hal ini justru menjadi bukti bahwa Alquran benar-benar merupakan wahyu dari Allah SWT, bukan hasil menyalin dari kitab-kitab sebelumnya seperti Taurat, Zabur maupun Injil.
Karena itu, ia mengingatkan umat Islam agar mempelajari Alquran dengan sungguh-sungguh serta menjadikannya sebagai pedoman hidup.
“Belajar Alquran jangan malu. Bukan aib jika sudah berusia lanjut baru belajar membaca Alquran. Yang justru memalukan adalah jika sudah tua, bahkan sudah berkali-kali menunaikan umrah, tetapi tidak mau belajar membaca Alquran,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya mempelajari Alquran dengan bimbingan guru agar bacaan dan maknanya tidak keliru.
Selain itu, ia menyampaikan beberapa adab dalam membaca Alquran, di antaranya membaca dalam keadaan berwudhu, tidak membalik halaman mushaf dengan air liur, memegang mushaf dengan penuh penghormatan, serta membaca Alquran secara tertib.
(**)











