Mantik ‘Proses’ Dalam Kosmologi Whitehead Pada Kesenian Buroq di Desa Bojongsari Kecamatan Losari Kabupaten Brebes

Oleh: Nandhy Prasetyo

 

Bacaan Lainnya

Mempostulatkan badan dan roh sebagai bagian integral statis dalam hidup manusia, merupakan kegagalan yang niscaya. Negasi semacam itu tidak hanya memicu definitif kebenaran particular, yang pada akhirnya justru mengaburkan bagian paling esensial.  Kontemplasi yang mendesak bukan pada, mana yang lebih utama antara badan dan roh melainkan jawaban komprehensif yang mampu menjelaskan substansi “hakikat” atas pertanyaan mendasar terkait manusia…

Untuk tujuan apa manusia terlempar ke dunia material?…”

 Sehubungan dengan pertanyaan itu penulis mengingat pernyataan Soemardjo pada karyanya “Filsafat Seni”. Dengan bersandar pada hipotesis intelektual presiden Bosnia, Ia berusaha menerangkan kedudukan lembaga agama, lembaga filsafat, lembaga seni dan lembaga ilmu sebagai jalan memahami “hakikat” manusia. Secara eksklusif Soemardjo membagi dua alam dalam hidup setiap manusia, di antaranya: alam realistis yang terindra di satu sisi, dan alam lain (alam sana) disisi lain. Alam realistis yang terindra oleh manusia terefleksikan dari alam material dan alam biologis yang diperoleh melalui pengalaman hidup sehari-hari, sementara alam lain bersentuhan dengan alam spiritual dan alam roh melalui pengalaman transenden.

Dunia material proksimitas manusia yang terlewati dari awal kelahiran sampai pada kematian (dunia termporal), dapat dimengerti secara mendalam melalui lembaga ilmu. Oleh karena itu lembaga ilmu dan institusi teknologi difungsikan sebagai jembatan pemahaman manusia atas dunia material bersamaan dengan segala pemanfaatan kepentingan manusia di dalamnya. Disisi lain lembaga agama, filsafat dan seni bertanggung jawab atas persoalan yang bersifat spiritual, kendati secara emplisit memiliki kemampuan menjawab persoalan-persoalan bersifat duniawi.

Dalam artian yang lebih sederhana, lembaga agama, lembaga filsafat dan lembaga seni dapat dianalogikan dengan alam ketuhanan (kerohanian), alam ide, dan alam imajinasi. Singkatnya lembaga ilmu menyentuh pemahaman atas dunia realita yang terjangkau oleh pengindraan, sementara lembaga agama, filsafat dan seni memiliki value kebenaran sendiri yang berbeda dengan alam dunia. Tentu saja pendasaran perfektif ini tidak bisa diterapkan secara radikal, mengingat Soemardjo sendiri masih berkompromi atas lembaga agama, filsafat, maupun seni yang dapat menyentuh dunia material maupun dunia spiritual manusia.

Legitimasi pemaparan di atas terkait esensi manusia, baik melalui penjangkaran dunia material maupun spiritual, dengan demikian masih berpeluang untuk didiskusikan. Sejauh pencarian “hakikat” manusia lebih ditekankan pada nilai subjektifitas penafsir, entah dari mana titik berangkatnya (bisa melalui dunia material ataupun dunia spiritual) maka semakin lebar nilai final kebenarannya. Hanya satu esensi kebenaran yang tidak mungkin lagi diperdebatkan yakni hal yang diinsafi oleh nilai-nilai keyakinan. Ciri kebenaran pada taraf keyakinan ini sangat bersifat privat, oleh karenanya sangat-sangat subjektif lagi otonom. Disini penulis berusaha menunjukkan bahwa kebenaran “hakikat” bersifat relatif, bergantung pada siapa dan dari mana montasenya. Dengan demikian licinnya nilai suatu kebenaran bersifat aposteriori, tanpa final yang statis karena semua berubah di dalam kubangan proses yang dinamis.

Dengan ciri temporalnya paradigma lembaga ilmu khususnya, justru menunjukkan fakta bahwa deskripsi atas determinan sempit hanya mampu memberikan kebenaran parsial, yang tentu saja bersifat argumentasi subjektif. Sehingga kedalaman atas refleksi yang dijanjikannya hanya bertaraf metafora, pasalnya justru menampakkan secara jelas bagian pendangkalan-pendangkalan itu. Keluasan cakrawala yang diidamkan, pada gilirannya hanya membenamkan secara paksa pemahaman dibalik kubangan pengap tanpa arti. Penggalian pencarian “hakikat” atas dasar keketatan oleh karenanya semacam stagnan, karena justru berpotensi memperlebar jurang perbedaan antar disiplin, sehingga membenarkannya secara final sama artinya penguburan sedini mungkin atas luasnya kebingungan diri.

Dalam tradisi ilmu pengetahuan pembagian atas dua kelompok secara diametral antara; naturwissenschaften dan geisteswissenschaften hanya mengabstraksikan perasaan kenyang, pasalnya belum memberikan jawaban yang cukup mengenyangkan secara tuntas. Terkait dengan pembagian dua kelompok ilmu diatas, Windelband membagi naturwissenschaften (kelompok ilmu-ilmu alam, sebagai ilmu pengentahuan nomotesis) dan geisteswissenschaften (kelompok ilmu-ilmu alamiah, sebagai ilmu pengetahuan ideografis). Lebih lanjut Ia menerangkan naturwissenschaften pada gilirannya mengembangkan hukum-hukum umum yang kemudian kita kenal sebagai ilmu positivistic, sementara geisteswissenschaften mengembangkan ilmu normatif sebagai ilmu postpositifistik yang sekarang kita kenal ilmu social. Di dalam pembelahan kelompok ilmu sebagaimana yang telah diterangkan diatas, masih menyimpan perdebatan-perdebatan perbedaan kendati sampai dewasa ini peristilahan naturwissenschaften dan geisteswissenschaften tetap kita pakai.

Seperti halnya Milles dan Harbermas (1992) menolak dikotomi pengelompokan itu dengan alasan, tidak ada ilmu pengetahuan yang secara murni diperoleh dengan cara pembuktian demikian juga sebaliknya semata-mata merupakan resonansi subjektif (sebagai pemahaman). Oleh sebab itu, akan lebih tepat jika mengatakan pembagian dua kelompok ilmu seperti naturwissenschaften dan geisteswissenschaften, hanya berperan mensistematiskan pendekatan dalam mengurai “hakikat” manusia. Titik tekan pendekatan itu juga pada akhirnya memberikan definitive yang beragama, sekalipun menggunakan terminologi atau rumpun disiplin yang sama.

Dalam kaidah ilmu pengetahuan stigma atas pendasaran semacam itu, haruslah disikapi secara positif sebagai “membukanya lapangan baru” yang dari padanya sangat dibutuhkan  penyempurnaan lanjutan, sehingga dihasilkan pengetahuan baru yang mutakhir. Jadi kerja atas semangat pengembangan ilmu tetap menjadi aktifitas mulia, sekalipun tidak menyentuh “hakikat” secara final, tetapi lebih menekankan adanya alternative jalan baru untuk kemanusiaan. Hal ini mestinya dapat kita terapkan pada kedua kelompok rumpun ilmu pengetahuan secara berimbang, sehingga keduanya tidak dilihat sebagai oposisi biner karena memang substansi perbedaannya, terletak pada cara dan jalan tempuhnya. Membicarakan antara naturwissenschaften dan geisteswissenschaften, tidak sepenuhnya berorientasi pada hasil melainkan harus dilihat dari proses secara keseluruhan.

Upaya mendamaikan kedua kutub ilmu pengetahuan yang saling bertentangan, juga pernah dilakukan oleh Whithead. Pemikiran filosofisnya terkait dengan epistemologi terletak pada teorinya tentang persepsi “prehension” yakni upaya melampaui dikotomi antara subjek dan objek.  Menurutnya ketimpangan mendasar epistemologi sejak Descartes, berpusat pada wilayah kriteria kebenaran dalam klaim subjek yang mengetahui maupun objek yang diketahui. Dalam tradisi filsafat modern, kita tidak diasingkan dengan rivalitas dua aliran besar realisme dan idealisme. Dimana paham realisme menekankan, kriteria kebenaran pengetahuan pada kesesuaian antara pemikiran dan kenyataan diluar subjek. Sehingga otoritas pengujian tertinggi atas kebenaran, hanya bergantung pada objek pengetahuan yang dilihatnya sebagai kenyataan yang otonom, terlepas diri dari subjek.

Sementara dalam pandangan idealisme, otoritas tertinggi tentang suatu kebenaran terletak pada subjek dengan kepenuhan konsepsi-konsepsinya. Idealisme berpandangan bahwa segala sesuatu dapat diketahui, serta mendapat kepenuhannya jika ada subjek yang mengetahui. Whitehead menilai baik realisme maupun idealisme keduanya terjerembab pada jurang pemikiran yang ekstrem, karena mereduksi realitas subjek ataupun objek.  Baginya keduanya merupakan realitas yang perlu diakui keberadaanya, karena keduanya bersifat korelatif dimana masing-masing implicit, tidak berdiri sendiri lepas dari yang lain (saling mengikat).

Demi menguatkan argumennya itu, Ia membangun dua preposisi diantaranya: a. kritiknya atas sensasional yang menganggap bahwa pengamatan indrawi sebagai satu-satunya bentuk persepsi atas lingkungan. Baginya pencercapan paling mendasar sekalipun sudah merupakan bentuk abstraksi, oleh karenanya pencercapan lingkungan secara utuh oleh panca indra, hanya berpretensi pada sense (impresi-impresi indawi). Whitehead secara spesifik membagi persepsi kedalam tiga kelompok: 1. Persepsi berdasarkan panca indra, sehingga posisi objek secara langsung menampakan dirinya (presentational immediacy), 2. Persepsi didasarkan pada kausalitas objek yang menyatakan diri kepada subjek yang memprehensi (causal efficacy). Dalam konteks ini pendasaran melibatkan induksi sebagai dasar yang sah, memanfaatkan pengalaman massa lalu untuk menerangkan massa sekarang dan meramalkan massa depan.

Jenis persepsi yang kedua ini memiliki ciri, bahwa objek yang diinterpretasikan oleh subjek masih dalam keutuhannya sehingga belum terdiferensiasi secara jelas dan tegas. 3.persepsi (symbolic reference) yakni perpaduan antara presentational immediacy dan causal efficacy. Persepsi ini tidak hanya didasarkan pada pengamatan indrawi semata, tetapi juga melibatkan pengalaman historis objek maupun subjek. Persepsi dengan ciri yang demikian, berpotensi besar terkait dengan simbol lingustik yang kita pahami sekarang sehingga bersentuhan dengan warisan sosio budaya. Entrypoint dalam memahami persepsi ini, hendaklah diingat bahwa symbol linguistic terikat dalam ruang dan waktu, (dimana realitas yang sama) ditempat maupun waktu yang berbeda memungkinkan pemaknaan yang berbeda pula. b. dengan cukup cerdik Whitehead membedakan secara khusus antara kenyataan, pengetahuan dan pengalaman.

Baginya “kenyataan adalah apa saja yang bisa dialami” sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu sumber pengetahuan, sementara pengalaman selalu lebih luas dari pengetahuan. Pondasi inilah yang diajukan sebagai legesi penolakannya, dengan penuh kecurigaan menganggap bahwa filsafat modern telah menjadi condong sebelah akibat dominasi epistemologi. Pembelahan secara lugas idealisme dan realisme pada gilirannya mempersempit, “apa yang dianggap nyata adalah apa yang tertangkap jelas” baik melalui intuisi akal budi maupun pengamatan indrawi. Sementara apa yang tidak nampak secara jelas terlihat oleh akal budi  maupun indra dianggap absur, tidak objektif, dan peneguhan serampagan oleh subjek. Paham ini mendeterminasikan kenyataan yang samar-samar dan belum mewujud secara factual, dianggap tidak nyata, padahal kenyataan nilai, makna, serta tujuan hidup manusia eksplisit dengan persoalan-persoalan ini. Secara esklusif Whitehead menerangkan pencercapan dunia sekitar tidak melulu melalui panca indra, dengan orientasi ahir melampaui pencapaian pengetahuan. Seperti halnya pengalaman yang berkenaan dengan nilai estetis, moral, dan religious pada umumnya tidak terjangkau oleh pencercapan indrawi, oleh karenanya tidak bermotif pengetahuan. Whitehead menganalogikan sebagaimana pernyataan-pernyataan dalam kitab suci, tidak dinilai benar salahnya secara ilmiah, melainkan lebih berorientasi pada penguatan iman. Pada ahirnya pengingkaran Whitehead sendiri sebagai rasionalisme moderat, terlihat dari keberpihakannya dengan sikap antirasionalisme Pascal, yang berpangkal pada logika hati.

Alfred North Whitehead sebetulnya seorang ahli matematik kelahiran 15 Februari  1861 di Ramsgate, Kent, Inggris yang meninggal di Cambridge, Massachusettes Amerika Serikat  pada tanggal 30 Desember 1947. Seakan perceraiannya dengan objek-objek abadi yang terbebas dari factor subjektifitas yang tidak terikat dengan waktu, terjadi ketika salah seorang Putranya meninggal sebagai pahlawan perang Dunia I. Ditengah keterpurukan itu Istrinya merefleksikan kesadaran Whitehead, bahwa pengalaman hidup jauh lebih kaya dari sekedar rumusan-rumusan yang bersifat formal. Whitehead sendiri tercerahkan, sehingga sampai pada pemahaman bahwa kesadaran individualku hanya daratan ditengah hamparan lautan kesadaran universal. Terkait hal ini Sudarminta (1991), menuliskan pencapaian kesadaran Whitehead sendiri menyingkapkan integrasi akal dan budi, cipta dan rasa. Dorongan-dorongan inilah yang pada ahirnya mengarahkan Whitehead, mengalihkan konsentrasinya pada filsafat proses yang kemudian menamainya sebagai (filsafat kosmologi). Lain pada itu teori “prehesi”nya dirasa berhasil menjembatani kesulitan epistemologi mengenai “aku” bisa mengetahui objek, karena “aku” merupakan kesatuan actual yang bersifat dinamis dan tidak berdiri sendiri. “Aku”  adalah prodak sejarah yang sinambung dengan “aku” yang lain dimasa mendatang, sehingga setiap aktifitas (berfikir) mengenai “aku” dan diluar “aku” saling mempertalikan.

Titik kesadaran seperti yang telah diterangkan sebelumnya, secara aposteriori justru dilihat sebagai  puncak kematangan intelektualitas dari seorang Whitehead. Pasalnya cakrawala mode berfikir Whitehead, tidak serta merta merupakan pengingkaran atas bidang matematika yang telah lama digelutinya. Terkait hal ini Schilp, A.P (1951) menjelaskan basic rasionalisme Whitehead menuntunnya pengembangan filsafat berdasarkan logika, filsafat saint dan ahirnya metafisika. Fakta ini dapat kita lihat pertama-tama (sebagaimana penjelasan diatas) upaya Whitehead, melampaui realisme dan idealisme. Dengan mengikatkan diri pada proses sebagai sentral, maka hampir disemua rumusan filosofisnya dikiblatkan atas dasar yang sama, termasuk pada saat Whitehead membicarakan manusia, seni dan keindahan. Manusia bagi Whitehead tercermin dalam teori prehesinya yakni satuan actual yang dinamis, dimana dalam arti tertentu merupakan bagian dari alam. Bagi penulis pribadi pendefinisan Whitehead atas manusia cukup berasalan, sekurangnya ada dua premis yang mendasarinya: 1. Teori prehesi dapat dianalisa sebagai upaya Whitehead berusaha menghindari dualism antara jiwa dan badan, disatu sisi. Bipolaritas (sifat mental dan fisik) menjadi dorongan proses satuan actual yakni pertumbuhan dan perkembangan, karena keduanya tidak dapat dinegesikan secara tegas serta saling menyokong. Seperti halnya paham kaum eksistensialisme, Whitehead melihat esensi yang membedakan manusia dengan mahluk lain terletak pada sisi kedinamisan perkembangannya. Sifat mental dan kreatifitas manusia menjelma dengan adanya kemampuan intelektualitas dan kesadaran, sehingga dinamika dalam bentuk keterbukaan alternatif-alternastif  baru menjadi bagian paling esensial dari  kebebasannya. Manusia sebagai mahluk yang dinamis, haruslah sungguh-sungguh hidup dan menghidupi dirinya secara terus menerus secara aktif membentuk dirinya dalam rangkaian proses. Dalam bahasa Tilaar (2012), manusia selalu berada pada posisi partisipan yang terus menerus didalam proses menjadi. Dengan mengedepankan wisdem Whitehead agaknya sangat berhati-hati, untuk lebih mengambil jarak relativitas dari pada pembelaannya akan jiwa (perkembangan) dilain sisi, serta badan (pertumbuhan) disisi yang lain.

Hal ini eksplisit dengan sumbangan epistemologinya, terkait dengan ketidak mampuan indrawi menerangkan pengalaman yang berkenaan dengan nilai estetis, moral, dan religious.  2. Whitehead melihat manusia menjadi bagian dari alam, tercermin dari aspek hidup kerohanian yang memunculkan (proses) perkembangan unsure nilai, makna, dan novelty (buah dari kebebasannya) sama sekali diesklusifkan dari alam. Pandangan yang menganggap adanya alam untuk manusia, pada gilirannya mendorong sikap keserakahan manusia yang secara bebas menggali, menguras, dan memanfaatkannya untuk kepentingannya, sama sekali bertentangan dengan prinsip proses dalam filsafatnya. Secara singkat pandangan dualistic memisahkan manusia dengan alam, akan berpotensi besar menjadikan ekploitasi brutal manusia terhadap alam. Terkait hal itu dengan semangat penuh optimisme, Whitehead mencetuskan gagasan “pansubjektivisme”, yang secara image mengkategorikan subjek tidak melulu pada manusia, melainkan juga pada satuan-satuan actual infrahuman.

Kekhasan pemikirannya yang dilandasi bayangan rasionalisme, dibanyak kesempatan memang mampu melihat celah yang hampir tidak terjamah dari jangkauan pemikir lainnya. Pengagungan akan “pengalaman” sebagai hasil rumusan epistemologinya, dijadikan rujukan pendasaran terkait pansubjektivisme, dimana menurutnya unsure identik yang menghubungan pengalaman dengan ilmu fisika merupakan unsure subjek. Pada diri manusia munculnya value subjek mengejawantahkan proses secara intrinsic, dimana manusia memiliki kemampuan mengolah warisan masa lalu dengan unsure-unsur kebaruan yang ada disekitar dirinya. Terkait dengan tema  “proses” yang digaungkan dalam filsafatnya, Whitehead merumuskan eksistensi manusia terletak pada bagaimana dia aktif, kreatif, dan inovatif memanfaatkan warisan masa lalu guna mewujudkan suatu kebaruan yang bermanfaat sekaligus subtantif didalam kehidupannya. Dengan tidak memihak Ia mengungkapkan pentingnya intensitas pengalaman, karena dari padanya mengandaikan suatu seleksi otonom berkaitan dengan kualitas, sementara tanpa adanya ekstensitas pengalaman menjadikan triviality pengalaman. Dalam tataran yang lebih luas inilah, Whitehead mencoba mendasarkan pegalaman-pengalaman manusia dalam menajalani kehidupannya.

Kedinamisan sebagai tema sentral yang mengejawantahkan filsafat “proses” tidak hanya disematkan dalam basic epistemology maupun manusia, melainkan juga menyentuh pengalaman estetis. Berbeda dari definisi pengalaman hidup sehari-hari, pengalaman estetis menurutnya lebih mengedepankan intensitas kedalam pengalaman, sehingga mengandaikan kualitas dari seni itu sendiri. Karya seni bukanlah suatu prodak industry, sehingga tidak mungkin dikerdilkan begitu saja oleh pesanan maupun permintaan pasar. Nilai karya seni sangat ditentukan oleh kemampuannya yang padat, sehingga menyuguhkan kedalam  suatu pengalaman keindahan yang memiliki nilai abadi. Karya seni berbobot memiliki kemampuan merefleksikan kesadaran akan insting-insting kemanusia, yang seringnya tenggelam oleh timbunan sampah kehidupan sehari-hari. Whitehead sendiri menyadari bahwa pengalaman estetis terkait dengan kedalaman dan intensitas pengalaman, terhimpun dari adanya contras (yakni keterpaduan antar unsure).  Baik pada pengalaman secara umum ataupun pengalaman estetis, Ia medorong pentingnya kreativitas dan inovasi. Sikap kreatifitas pada gilirannya menyokong pemberdayaan atas kemampuan untuk memunculkan hal-hal baru dari bahan yang sudah ada sebelumnya. Berdiam diri dan apatis dengan menerima serta melanjutkan begitu saja, tradisi mondial yang telah diwariskan oleh leluhur berarti suatu keajegan dan dekadensi.  Mengenai hal ini Sudarminta (1991) menerangkan, semangat berpetualang erat kaitannya dengan kebebasan manusia untuk secara kreatif menemukan alternative-alternatif perwujudan baru yang khas dari warisan masa lalunya. Di dalam seni sendiri Whitehead mementingkan Intellectual feelings, yakni aktifitas penyerapan dan penggarapa ulang seni-seni masa lalu, dan menjadikannya sebagai identitas yang berorientasi pada wujud kebaruannya. Menurutnya tradisi perlu diappropriasikan seraya direscovery, karena perkembangan kehidupan sekurangnya melegesikan tiga esensi diantarnya: a. adanya norma yang dipakai dan dipahami secara bersama-sama, b. mejaga stabilitas sebagai identitas, dan c. adanya upaya transformasi.

Dari latar “proses” sebagai pondasi pemikiran filsafat kosmologi Alfred North Whitehead, sekarang kita korelasikan buah intelektualitasnya secara praktis terkait kesenian tradisional “Burok” yang hidup dan berkembang di Brebes.  Burok merupakan salah satu seni pertunjukan arakan, yang peran serta fungsi penampilannya selalu diidentikan dengan upacara khitanan. Secara historis beberapa sumber literer menerangkan, bahwa kesenian burok berasal dari Cirebon, dan kemudian berkembangan hampir dibeberapa daerah pantura. Terkait hal ini Kurnia dalam Muthia Aliya (2021) mengatakan bahwa seni burok tidak hanya ada di Kabupaten Cirebon saja, tetapi sudah tersebar dikawasan Ciledug, Majalengka, Kuningan, Indramayu, bahkan sampai ke Jawa Tengah yakni Kabupaten seperti Banjarharjo dan Karang Suwung. Sementara Juliardi (2013) menuliskan kesenian burok diperkenalkan pertama kali oleh para seniman  Badawang dari Cirebon tahun 1934. Lebih lanjut, Ia menerangkan pada gilirannya kesenian burok berkembang dan menjadi bagian tak terpisahkan dengan kehidupan masyarakat Pantura (Jawa Tengah) khususnya Brebes.  Dengan melihat letak teritorialnya yang memang berbatasan langsung dengan daerah Cirebon, membuka banyak kemungkinan kesenian burok hidup dan berkembang pesat di daerah Brebes. Sebagai catatan observasi Joko Iryanto (2008) menerangkan, di Kecamatan Tanjung Kabupaten Brebes sendiri sekurangnya ada 6 grup kesenian burok yang eksis dengan berbagai ciri dan kekhasaanya tersendiri. Sementara itu Rieza (2013) secara spesifik menuliskan Grup Nada Buana merupakan grup kesenian burok yang ada di daerah Banjarlor, Kecamatan Bajarharjo, kabupaten Brebes. Dari dua pernyataan itu, sedikit banyak melegesikan bahwa, eksistensi kesenian burok yang mungkin hidup dan berkembang di daerah Brebes cukup banyak.

Burok merupakan kesenian hasil akulturasi budaya, Islam, China, Sunda dan Jawa yang teraktualisasikan di dalam beberapa unsur pertunjukannya. Kata “burok” sendiri dalam pandangan masyarakat umum cenderung liar, 1. ada yang menunjuk tunggal sebuah (burok) yakni bandawang  yang berbentuk kuda bersayap dengan kepala wanita cantik, sementara 2. ada yang mengartikan sebagai keseluruhan seni pertunjukan. Dalam pengertian kedua burok, stigma pengaruh pada tiap-tiap budaya itu secara sederhana dapat dijumpai dari instrument music, lagu iringan, gerak tarian, dialektika pemain, bahkan pada nilai dan makna yang terkandung secara ekplisit. Sementara pada pengertian yang pertama burok, merupakan hasil akulturasi budaya  dapat ditunjukan secara spesifik dari perwujudan bentuk bandawangnya. Visualisasi hasil akulturasi budaya Islam dan Sunda dalam kesenian burok dihayati secara mendalam oleh masyarakat Cirebon selaku pemilik asli. Terkait dengan ini Muthia Aliya (2021) menerangkan Cirebon dikenal sebagai masyarakat religious, oleh karena itu seni burok yang berkembang cenderung terpengaruh oleh konsep-konsep Islam. Secara esklusif Ia menerangkan, seni burok merupakan hasil representasi dari peristiwa Isra mir,aj yaitu kendaran yang dipakai Nabi Muhammad SAW. Lain pada itu akulturasi budaya Sunda pada sosok burok yang berbentuk topeng, diprediksi terpengaruh oleh tari topeng asli daerah Cirebon. Dalam tradisi masyarakat Cirebon dahulu, meyakini bentuk dan fungsi dari topeng sendiri dibedakan menjadi dua: a. Dalam fungsi ritual dengan menggunakan topeng Rahwana, sementara b. Pada fungsi hajatan menggunakan topeng ayu (yakni topeng yang berbentuk wanita cantik). Dalam kaitan ini sejarah asal usul burok sebagai representasi tari topeng Cirebon, terilhami dari kisah Ramayana, dimana topeng ayu digambarkan sosok wanita cantik berkarakter halus, sementara rahwana digambarakan seorang pria dengan karakter bertabiat buruk. Akan tetapi visualisasi topeng ayu dewasa ini, dipahami masyarakat Cirebon pada umumnya lebih ditekankan pada peristiwa Isra mi’raj.  Abdul Kharim (2013) menerangkan kata Isra mi’raj sendiri terdiri dari dua kata, dimana Isra dipahami sebagai perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Harom (Makah) menuju Masjidil Aqso di Jerusalem (Palestina), sementara mi,raj adalah perjalanan setelah Isra yakni menuju lapisan langit ketujuh. Kedua perjalanan Nabi Muhammad SAW itu hanya dilakukan dalam waktu semalam. Atas dasar itu seni “burok” yang hidup dan berkembang di daerah Cirebon, diyakin secara etimologi dipengaruhi dari bahasa Arab, yakni “Barqu” yang berarti “kilat”. Secara sederhana “burok” dipahami masyarakat luas sebagai tunggangan Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa Isra mi’raj karena memiliki kecepatan menyerupai kilat. Terlepas dari pemaknaan manapun faktanya masyarakat Cirebon percaya bahwa, burok dan tari topeng memang secara historis digunakan sebagai media dakwah penyebaran agama Islam oleh Sunan Kalijaga. Dari sisi historis itulah kesenian burok selain dinilai sebagai salah satu warisan budaya, juga memiliki peranan yang cukup penting lagi krusial bagi masyarakat pemiliknya dari waktu ke waktu.

Di Kabupaten Brebes sendiri seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, pertumbuhan dan perkembangan kesenian burok sangat beragam. Tiap grup dari masing-masing seni burok yang ada pada tiap daerah di Brebes, memiliki ciri serta kekhasan tersendiri untuk tetap mempertahankan eksistensinya. Ciri maupun kekhasan yang dimiliki setiap grup, tidak lain  merupakan aktualisasi kreatifitas dari para seniman local, dalam memberikan inovasi penyajian pertunjukan. Kebaruan pertunjukan seni burok di daerah Brebes memang menjadi suatu kebutuhan disatu sisi, mengingat bagaimanapun seni ini adalah warisan budaya yang harus tetap lestari. Oleh karena itu upaya pelestarian seni burok dari para seniman, harusnya didasari atas kematangan pemahaman serta kesadaran penuh terkait dengan nilai dan makna filosofisnya. Transformasi seni burok akan sepenuhnya keliru, apabila dalam usaha pelestariannya menanggalkan bagian-bagian paling esensial serta mencabut tuntas akar mondialnya secara tragis.

Prasasti” merupakan nama grup seni burok yang hidup dan berkembang di Desa Bojongsari, kecamatan Losari, Kabupaten Brebes. Hingga dewasa ini keberadaan “Burok Prasasti” sendiri, tetap menjadi salah satu grup seni kebanggaan warga masyarakat Desa Bojongsari. Pasalnya diantara beberapa ciri keunikan yang dimiliki “Burok Prasasti” salah satunya, sebagian besar pemainnya berusia muda (masih berstatus sebagai pelajar). Dilihat dari aras ini secara kasat mata dapat disimpulkan, bahwa upaya pelestarian sekaligus pewarisan seni burok di Desa Bojongsari terlegitimasi sukses. Fenomena ini tentu harus diapresiasi setinggi-tingginya, mengingat banyaknya seni tradisional yang tenggelam akibat tidak adanya respon generasi muda untuk mewarisinya. Keterlibatan generasi muda, yang mencerminkan ciri keunikan dari “burok prasasti” ternyata sudah melekat didalam sejarah kelahirannya. Sehubungan dengan sejarah “burok prasasti” secara spesifik dijelaskan Indra Galih (2018), sebagai berikut:

“Secara singkat asal muasal seni burok berasal dari kisah kyai Rozak, seorang kyai yang kebetulan juga seorang seniman genjring dan ketipung. Dikisahkan oleh kang Udin (ketua burok prasasti) bahwa, pengalaman seni ini dimiliki kyai Rojak pada saat Ia mengisi pertunjukan genjring dan ketipung di daerah Cirebon. Pada saat yang sama terjadi pengalaman estetis, dimana tanpa sengaja kyai Rojak melihat pertunjukan tarian boneka-boneka besar (berwajah menyerupai manusia berbadan kuda terbang) dengan iringan music genjring diacara khitanan warga Cirebon. Atas dasar pengalaman estetisnya, kyai Rojak berkeinginan melengkapi seni genjring dan ketipungnya dengan boneka besar berwajah manusia berbadan kuda terbang (burok). Maka pada waktu itu kyai Rojak langsung membentuk grup seni “burok sanggar budaya” yang semua anggotanya berasal dari para santri-santrinya. Adapun komposisi pertunjukan “burok sanggar budaya” yang beliau usung untuk pertama kali, di desa Bojongsari adalah tarian dua boneka dengan iringan genjring sholawat.”

Dalam sejarahnya diketahui bahwa kepemimpinan pertama kyai Rojak di grup “burok sanggar budaya” berjalan selama kurang lebih 9 tahun, sebelum ahirnya digantikan kepengurusannya oleh penerusnya. Selama 9 tahun dibawah kepemimpinannya, tercatata telah terjadi banyak perkembangan pada pertunjukan “burok sanggar budaya”, terutama dengan penambahan beberapa koleksi boneka. Kang Udin menerangkan bahwa sekuranganya telah terjadi 4 kali pergantian nama grup burok di Desa Bojongsari diantaranya: burok sanggar budaya, burok sinar budaya, burok mekar budaya muda (MBM) dan burok prasasti. Pergantian nama grup yang terahir “burok prasasti” dilakukan pada tahun 2007 sampai sekarang, dan masih digunakan sebagai nama grup seni burok yang ada di Desa Bojongsari. Dalam sejarah perkembangannya, Kang Udin sendiri tercatat sebagai ketua grup “burok prasasti” sekaligus pengurus ke- tujuh. Terkait dengan tata kelola kepengurusan “burok prasasti” Indra Galih (2018) menuliskan, melihat bentuk kepemilikan grup diakui secara bersama, maka beban tanggung jawab Kang Udin begitu besar, karena segala keputusan harus didasarkan atas kesepakatan bersama dengan didasari landasan-landasan keIslaman.

Secara umum pergantian nama grup “burok prasasti”, turut serta mendorong terjadinya transformasi yang  cukup besar terkait dengan bentuk pertunjukan secara keseluruhan. Transformasi yang cukup signifikan dapat diamati secara langsung dari banyaknya penambahan boneka, penggunaan instrument music dan lagu irigan, serta urutan penyajiannya. Dalam formatnya yang sekarang grup “burok prasasti” memiliki sejumlah boneka diantaranya:  2 buah burok ayu, 1 buah burok topeng rahwana, 1 buah burok peksi naga lima, 1 buah pikulan burung garuda, 2 buah pikulan sisingan, 1 buah pikulan naga, 2 buah barongsai, dan 1 buah boneka macan. Untuk memberikan gambaran kepada pembaca, berikut ini penulis deskripsikan secara singkat masing-masing boneka yang dimiliki grup “burok prasasti” di Desa Bojongsari, Kecamatan Losari, Kabupaten Bebes sebagai berikut:

  1. Burok Ayu

Burok ayu merupakan sebuah boneka besar, yang memiliki bentuk muka menyerupai wanita cantik (berwarna putih), berbadan kuda serta mempunyai dua sayap. Peran burok ayu sendiri dalam pertunjukan grup “burok prasasti” sangat sentral, mengingat keberadaan dan fungsinya sebagai tokoh utama. Bagi para seniman dan warga masyarakat desa Bojongsari pada umumnya percaya, bahwa burok ayu merupakan perlambangan kendaran Nabi Muhammad SAW pada saat peristiwa Isra mi,raj. Mungkin atas dasar pemahaman itulah, hampir semua seni burok yang hidup di daerah Brebes, menempatkan peran burok ayu sebagai tokoh utama di dalam pertunjukannya. Akan tetapi perlu diingat bahwa bagian paling esensial dari burok ayu sendiri terletak pada bentuk wajah wanita (berwarna putih), berbadan kuda serta memiliki dua sayap, sehingga tidak ada kebakuan terkait dengan besar ukuran maupun warna buroknya. Pada penjelasan sebelumnya terkait burok yang mengadopsi tari topeng Cirebon, secara filosofi dapat dikatakan sebagai sosok emanensi Alloh SWT. Konsep emanesi ini terungkap pada kutipan Redi Purnama dalam Muthia (2021) yang menuliskan, topeng Cirebon yang biasanya digunakan untuk kesenian tari topeng memiliki symbol penciptaan alam semesta yang didasari pada system kepercayaan Indonesia purba dan Hindu-Budha-Majapahit. Paham kepercayaan mondial asli Indonesia yang tidak membedakan Pencipta dan ciptaan, karena ciptaan merupakan pancaran dari Sang Hyang Tunggal itu sendiri. Lain pada itu secara esklusif, Ia mensinyalir topeng burok memiliki makna filosofis emanensi Alloh SWT yang bukan maskulin maupun feminim. Untuk memberikan gambaran kepada pembaca, berikut ini penulis lampirkan dokumentasi, Burok (burok ayu) sebagai berikut:

Gambar Burok Ayu (Dok: Indra Galih 2018)

 

  • Burok Rahwana

Di dalam pertunjukan, burok rahwana selalu memainkan peran antagonis lawan dari burok ayu.  Seperti halnya dalam tari topeng Cirebon maupun cerita Ramayana, bahwa burok rahwana merepresentasikan karakter jahat, bengis, angkuh, angkara murka maupun hawa nafsu. Oleh karena itu burok rahwana dalam grup “burok prasasti” divisualisasikan dalam bentuk muka berwarna merah, memiliki taring, bermata besar melotot, berambut panjang, bermahkota, serta berbadan hewan yang bersayap.

 

  • Burok Peksi Naga Lima

Secara visual burok peksi naga lima sendiri berbentuk boneka gajah bermahkota, dimana pada bagian belalinya terdapat sebuah tongkat kecil yang dimaknai sebagai perlambang kekuasaan. Dengan didasari atas pemaknannya, maka keberadaan burok peksi naga lima dalam pertunjukan “burok prasasti” terbilang penting. Menurut kang Udin dalam Indra Galih (2018) menerangkan, bahwa burok peksi naga lima dapat dikatakan sebagai salah satu ciri keunikan dari “burok prasasti”, mengingat tidak semua grup seni burok memilikinya. Kang Udin sendiri menuturkan bahwa burok peksi naga lima merupakan boneka burok yang ada di kasepuhan Cirebon.

 

  • Burok Pikul Burung Garuda

Dalam segi bentuk “burok pikul burung garuda” sendiri merepresentasikan budaya nasional ke-Indonesiaan. Apabila dianalisa secara mendalam, sekurangnya ada 2 esensi penting di dalam burok pikul burung garuda, diantaranya: 1. Bila dilihat dari fungsinya, keberadaan burok pikul burung garuda menyerupai boneka mainan tunggaan anak-anak yang mungkin dapat dijumpai pada beberapa daerah dinusantara. 2. Sementara itu “Burung Garuda” yang merupakan lambang Negara Indonesia, dimana didalamnya merepresentasikan makna filosofis yang luhur, seperti Pancasila dengan semboyannya Bhineka Tunggal Ika sudah sepantasnya kita junjung tinggi. Oleh karena itu, visualisasi terkait dengan burok pikul burung garuda bisa kita maknai sebagai cultur budaya yang merepresentasikan identitas ke- Indonesiaan.  Lain pada itu, bentuk rinci dari burok pikul burung garuda di Desa Bojongsari adalah sebuah hewan bersanyap, memiliki kepala menyerupai burung garuda dan  memiliki tiga kaki. Secara spesifik terkait dengan pertunjukan “burok prasasti”, keberadaan burok pikul burung garuda sendiri nantinya akan dibawa oleh empat orang pemanggul yang menari dengan mengikuti iringan music.

 

  • Burok Pikul Sisingaan

Burok pikul sisingaan merupakan salah satu burok pikul yang dalam pertunjukan akan dibawa dan dimainkan oleh empat orang pemanggul. Sama halnya dengan burok ayu dan burok peksi naga lima, burok pikul sisinggaan ini tergolong penting dalam pertunjukan. Menurut penuturan Kang Udin dalam Indra Galih menerangkan, sisingaan dalam tradisi masyarakat desa Bojongsari khususnya diyakini sebagai perlambang seorang prajurit, yang nantinya akan menemani dan mengiringi hidup situan hajat kelak. Visualisasi sisingaan yang dimiliki grup burok prasasti, berbentuk boneka besar menyerupai singa dalam posisi siap siaga dengan mulut  dan taring terbuka lebar.

 

  • Burok Pikul Naga

Pada burok pikul naga perihal peran maupun teknik permainan didalam pertunjukan “burok prasasti”,  sama seperti burok pikul burung garuda dan burok pikul sisingaan yakni dibawa oleh 4 orang pemanggul. Badan burok pikul naga sengaja didesain senyaman mungkin, hal ini mengingat perannya dalam pertunjukan “burok prasasti” untuk dijadikan semacam permainan tunggangan pada saat arakan. Secara spesifik bentuk burok pikul naga yang dimiliki grup “burok prasasti” dibuat semirip mungkin dengan mitos hewan naga. Pada pemaknaannya yang lebih luas, naga selalu diidentikan dengan tradisi budaya etnik Tionghoa.  Fawarti (2018) menuliskan, naga dianggap sebagai binatang yang benar-benar pernah ada, dikalangan masyarakat Thionghoa. Lebih lanjut Ia menuturkan, masyarakat Thionghoa percaya bahwa naga bisa mendatangkan keberuntungan, keberhasilan, kebajikan, berkah, kekuata bahkan kekuasaan. Pada umumnya masyarakat Thionghoa memvisualisasikan naga sejenis ular, yang bersisik hijau dengan duri-duri sirip warna (merah dan kuning), dengan posisi mulut menganga lebar, gigi menyeringai, lidah menjulur, serta mata melotot dengan cakar depan siap menycengkram.  Dengan bersandar pada terminologi visual yang demikian, bentuk burok pikul naga yang dimiliki grup “burok prasasti” memiliki corak sisik ular yang didominasi warna hijau, merah dan kuning, mulut mengangga lebar, gigi menyeringai, dan lidah menjulur. Lain pada itu kekhasan dari beberapa koleksi burok yang ada pada grup burok prasasti, hampir semua burok dilengkapi dengan kedua sayap. Menurut pengakuan Kang Udin dalam Indra Galih, hal itu diberikan selain sebagai bagian dari ungkapan artistic, juga dimaksudkan sebagai antisipasi keamanan (untuk pegangan penunggangnya).

 

  • Burok Macan

Burok macan dalam grup “burok prasasti” dimainkan oleh dua orang, dimana satu memainkan bagian depan (kepala), sementara yang lainnya berada dibelakang pada bagian (badan) dalam burok macan. Bila dilihat dari cara dan teknik memainkannya, sekilas tidak ada perbedaan secara signifikan antara burok macan dan barongsai. Terkait dengan “burok prasasti” diketahui pernyaatan Kang Udin dalam Indra Galih, yang menerangkan bahwa burok macan sebenarnya dimanfaatkan sebagai pelengkap saja. Tuturnya, burok macan dijadikan sebagai simbol kekuatan nusantara (hewan lokal) untuk mengimbangi keberadaan barongsai sendiri yang diyakini sebagai simbol mitos dari China. Tetapi terkait dengan pertunjukan “burok prasasti” dimana pada awalnya, penambahan burok macan dimaksudkan sebagai pelengkap pertunjukan, justru mendapat respon yang baik khususnya dikalangan anak-anak. Oleh karena itu, burok macan dewasa ini selalu ditampilkan dala setiap pertunjukan “burok prasasti”. Secara detail bentuk dari burok macan yang ada pada grup “burok prasasti” adalah semacam boneka besar menyerupai macan, dengan dominasi warna loreng.

 

  • Barongsai

Keberadaan barongsai dalam pertunjukan “burok prasasti” sebetulnya memiliki peranan yang istimewa, baik dalam konteks kemeriahan pementasan maupun segi finansialnya sendiri. Dikatakan penting menurut penuturan Kang Udin dalam Indra Galih, karena barongsai tidak hanya berperan seperti halnya pada bonek burok lainnya yang hanya mengisi alur pertunjukan. Bagi Kang Udin pribadi selain mengekplisitkan makna filosofis, permainan barongsai juga membutuhkan keahlian khusus seperti halnya bela diri untuk menunjang atraksi. Sebagai burok pembuka dalam pertunjukan “burok prasastibarongsai memeragakan banyak atraksi yang menjadikan detak kagum baik penonton maupun sipemilik hajat. Bagi kami pribadi genjring, ketipung, dan barongsai selain menjadi penanda dimulainya pertunjukan, juga menjadi media untuk memanggil penonton supaya berdatangan ke tempat diadakannya hajat. Perlu dicatat bahwa penampilan “burok prasasti” dengan dilengkapi dua barongsai yang kita miliki menambah nilai jual yang relative mahal. Pasalnya satu barongsai dimainkan oleh dua orang pemain yang cukup terlatih, dimana satu orang berperan sebagai kepala barongsai dan satu diantaranya memainkan bagian badan barongsai. Sehingga untuk menampilkan barongsai lengkap, diperlukan sekurangnya 4 orang pemain yang memiliki skill diatas rata-rata. Secara spesifik barongsai yang dimiliki grup “burok prasasti” hampir sama dengan barongsai China pada umumnya, hanya saja dengan ukuran yang relative lebih kecil. Secara visual kedua barongsai dalam “burok prasasti” memiliki bentuk kepala kombinasi  antara (singa dan naga), sementara untuk warnanya sendiri terdiri dari dominasi warna kuning keemasan dan biru.

 

  • Burok Badut, Kostum Ketoprak Humor dan Singa Ketoprak Humor

Dapat dikatakan bahwa peran ketiga burok ini dalam pertunjukan “burok prasasti” sebagai figura belaka karena sebenarnya tidak masuk dalam alur pementasan secara formal. Akan tetapi harus diingat sekaligus diakui bahwa, keberadaan dari ketiga burok ini merupakan hasil karya ekpresi dari para pemain burok “prasasti sendiri”. Bagi grup “burok prasasti” sekalipun ketiga burok ini berperan sebagai figura dalam pertunjukannya, akan tetapi menjadi kebanggaan sekaligus kekhasan karena tidak mungkin dimiliki oleh grup burok lainnya. Untuk lebih memberikan deskripsi singkat terkait dengan ketiga burok diatas, berikut ini penulis lampirkan kutipan pernyataan Kang Udin dalam Indra Galih sebagai berikut:

“Asal usul pembuatan burok badut sebetulnya, terinspirasi dari tokoh kartun kenamaan Malaysia “upin-ipin”. Saya menginterpretasikan bahwa keberadaan badut ini, dapat menambah kemeriahan dalam pertunjukan “burok prasasti” baik pada lokasi pertunjukan maupun pada saat arakan, mengingat kartun ini sangat digemari oleh anak-anak. Akan tetapi untuk menghindari plagiatisme secara full dari bentuk aslinya, saya plesetkan dengan merubah beberapa bagian yang sekiranya penting. Secara khusus visual burok badut yang kami miliki, berbentuk anak kecil berkepala sangat besar, berambut pirang, dengan tampilan wajah yang cukup polos namun kocak. Keberadaan burok badut menjadi penyegar tidak hanya bagi penonton, tetapi bagi kami selaku pemain dari grup “burok prasasti” sendiri.

Seperti halnya burok badut, dua karakter kostum ketoprak humor (satu berwajah humoris, dan kostum buta) tercipta dari inovasi para seniman “burok prasasti” sendiri. Pembuatan kostum ketoprak humor yang berwajah humoris, kami buat dengan memanfaatkan barang-barang yang cukup sederhana. Dalam hal bentuk karakter berwajar humoris, dibuat dengan mengenakan pakaian kumel, dengan dilengkapi sebatang cambuk. Visualisasi ini dibuat, sebagaimana perannya sendiri dalam pertunjukan “burok prasasti” yakni sebagai pawang dari burok singa ketoprak humor. Untuk karakter costum buta  dibuat dengan bentuk, kepala besar berwarna hijau menyerupai peran buta pewayangan, namun memiliki perut yang sangat besar sehingga memunculkan kesan lucu.

Pada Singa Ketoprak Humor juga merupakan hasil karya kami sendiri, yang dibuat dengan bahan-bahan yang sederhana. Karakter bentuk dari singa ketoprak humor sendiri dibuat menyerupai bentuk hewan singa pada umumnya, akan tetapi diinovasikan dengan bentuk-bentuk yang tidak begitu formal. Peran dari singa ketoprak humor adalah, pelengkap pertunjukan yang berfungsi pemicu adrenalin penonton. Pemain singa ketoprak humor memang didaulat memerankan permainan singa yang liar, dan hanya menuruti apa yang disampaikan oleh pawangnya. Tugas utama dari singa ketoprak humor, dalam pertunjukan “burok prasasti” adalah untuk menggoda sekaligus menakuti sejumlah penonton”.

Pada pengertian transformasi secara umum, pergeseran “burok prasasti” memang dapat secara mudah diamati dari adanya perubahan, pengurangan maupun penambahan bentuk yang biasanya tertangkap oleh panca indra. Selain transformasi dengan menambahkan beberapa boneka seperti yang sudah diterangkan secara detail diatas, grup “burok prasasti” melakukan pergeseran pada music pengiring pertunjukannya. Penulis mencatat ada setidaknya ada tiga upaya transformasi yang dilakukan oleh grup “burok prasasti” dibawah kepemimpinan Kang Udin, sebagai berikut: Pertama, Upaya transformasi yang dilakukan oleh grup “burok prasasti” terletak pada penambahan dan pemanfaatanan alat, yang hampir didominasi dengan instrument-intrumen modern seperti: genring, ketipung, kendang, suling, kecrek, keybord, gitar elektrik, bass elektik, dan drum. Kedua, apabila sebelumnya pertunjukan “burok prasasti” hanya diiringi sholawatan dengan menggunakan insturmen genjring dan ketipung, dewasa ini pertunjukan “burok prasasti” ditambahkan dengan lagu popular seperti dangdut dan tarling, sehingga pada saat penampilannya sekarang dibutuhkan sekurangnya 2 penyanyi dan seorang Mc. Ketiga, penambahan gerobag music dorong, mengingat esensi dari grup “burok prasasti” adalah seni pertunjukan arakan, maka keberadaan dan fungsi music harus mengakomodir suara iringan dimanapun pertunjukan itu berjalan. Lain pada itu, banyaknya penambahan jumlah instrument modern dalam pertunjukan yang memanfaatkan tenaga listrik, maka spiker dan genset menjadi suatu keharusan. Mengenai hal ini diterangkan secara jelas oleh Kang Udin dalam Indra Galih, dengan menyebutkan bahwa para pemain music bermain bersama dalam satu grobag besar yang dimodifikasi untuk menampung pemain, spiker sekaligus genset. Grobag music dorong sendiri dibuat untuk memudahkan, sekaligus mengefisiensikan para pemain music “burok prasasti” dalam melancaran pertunjukan. Dewasa ini pemanfaatan grobag music dorong, dalam pertunjukan-pertunjukan yang sifatnya arakan sudah sangat popular. Di daerah Brebes secara umum, penggunaan gerobag music dorong mengalami perluasan, seperti: pertunjukan dangdut dorong, music grebeg sahur, festival kedaerahan dan karnaval hari kemerdekaan. Terkait sebagai grup seni, Kang Udin menambahkan bahwa kemajuan “burok prasasti” terletak dalam kejelasan dan profesionalisme pada struktur organisasi, tata kelola, dan manajemennya. Kang Udin menuturkan, untuk menunjang kesolidan, kekompakan, sekaligus identitas grup “burok prasasti” kami mempunyai dan mengenakan costum khusus pada saat pertunjukan.

Bentuk transformasi lain yang dilakukan oleh grup “burok prasasti” adalah pergeseran komposisi dan alur pertunjukannya. Transformasi bentuk pertunjukan secara gradual, dari para seniman memang tidak dapat ditawar, mengingat adanya sejumlah penambahan burok dan music iringan. Kedua transformasi yang penulis sebutkan terahir, menjadi salah satu factor daya dorong bagi grup “burok prasasti” untuk mentransformasikan bentuk pertunjukannya. Berikut ini penulis coba uraikan secara spesifik, urutan dalam penyajian pertunjukan “burok prasasti” yang ada di Desa Bojongsari, Kecamata Losari, kabupaten Brebes.

  1. Pra Pertunjukan

Tahap pertama ini biasanya dilakukan oleh ketua grup dengan sipemilik hajat, untuk bernegosiasi terkait: waktu dan tempat pertunjukan, jarak tempuh dan rute arakan, penggunaan full burok, iringan music, harga sewa pertunjukan, serta keamanan baik pada tempat hajat maupun pada saat melakukan arak-arakan. Pada tahap awal negosiasi (perjanjian sewa tanggapan) biasanya dilakukan 2 minggu sampai 1 bulan sebelum hari H pelaksanaan pertunjukan. Tahapan ini bersifat fleksibel sehingga tidak mengikat dan formal, akan tetapi perlu dicatat bahwa grup “burok prasasti” seringnya memiliki jadwal main yang padat, terutama pada musim hajatan warga, sehingga pemesanan tanggapan baiknya dilakukan jauh-jauh hari.

  1. Pembukaan

Pada tahan yang kedua ini, dilakukan saat hari (H) dimana waktu, tempat, dan jadwal pertunjukan “burok prasasti” berlangsung. Prosesi paling awal pada tahap ini, dibuka oleh Mc dengan melantunkan doa (meminta keselamatan dari awal sampai ahir pertunjukan berlangsung), serta sholawat nabi untuk mengharap keberkahan. Pada saat melantunkan sholawat nabi, Mc meminta semua yang hadir untuk ikut bersholawat, sambil meminta beberapa pemain music genjring dan ketipung mengiringinya. Tahapan selanjutnya, Mc mempersilahkan pemain  music dan penyanyi untuk memainkan lagu dangdut tarling popular, hal ini dilakukan guna menarik sebanyak mungkin penonton, selain sejumlah para tamu undangan hajat. Ditengah berjalanannya music dangdut tarling, kedua barongsai berwarna kuning dan biru masuk ketengah pertunjukan, untuk memulai tarian mengikuti iringan musik, gerakan lambat, serta atraksi-atraksi ringan (sebagai pembuka). Bersamaan dengan itu, masuk juga burok pikul burung garuda, burok pikul sisingaan, burok pikul naga ke dalam area pertunjukan dengan posisi sudah dinaiki sejumlah anak-anak dan ibu-ibu. Pada saat sejumlah burok pikul berkumpul dengan iringan dangdut tarling yang tetap berlangsung, terjadilah saweran dimana sejumlah ibu dan anak yang menaiki burok, melemparkan beberapa uang rejeh, mie instan, bahkan ditergen kearah penonton.  Penampilan dilanjutkan dengan bodoran dan sulap, diikuti dengan masuknya burok badut, kostum ketoprak humor, singa humor dan burok macan. Pertunjukan ditempat hajat, ditutup dengan acara ruatan (ritual pelemparan bantal ke atap sipemilik hajat) dengan tujuan membuang segala bentuk kesialan. Pada saat acara ritual berlangsung, terjadilah sandiwara berbahasa Jawa yang diperankan oleh burok ayu, burok rahwana, burok humor bermuka buta dan burok peksi naga lima. Secara khusus di dalam alur pertunjukan “burok prasasti” ditempat hajat, menempatkan dialog burok ayu dan burok rahwana sebagai ending cerita. Kang Udin dalam Indra Galih menjelaskan hal ini merepresentasikan bentuk ketaatan kami akan tradisi, dimana para leluhur menjunjung tinggi pemaknaan agama yang melekat pada seni burok. Dilain sisi peristiwa ini juga ekplisit dengan tradisi masyarakat Cirebon yang meyakini, bahwa seni burok disinyalir mengadopsi tari topeng yang syarat akan makna filosofis dan nilai keislaman. Oleh karena itu prosesi pelemparan bantal ke atap sipemilik hajat, sebagai representasi membuang bentuk kesialan yang dilakukan oleh burok rahwana terinspirasi cerita Ramayana.

  1. Awal Pertunjukan Arakan

Setelah berhasil menyuguhkan pertunjukan ditempat si pemilik hajat, dengan disertai kekaguman dan kepuasan dari sejumlah penonton.  Star awal acara untuk memulai arakan dibuka dengan penampilan 12 penari latar, yang menandu sejumlah burok pikul seperti: burok pikul burung garuda, burok pikul sisingaan, dan burok pikul naga lengkap dalam posisi dinaiki sejumlah anak. Penampilan dilanjutkan dengan atraksi silat dan sulap yang diperankan oleh 4 orang pemain barongsai dalam pertunjukan “burok prasasti”, sebelum ahirnya semua burok berkumpul jadi satu, sambil menyusun dan menempatkan urutan dalam arakannya.

 

  1. Arak-arakan

Tahapan arakan dapat dikatakan sebagai tahapan ahir yang sekaligus menjadi urutan paling inti dari serangkaiann pertunjukan “burok prasasti”. Arakan menjadi bagian esensial dalam pertunjukan burok, karena pada tahapan ini seorang yang dikhitan diarak mengikuti rute yang telah ditentukan sebelumnya. Secara simbolis proses arakan ini dimaknai sebagai tahapan peralihan bujang sunat, yakni proses meninggalkan frase anak-anak menuju frase dewasa. Terkait dengan mekanisme proses arakanburok prasasati” Kang udin menerangkan, untuk urutan, rute dan jarak tempuh diusahakan se fleksibel mungkin sesuai dengan permintaan si pemilik hajat. Selama proses arakan berlangsung, permainan music dangdut tarling yang dimainkan pada gerobag dorong, selalu mengukuti dibelakang para burok dalam memainkan perannya. Prosesi arakanburok prasasti” dinyatakan selesai, setelah melewati rute yang telah disepakati sebelumnya, dan sampai kembali pada tempat hajatan yang dijadikan star untuk memulai pertunjukan. Adapun susunan urutan dalam pertunjukan arakan “burok prasasti” dari poisisi depan sampai posisi belakang, sebagai berikut:  1. Dua Barongsai, 2. Burok ayu, 3. Burok pikul burung garuda, 4. Dua pikul burok ( burok pikul sisingaan dan buruk pikul naga), 5. Burok peksi naga lima, 6. Burok humor (Burok Badut, Kostum ketoprak humor dan Singa humor), 7. Burok singa, 8. Burok rahwana, dan 9. Grobag music dorong (lengkap dengan pemain, spiker dan genset).  

          Setelah mengetahui beberapa tahap transformasi bentuk pertunjukan yang dilakukan oleh grub “burok prasasti”, kini sampai pada pendasaran substansial terkait karya seni dalam pemikiran filsafat proses Whitehead. Dalam penjelasan terdahulu kita memahami bahwa gaung adventure yang didambakan Whitehead, harus didasari oleh kebebasan satuan aktual yang secara kreatif, menawarkan alternative baru namun tetap setia menyisakan kekhasan warisan masa lalu sebagai identitasnya. Karya seni yang ideal dalam pandangan Whitehead, haruslah lahir dari aktifitas intellectual feelings yang memiliki kemampuan mengappropriasikan tradisi seraya memodifikasinya. Untuk dapat mendudukan dasar pemikiran Whitehead, terkait dengan eksistensi pertunjukan “burok prasasti” di Desa Bojongsari, sekurangnya terdapat dua cara  dalam mendekatinya. Pertama, analisis dasar dengan melihat bentuk (materi) yang dapat dicercap oleh panca indra. Model analisis seperti ini bisa juga disebut sebagai pengindraan dari luar, karena menyusur bagian-bagian permukaan atau kulit  tampilan luar pada karya seni. Analisa jenis yang pertama ini, dapat kita gunakan untuk melihat transformasi penambahan burok, instrument music, iringan music dan pertunjukan sebagaimana yang sudah dijelaskan sebelumnya. Dengan berpegang pada aras ini, penggunaan burok ayu dari awal mula pertama kali pertunjukan, pemanfaatan instrument genjring dan ketipung, serta pembacaan doa dan sholawat pada saat pembukaan pertunjukan melegesikan proses appropriasi akan tradisi secara aposteriori. Kedua, analisis interpretasi dengan melibatkan pemaknaan, symbol serta nilai dari masyarakat pendukungnya termasuk (seniman, penonton dan penanggap). Dalam terminologi keilmuan khusus hal-hal seperti ini, menurut hemat penulis perlu melihatkan hermeneutic maupun semiotika karena bersentuhan langsung dengan penafsiran atas symbol. Muhammad Mufid (2017) menjelaskan, hermeneutic-semiotik adalah kombinasi dua tradisi keilmuan guna menafsirkan montage, anyaman rakitan yang berupa perpaduan maupun tersendiri: teks, gambar, film, foto, arca, animasi yang dijalin dalam suatu kerangka retorik social. Secara spesifik Richard E Palmar menefinisikan hermeneutic menjadi enam definisi berbeda: pertama, teori eksegesis Bibel. Kedua, metodelogi filologi secara umum. Ketiga, ilmu pemahaman linguistic. Keempat, fondasi metodelogis geisteswissenschafen (semua disiplin yang memfokuskan pada pemahaman seni, aksi, dan tulisan manusia). Kelima, fenomenologi eksistensi dan pemahaman eksistensi. Keenam, sistem interpretasi, baik recollectif atau iconoclastic, yang digunakan manusia untuk meraih makna dibalik mitos dan simbol. Lain pada itu Teguh Ratmanto (2004) menuliskan etimologi semiotika berasal dari bahasa Latin “someion” yang berarti tanda; atau dalam bahasa Yunani “semeiotikos” yang berarti penafsiran tanda. Oleh karena itu untuk dapat melihat proses appropriasi tradisi, terkait dengan bentuk pertunjukan “burok prasasti” dengan analisis interpretasi harus didekati dari maknanya secara menyeluruh.

  1. Makna Burok Ayu Bagi Masyarakat Desa Bojongsari

Dengan berpegang pada sejarah kemunculan dan perkembangan seni “burok prasasti” dewasa ini, maka eksistensinya dapat diklaim bernilai tradisi. Tidak dipungkiri pengetahuan dan pengalaman estetis generasi kita, terkait pertunjukan “burok prasasti” merupakan hasil pewarisan sekaligus pelestarian. pada umumnya proses pewarisan ini akan berlangsung terus secara natural, selama sebuah tradisi (termasuk didalamnya seni) masih memberikan kontribusi baik fungsi maupun maknanya bagi masyarakat. Apabila diamati lebih lanjut proses pewarisan “burok prasasti” sendiri berlangsung dalam rangkaian ruang dan waktu melalui perbuatan pengindraan, perbuatan berbahasa (lisan dan tulisan),  serta perbuatan jasmani dan rohani. Cara-cara pewarisan “burok prasasti” pada hakikatnya dapat dibedakan, tetapi dalam implementasinya bersifat terpadu saja. Sebagai contoh mekanisme pewarisan dalam kerangka akademis bisa dilihat pertama-tama dengan medium seni, kemudian secara garis besar seni atas tradisi lisan (dari mulut kemulut), serta tradisi tulis dalam bentuk literasi. Blue print disini, bahwa proses pewarisan “burok prasasti” khususnya tidak hanya menyangkut bentuk seninya, namun juga pada hal-hal yang menyangkut makna, filosofis, serta nilai norma yang berlaku dimasyarakat. Secara implicit Koentjaraningrat dalam Rahmawati (2012) menjelaskan, eksistensi masyarakat tidak hanya bergantung pada seni itu sendiri, melainkan juga taat kepada adat yang mengatur kesenian mereka. Sementara itu Elvandari (2017) menerangkan secara khusus proses pewarisan dapat dilakukan melalui: 1. Enkulturasi yaitu (proses mempelajari dan menyesuaikan pikiran dan sikap individu pada sistem norma yang berlangsung melalui adaptasi). 2. Sosialisasi yaitu (proses pemasyarakatan, seorang individu menyesuaikan dan menyelaraskan dengan individu lain didalam masyarakat).

Untuk mengetahui makna burok pada masyarakat Bojongsari, terutama terkait dengan appropriasi tradisi sebagai dasar pemikiran seni Whitehead, dapat kiranya kita memanfaatkan proses pewarisan melalui enkulturasi dan sosialisasi. Terkait dengan “burok prasasti” penulis meyakini bahwa enkulturasi menjadi proses pewarisan yang substansial, dimana proses sosialisasi tidak mungkin berjalan tanpa melaluinya.  Oleh karena itu mekanisme proses pewarisan “burok prasasti” melalui perbuatan pengindraan, perbuatan berbahasa (lisan dan tulisan),  dan perbuatan jasmani dan rohani dapat kita galih dari tokoh sentral pertama di desa Bojongsari (kyai Razak). Seperti penjelasan sebelumnya, bahwa pengalaman estetis Kyai Rojak terkait seni burok diperoleh dari Cirebon, maka perihal pemaknaan burok masyarakat Bojongsari linier dengan pemaknaan burok pada masyarakat Cirebon. Sebagai mayoritas muslim, warga masyarakat Cirebon percaya bahwa seni burok pada awal kemunculannya, memiliki fungsi media penyebaran agama Islam. Dengan pondasi yang sama, masyarakat Cirebon memahami bahwa seni “burok” merupakan representasi dari peristiwa Isra mi’raj, yakni kendaraan Nabi Muhammad SAW. Disisi lain tradisi lisan yang berkembang di masyarakat Cirebon, memahami bahwa seni burok terpengaruh dari seni tari topeng. Dalam kontek pengadopsian terhadap tari topeng, burok dianggap sosok wanita cantik (burok ayu) sebagai ikonografi karakter baik (halus).  Terkait hal ini Muthia (2021) menuliskan masa lalu topeng burok ayu dan topeng rahwana terinspirasi dari kisah Ramayana.

Proses pewarisan “burok prasasti” terkait bentuk dan makna secara enkulturasi, dilakukan secara langsung oleh Kyai Abdul Razak pada saat pertama kali, membentuk grup kesenian burok sanggar budaya. Cara enkulturasi makna berlangsung antara Kyai Abdul Razak dengan sejumlah santri, yang pada saat itu menjadi anggota grup kesenian burok sanggar budaya, kemudian proses pewarisan mengalami perluasan dengan cara sosialisasi. Penyataan-pernyataan dari Kyai Abdul Razak dapat penulis ketahui, dari kutipan hasil wawancara Kang Udin (ketua grup) dengan Indra Galih, sebagai berikut:

“Secara universal masyarakat memahami bahwa seni burok merupakan tunggangan atau kendaraan Nabi Muhammad pada saat Isra mi’raj. Konon, Kyai Abdul Razak pernah mengungkapkan bahwa di Cirebon sendiri penggambaran burok diidentikan dengan Isra mi’raj, oleh karena itu seni ini di jadikan sebagai media syiar Islam. Burok diilustrasikan sebagai mahluk Tuhan sebangsa burung yang indah dan cantik, larinya sangat tangkas dan cepat. Pengambilan kata burok juga berasal dari bahasa Arab “barqu” yang berarti kilat, mungkin dari sana seni burok diidentikan sebagai tunggangan yang super cepat. Terkait dengan Isra mi,raj ada yang mengartikan burok sebagai binatang yang memberikan symbol penyatuan bumi dan langit. Terkait hal ini burok dianggap sebagai kuda terbang yang berasal dari surga, untuk menjemput Nabi Muhammad bersama Malaikat Jibril karena perintah langsung dari Alloh SWT. Selain mengaitkan burok dengan peristiwa Isra mi’raj, masyarakat juga memahami burok sebagai topeng burok ayu. Topeng burok ayu dalam pandangan masyarakat, melambangkan karakter-karakter baik dalam kehidupan manusia”.

 

Dari uraian diatas jelas menerangkan, bahwa masyarakat Desa Bojongsari memaknai burok (khususnya burok ayu) sebagai kendaraan atau tunggangan Nabi Muhammad SAW pada saat peristiwa Isra mi,raj. Disisi lain masyarakat Desa Bojongsari juga memahami bahwa burok sebagaimana tari topeng yang terinspirasi dari cerita Ramayana. Pada hakikatnya seni tradisi memiliki makna yang beragam tergantung dari pedasarannya, akan tetapi terkait dengan “burok prasasti” sendiri secara universal (kontek masyarakat Desa Bojongsari) diinsyafi pada dua pemaknaan diatas. Artinya baik seniman terkait “burok prasasti”, penonton, maupun penanggap memaknai burok (khususnya burok ayu) atas dasar dua makna yang sama. Apabila dikaitkan dengan kontek religious, sebagaimana Islam menjadi agama mayoritas masyarakat Desa Bojongsari, mungkin makna burok ayu dekat kaitannya dengan peristiwa Isra mi’raj. Sehubungan dengan ini Muthia (2021) secara esklusif menuliskan, adapula Buraq pada peristiwa Isra dan mi’raj tergambarkan dalam HR. Imam Muslim yang bersumber dari Anas bin Malik, diterangkan bahwa Rosululloh menyampaikan:

Didatangkan kepadaku Buraq, yaitu seekor hewan (dabbah) yang berwarna putih (abyadh), tubuhnya lebih tinggi dari hamar (keledai), tetapi lebih rendah dari bighal (hewan hasil persilangan antara kuda dan keledai), Ia meletakan kedua kaki depannya di ufuk batas jangkauan penglihatannya” (Al-Jami’ Al-Sahih Juz 1, hal. 99).

 

Lebih lanjut Muthia menuliskan, menurut penafsiran bahasa Arab, kata dabbah memiliki arti mahluk yang berjasad, bisa jantan dan juga betina, serta bisa berakal bisa juga tidak berakal. Akan tetapi patut diingat bahwa penjelasan terkait dengan burok dalam kerangka religious, jangan difinalkan sebagaimana pemaparan diatas, karena bagaimanapun pendasaran yang sama dapat saja menghasilkan jawaban yang berbeda. Penulis secara aposteriori justru meyakini bahwa dalam konteks ini, sebagaimana pada analisis seni yang lain pasti ada silang pendapat yang berbeda. Artinya dalam pemaknaan dari segi religious terkait dengan makna “burok ayu” sebagai representasi peristiwa Isra mi,raj, ada yang setuju dan percaya, ada juga yang tidak setuju dan tidak percaya.

Sementara terkait mitos, makna “burok ayu” dipahami masyarakat Desa Bojongsari mengadopsi tari topeng Cirebon yang terilhami dari cerita Ramayana. Topeng burok ayu digambarkan dengan kedok wajah seorang wanita cantik berkulit putih, yang merepresentasikan karakter baik (halus). Levi- Strauss dalam Setyobudi (2013) menjelaskan, bahwa mitos mengacu pada pikiran-pikiran kosmologi, dan metafisik orang-orang arkeis dan primitif yang berada dalam tradisi lisan. Sehingga alur ceritanya berasal dari metanarasi yang umumnya berkisah mengenai dewa-dewa dan mahluk mistik, dengan alur yang relatif melingkar-lingkar menggabungkan dunia metafisik dan dunia nyata. Secara spesifik burok ayu dalam grup “burok prasasti” tervisualisasikan sebagai binatang berkaki empat, bersayap, berkepala manusia yang memiliki paras cantik dan putih. Dengan penggambaran seperti yang telah dijelaskan, dapat disimpulkan bahwa burok ayu merupakan mahluk misterius, yang dengan kekuatan kedua sayapnya dapat terbang antara langit dan bumi. Burok ayu sendiri juga dapat iilustrasikan sebagai mahluk luminal legendaris, karena mahluk ini tidak dapat ditempatkan ke dalam satu kategori tertentu. Dalam perwujudan “burok ayu” yang menggambarkan perpaduan mahluk setengah hewan dan manusia, disatu sisi mengaktualisasikan karakter hewani yang liar, dan karakter tabiat manusia pada sisi yang lain.

  1. Makna Pertunjukan Burok Bagi Masyarakat Desa Bojongsari

Seperti halnya proses pewarisan yang dapat terjadi secara natural, proses transformasi atau pergeseran seni burok juga seayun dan ekplisit dengan upaya pewarisan itu sendiri. Keberhasilan “burok prasasti” mempertahankan eksistensinya, menunjukan bahwa seni pertunjukan ini memiliki kemampuan berdialektika dengan zaman. Dalam kaitan ini, transformasi bentuk (medium seni), jelas berpengaruh terhadap makna, symbol maupun nilai didalam masyarakat. Transformasi pertunjukan “burok prasasti” sendiri tidak dapat dipisahkan dari adanya pengaruh perubahan kehidupan social di masyarakat. Ogburn dalam Waluyo (2007) menerangkan, bahwa ruang lingkup perubahan social meliputi unsur-unsur kebudayaan material dan immaterial, yang ditentukan pada pengaruh besar unsur kebudayaan material terhadap unsur immaterial.  Secara spesifik transformasi bentuk pertunjukan “burok prasasti”, dengan menambahkan beberapa burok dalam penyajiannya, tentu saja memiliki makna tersendiri bagi masyarakat desa Bojongsari. Bagi masyarakat Desa Bojongsari secara umum, penambahan beberapan burok tidak semuanya dipahami maknanya. Adanya pemaknaan terhadap sejumlah penambahan burok, ternyata berkaitan erat dengan peran serta pengetahuan masyarakat terhadap masing-masing burok, sehingga secara khusus dapat dikategorikan kedalam burok sentral, burok pelengkap dan burok yang kurang dipahami maknanya. Atas dasar itu, penulis coba genderalisasikan beberapa burok dalam grup “burok prasasti” sebagaimana indikasi diatas: 1. Burok sentral terdiri dari (burok ayu,burok rahwana, burok peksi naga lima, burok pikul garuda, burok pikul sisingaan, dan burok macan), 2. Burok pelengkap terdiri dari,Burok humor:( Burok Badut, Kostum ketoprak humor dan Singa humor), dan 3. Burok yang kurang dipahami maknanya atau kurang familiar pada masyarakat; (barongsai).

Berdasarkan kutipan hasil pernyataan yang disampaikan oleh Kang Udin dalam wawancara dengan Indra Galih diketahui bahwa beberapa penambahan burok ada yang memiliki makna khusus bagi masyarakat desa Bojongsari atas dasar peran sentralnya seperti: burok rahwana, burok peksi naga lima, burok pikul garuda, burok pikul sisingaan, dan burok macan. Adapun secara spesifik makna dari masing-masing burok yang dipahami warga masyarakat desa Bojongsari, sebagai berikut: Burok Rahwana, dipahami memainkan peran antagonis lawan dari burok ayu.  Masyarakat desa Bojongsari pada umumnya menganggap, bahwa burok rahwana merepresentasikan karakter jahat, bengis, angkuh, angkara murka maupun hawa nafsu. Hal ini sebagaimana pemahaman masyarakat terhadap tari topeng Cirebon, yang meganggap alur ceritanya terinspirasi dari kisah Ramayana. Burok Peksi Naga Lima, masyarakat Bojongsari pada umumnya, percaya bahwa burok peksi dalam pertunjukan “burok prasasti” memiliki makna kekuatan atas kekuasaan. Burok Pikul Garuda, pemaknaan masyarakan desa Bojongsari terhadap burung garuda, hampir dapat dikatakan sama dengan pemaknaan masyarakat Indonesia secara luas, yakni berkaitan dengan lambang Negara. Secara lebih spesifik keberadaan burok pikul burung garuda dalam pertunjukan “burok prasasti” dimaknai  lambang Negara Indonesia, dimana didalamnya merepresentasikan makna filosofis yang luhur, seperti Pancasila dengan semboyannya Bhineka Tunggal Ika, sehingga sudah sepantasnya kita junjung tinggi. Visualisasi terkait dengan burok pikul burung garuda bermakna keberagaman cultur budaya, yang tidak lain merepresentasikan identitas ke- Indonesiaan.  Burok Pikul Sisingaan, dalam tradisi masyarakat desa Bojongsari diyakini sebagai perlambangan seorang prajurit, yang nantinya dipercaya akan menemani dan mengiringi hidup situan hajat kelak. Burok Macan, dijadikan sebagai simbol kekuatan nusantara (hewan local) untuk mengimbangi keberadaan barongsai sendiri yang diyakini sebagai symbol mitos dari China.

Sementara itu terkait dengan penambahan beberapa burok yang dalam perannya dimaksudkan, sebagai burok pelengkap lebih menekankan pada ekplorasi inovasi sekaligus kreatifitas dari seniman. Mengenai maksud dan tujuan dari proses pembuatan burok pelengkap ini, sudah penulis paparkan pada pembahasan terdahulu. Kang Udin menyampaikan bahwa ketiga burok humor ini dibuat dengan maksud untuk melengkapi pertunjukan “burok prasasti”, seperti halnya; 1. burok badut memang diorientasikan untuk kemeriahan penampilan yang secara khusus ditujukan bagi anak-anak.   kemeriahan pertunjukan. 2. Burok badut ketoprak humor, juga dibuat atas dasar pelengkap untuk memeriahkan pertunjukan, oleh karena itu sengaja visualisasi bentuk ini kita buat seakan kotra diksi (berwajah humor, pakaian kumel, dilengkapi dengan sebatang tongkat, untuk menguatkan karakter perannya sebagai pawang singa ketoprak humor). 3. Singa ketoprak humor sebagaimana burok-burok pelengkap yang lain, dibuat dengan motifasi yang sama yakni menambah kemeriahan pertunjukan. Hanya saja peran singa ketoprak humor memang didesain untuk memicu adreanalin penonton, sehingga pemain yang memerankan singa ketoprak humor ini memang kami pilih dari orang yang memang kocak dan jail. Dengan latar belakang sebagai pelengkap pertunjukan, dengan maksud memeriahkan pertunjukan “burok prasasti” maka bentuk visualisasi dari masing-masing burok dibuat secara absur (artimya tidak mengikuti bentuk formalnya). Begitu juga terkait dengan bahan pembuat beberapa burok humor sendiri, yang memang kami buat dengan dasar yang seadanya sehingga realtif mudah didapatkan. Berdasarkan hasil wawancara terkait dengan proses penciptaan burok humor, dan respon masyarakat (penonton) pada saat pertunjukan, diantara; burok badut, burok badut ketoprak humor dan singa ketoprak humor, memang tidak memiliki makna sekrusial burok-burok sentral.

Kategori burok yang ketiga dilihat dari pemaknaan masyarakat Desa Bojongsari adalah barongsai. Kendati penampilan barongsai menjadi salah satu andalan pemain dan penonton dalam pertunjukan “burok prasasti”, akan tetapi tidak mengimplisitkan makna yang cukup mendalam bagi masyarakat Desa. Bahkan keatraktifan perannya seperti sulap dan atraksi silat ,menjadi salah satu pilihan alternatif dari sipenanggap (tuan hajat). Artinya barongsai akan dilibatkan dalam pertunjukan “burok prasasti” apabila sipenanggap menghendaki pertunjukan secara komplit. Secara spesifik Indra Galih (2018) menuliskan, adanya tokoh barongsai ini bisa dibilang hanya sebagai pelengkap, karena tokoh barongsai sendiri masih terbilang asing bagi masyarakat Desa Bojongsari khususnya. Perlu digaris bawahi disini, makna keberadaan barongsai dalam grup “burok prasasti” bagi Kang Udin dan pemain khususnya, lebih ditekankan pada apresiasi keragaman budaya. Disisi lain pemanfaatan barongsai dalam pertunjukan “burok prasasti” lebih dilihat sebagai sikap keterbukaan para seniman Desa Bojongsari dalam menerima seni luar untuk dielaborasikan dengan seni yang ada.

  1. Simbolisme Arakan Dalam Pertunjukan Burok

Seni “burok prasasti” bagi masyarakat Desa Bojongsari pasti diyakini memiliki simbol-simbol didalam pertunjukannya, termasuk dalam hal ini pada saat arak-arakan berlangsung. Pertunjukan “burok prasasti” sebagai medium seni, pada gilirannya mendorong adanya peristiwa estetis antara sipenyaji dan penonton dalam mengemas sekaligus mengkomunikasikan pesan dan kesan didalamnya. Pesan dan kesan praktis pada saat pertunjukan “burok prasasti” berlangsung jelas ditangkap sebagai suatu keramaian, kemeriahan, sekaligus hiburan atas peristiwa estetis. Komunikasi estetis dalam pertunjukan secara khusus terjadi, dapat saja terjadi pada wilayah luas antara; penonton dengan penonton, penonton dengan pemain, penonton dengan keluarga penanggap atau sesama pemain, maupun pemain dengan keluarga penanggap. Interaksi yang terjalin menjadikan pembauran yang harmonis, dimana melibatkan hubungan emosional, suka cita, dan kegembiran yang terbungkus dalam kebersamaan. Semua elemen masyarakat  menyatu bertukar pengalaman, bercengkrama, menari bersama dalam rajutan identitas bersama menguatkan rasa kekitaan.

Bagi penonton yang notabene masyarakat desa Bojongsari, eksistensi pertunjukan arakanburok prasasti” menjadi simbol kebersamaan, simbol peneguh identitas, sekaligus simbol apresiasi terhadap keberadaan seni tradisi yang dimilikinya. Sementara itu prosesi arakanburok prasasti” bagi sipenanggap (orangtua), dimaksudkan sebagai suatu bujukan agar anaknya mau  dikhitan. Adapun diaraknya khitan bujang anyar (anak sunat) keliling kampung dengan menaiki burok ayu, dipercaya menjadi semacam simbol komunikasi dengan Alloh SWT. Lain pada itu pertunjukan arakan “burok prasasti” sendiri bagi pemain, dijadikan sebagai simbol eksplorasi dan ekpresi estetis. Selain sebagai wadah pengungkapan perasaan estetis dan ungkapan emosional, pertunjukan arakan sendiri dijadikan sebagai media sosialisasi sekaligus promosi grup. Maksud sosialisasi dan promosi grup “burok prasasti” bukan karena tidak terkenalnya grup, melainkan untuk menampilkan bentuk-bentuk kebaruan dalam penyajiannya, seperti halnya adanya penambahan tokoh, maupun peambahan burok-burok baru.  Secara tidak langsung prosesi pertunjukan arakanburok prasasti” bagi seniman, selain dijadikan sebagai sarana pelestarian sekaligus sebagai proses pewarisan.

  1. Nilai-nilai Dalam Pertunjukan Burok

Dengan sangat sederhana dapat dikatakan bahwa nilai adalah sesuatu yang berkenaan dengan baik dan buruk, sementara norma bersentuhan langsung dengan benar dan salah. Theodore dalam Sabrani (2012) menyatakan, bahwa nilai merupakan suatu entitas yang abstrak, dijadikan sebagai pedoman sekaligus prinsip-prinsip umum dalam bertindak dan bertingkah laku. Keterikatan orang atau kelompok terhadap nilai ini, relatif sangat kuat dan bahkan bersifat emosional. Sehingga nilai dianggap sebagai pedoman untuk menuntun kecerdasan emosional, betindak, sekaligus sebagai tujuan kehidupan manusia. Dalam kaitan “burok prasasti” sebagai seni tradisi yang dipahami, dihayati dan diinsyafi secara bersama-sama oleh masyarakat Desa Bojongsari, tentu saja memiliki nilai-nilai krusial  yang sangat khas. Adapun secara terperinci, sekurang-kurangnya nilai yang terkandung dalam pertunjukan “burok prasasti”, penulis paparkan sebagai berikut:

  • Nilai Budaya

Bila dilihat dari sejarahnya, bentuk pertunjukan awal seni burok di Desa Bojongsari, jelas melegesikan suatu proses percampuran budaya Jawa, budaya Sunda, dan Islam. Meskipun pada hakikatnya apabila diselami secara lebih dalam, terkait dengan komposisi awal burok di Desa Bojongsari ini bermuara pada satu budaya pokok yakni Islam. Dalam pemahaman tradisi masyarakat Cirebon sendiri mengakui bahwa, representasi bentuk burok terilhami dari kisah Isra mi,raj. Kendati seni burok yang hidup dan berkembang di daerah Cirebon, disinyalir terpengaruh dari kisah Ramayan melalui penggambaran burok ayu dan Rahwana. Faktanya eksistensi seni burok maupun tari topeng di daerah Cirebon,dijadikan sebagai salah satu media dakwah persebaran agama Islam. Sementara itu instrument music genjring dan ketipung dalam sholawat, sebagai iringan burok sendiri berasal dari budaya Islam. Terkait hal dengan ini Ita Faoziah (2019) menerangkan, seiring perkembangan zaman dan mulai masuknya ajaran agama Islam kemudian mucul kesenian baru terbang genjring, dengan syair berzanji yang berisikan sholawat Nabi Muhammad SAW. Sejalan dengan kelahiran dan perkembangan seni yang kian eksis, seni-seni yang hidup pada suatu daerah menjadi tradisi yang dipahami, dihayati dan diinsyafi sebagai salah satu warisan budayanya. Proses pewarisan yang dilakukan secara sinambung dari generasi ke generasi, semakin mendelegasikan bahwa seni yang hidup dan berkembang di daerahnya menjelma sebagai identitas. Oleh karena itu, terkait dengan kelahiran burok di Desa Bojongsari yang dibawa Kyai Abdul Razak mengejawantahkan proses akulturasi budaya Jawa, Sunda dan Islam.

Dalam perkembangannya eksistensi “burok prasasti” sebagai suatu seni tradisi di Desa Bojongsari, dewasa ini tidak terlepas dari proses akulturasi budaya yang kian komplek. Tingkat kompleksifitas akuturasi budaya tercemin dari komposisi bentuk pertunjukan, seperti penambahan tokoh, burok, instrument music, music iringan, kostum, bahkan tema di dalam pertunjukannya. Secara terperinci akulturasi budaya kompleks ini dijelaskan, melalui kutipan wawancara Kang Udin dengan Indra Galih, sebagai berikut:

“Garis besarnya perpaduan budaya dalam pertunjukan “burok prasasti” terdiri dari budaya Jawa, Sunda, Islam, dan China. Proses percampuran dalam konteks “burok prasasti” dapat diterangkan secara singkat misalnya; a. Budaya Jawa (terletak pada genjring, ketipung, dan sholawat). b. Budaya Sunda (bandawang burok ayu  yang digunakan pertama kali oleh Kyai Abdul Razak memang berasal dari Sunda, tepatnya daerah Cirebon). c. Budaya Islam (sejatinya genjring, sholawat, dan penggambaran burok ayu yang merepresentasikan peristiwa Isra mi,raj tidak dapat dipungkiri terpengaruh dari tradisi Islam),  d. Budaya China atau Thionghua (tercermin pada penambahan barongsai, dimana memang seni ini berasal dari sana). Apabila kita perinci lagi, dapat dikatakan bahwa “burok prasasti” dalam hal penambahan tokoh, burok, maupun music mengadopsi budaya India, dan Malaysia. Budaya India dapat kita terangkan dari unsure musiknya, dimana dangdut tarling yang berkembang di daerah Cirebon misalnya, tidak dapat dipungkiri memiliki akar rumpun dari budaya India, sementara dari Malasyia terletak pada penembahan burok humor yang menyerupai wajah kartun upin-ipin. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa akulturasi budaya pada seni “burok prasasti” di Desa Bojongsari, Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes ini memang sangat komplek”.

Selain menunjukan adanya akulturasi budaya, proses penyajian pertunjukan pada “burok prasasti” memperlihatkan adanya sinkretisme, terutama pada prosesi ruwatan (saat pelemparan bantal keatas genteng rumah tuan hajat). Dimana ending pertunjukan “burok prasasti” dilokasi hajat, ditutup dengan penampilan burok ayu dan burok rahwana, dengan disertai prosesi simbolisme pelemparan bantal keatap tuan hajat, dimaksudkan sebagai tolak bala membuang segala bentuk kesialan hidup. Dengan adanya prosesi ruwatan, penulis menyimpulkan bahwa pertunjukan “burok prasasti” termasuk pada kebudayaan sinkretisme dalam proses akulturasi, dimana adanya perpaduan budaya-budaya lama (mondial), bercampur dengan kompleksitas budaya yang baru seperti; budaya Jawa, Sunda, Islam, China, India, bahkan Malaysia.

  • Nilai Sosial

Nilai-nilai social yang terkandung dalam “burok prasasti” pada dasarnya terletak pada proses latihan, pra pertunjukan, pertunjukan, dan pertunjukan arakan. Pada saat latihan dan pra pertunjukan mengimplementasikan nilai kebersamaan yang tinggi sesama anggota grup “burok prasasti”. Kelancaran, kematangan sekaligus keberhasilan pertunjukan sendiri tidak terlepas dari adanya rasa kebersamaan, rasa saling memiliki dan rasa persaudaraan diantara pemain. Nilai social ini juga secara tidak langsung, dihasilkan dari adanya kreatifitas seniman dalam mengaktualisasikan karya sehingga terungkap fenomena estetis yang bisa dikomunikasikan dengan penonton. Ungkapan kegembiraan, penghayatan, persentuhan keakraban dan interaksi langsung dalam pertunjukan “burok prasasti” sendiri, pada lain sisi dapat merefleksikan sikap apresiasi yang dalam, oleh penonton, situan hajat yang notabene masyarakat Desa Bojongsari. Lain pada itu nilai social tercermin dari adanya keterikantan keberhasilan prestasi seniman dengan prestige sipenanggap (tuan hajat), apabila pertunjukan dalam prosesi khitan anaknya berlangsung cukup meriah. Kang Udin menyampaikan secara khusus, penggunaan pertunjukan “burok prasasti” pada prosesi khitanan, maupun kaulan anak selain wujud ungkapan rasa syukur, sekaligus menaikan status social tuan hajat. Prestige yang dibangun oleh seni burok berhubungan dengan kondisi ekonomi konsumennya, karena penyelenggaraan “burok prasasti” biasanya berkaitan dengan acara hajat yang besar, yang tentu saja dibutuhkan anggara dana yang besar pula. Oleh karenanya masyarakat yang berhasil mempertunjukan “burok prasasti” dalam prosesi hajatnya, akan memperoleh predikat orang mampu yag distigmakan sebagai kalangan masyarakat menengah keatas. Dilain sisi kepuasan bati dan rasa bangga dirasakan oleh orangtua ketika melihat anaknya mampu menaiki burok, diarak keliling kampung dan dilihat orang banyak.

  • Nilai Religi

Keberadaan “burok prasasti” bagi masyarakat Desa Bojongsari memiliki nilai-nilai yang cukup sakral. Hal ini dapat ditilik dari beberapa pandangan umum maupun khusus yang melatar belakangi peristiwa-peristiwa religious seperti; 1. makna dari burok ayu sendiri yang menggambarkan peristiwa Isra mir,raj, 2. Fungsi praktis pertunjukan burok identik dengan prosesi khitanan. Pertama, bagi masyarakat desa Bojongsari pertunjukan “burok prasasti” tidak hanya menjadi media hiburan semata, tetapi bertalian dengan kendaraan Nabi Muhammad SAW. Pada umumnya masyarakat desa meyakini bahwa kendaran burok mengimpilistkan nilai filosofis yang religious, karena menjadi kendaraan seorang sosok manusia terpilih dalam menjalani prosesi pencerahan langsung dari Alloh. Nilai-nilai yang terkandung dalam prosesi pencerahan itu, diyakini warga sebagai mekanisme pencerahan hidup sekaligus pembersihan hati. Peristiwa Isra mi,raj dipahami juga oleh masyarakat memiliki keterikatan, atas perintah Alloh SWT kepada Nabi Muhammad SAW untuk menunaikan kewajiban seperti; sholat wajib lima waktu, puasa serta zakat. Selain itu masyarakat muslim percaya bahwa Nabi Muhammad SAW sebagai satu-satunya teladan yang baik untuk dijadikan contoh. Oleh karena itu mempertunjukan dan menunggani “burok ayu” bagi orangtua, bertujuan sebagai pengharapan agar anaknya kelak dapat meneladani Nabi Muhammad SAW, serta taat menjalankan ibadah sesuai syariat Islam. Sementara tujuan dari bujang sunat (anak sunat) pada saat menunggangi burok ayu, dimaksudkan agar nantinya tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik dimasa depan.

Kedua, pertunjukan “burok prasasti” dalam tradisi masyarakat Desa Bojongsari selalu identik dengan prosesi khitanan. Nilai religious burok prasasti sendiri tercermin dari fungsi dan perannya pada upacara khitanan, karena kita tahu bahwa prosesi ini menjadi salah satu perintah wajib dalam agama Islam. Pandangan masyarakat secara umum memahami ritual khitan sebagai suatu frase didalam kehidupan manusia (laki-laki), dimana proses peralihan dari frase anak-anak menuju pada frase kehidupan dewasa. Tradisi masyarakat Desa Bojongsari menganggap bahwa upacara pernikahan maupun khitanan sebagai siklus kehidupan yang secara kodrati dilalui oleh manusia. Oleh karenanya ekpresi yang dibangun dalam pertunjukan “burok prasasti” sendiri khusunya dalam ritual khitanan, mengejawantahkan proses komunikasi transenden (doa) antara mahluk dengan penciptaNya.  Disisi lain penggambaran keanekaragaman tokoh, dan sejumlah burok dalam pertunjukan “burok prasasti” bagi masyarakat, merepresentasikan keragaman kosmologi yang mengimplisitkan mekanisme keseimbangan bumi dan langit, mahluk dan penciptaNya. Berdasarkan uraian terkait dengan pemikiran filsafat proses Whitehead dalam karya seni, “burok prasasti” sebagai suatu seni tradisi yang berada di Desa Bojongsari, Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes, menjadi legitim mengingat proses transformasi diimbangi dengan adanya appropriasi tradisi.

 

Penulis:
Nandhy Prasetyo

Dosen Pendidikan Seni Universitas Peradaban Brebes

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.