Mantan Polisi Pembakar Kekasih Diputus Majelis Hakim 20 Tahun Penjara, JPU Hukuman Itu Tak Sebanding

Sidang terdakwa Adriansyah.

Laporan: Endang Saputra

Muaraenim, sumselupdate.com – Oknum Mantan Polisi Lahat Pembakar Pacar di Muaraenim akhirnya diputus hukuman 20 tahun kurungan penjara oleh Pengadilan Negeri Muaraenim. Hal ini berbanding terbalik dengan tuntutan yang disampaikan oleh Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Muaraenim yang menuntut terdakwa Adriansyah dengan hukuman seumur hidup.

Read More

Kepala Kejaksaan Negerj (Kajari) Muaraenim M Alex Akbar melalui Kasi Intel Kejari Muaraenim M Ridho Saputra didampingi JPU  Sriyani seusai mengikuti sidang lanjutan dalam agenda putusan terhadap mantan oknum polisi pembakar pacarnya di Muara Enim tahun lalu hingga mengakibatkan korban bernama Nengsih Maelina meninggal dunia setelah dirawat di RSUD HM Rabain Muaraenim menegaskan bahwa mereka akan mengambil langkah hukum betikutnya atas putusan majelis hakim Pengadilan Negeri Muaraenim.

“Kami tadinya pikir-pikir atas keputusan hakim yang memutus hukuman 20 tahun penjara terhadap terdakwa. Namun, setelah kita melihat fakta-fakta yang ada dan kebetulan terdakwa melakukan banding. Maka, kita juga akan melakukan banding karena putusan tersebut tidaklah sesuai atas perbuatan terdakwa,” ungkapnya, Selasa (13/9/2022) pada awak media.

Dijelaskan Ridho, adapun dalam putusan tersebut dimana terdakwa telah melanggar pasal sebagai mana telah melakukan perbuatan dalam pasal pertama primair yaitu pasal 340 KUHP subsidair pasal 338 KUHP atau kedua primair pasal 355 ayat (2) KUHP subsidair pasal 354 ayat (2) KUHP.

“Tuntutan yang dibacakan tadi, merupakan sebagaimana dengan fakta persidangan yang terungkap dilaporkan secara berjenjang. Dimana terdakwa, telah terbukti melanggar pasal 340 KUHP dan ini kita sepakat dengan majelis hakim. Namun, terkait putusan kurungan 20 tahun penjara kami menilai tidak sesuai dengan perbuatan terdakwa oleh karena itu kita menuntut hukuman terhadap terdakwa ialah penjara selama seumur hidup,” tegasnya.

Lebih lanjut, Ridho menerangkan dalam fakta persidangan juga  terungkap perkara tersebut, bermula dari terdakwa saat menjalin hubungan kepada korban Almarhum Nengsi Maelina.

“Fakta terungkap perkara tersebut terjadi berawal dari terdakwa menjalin hubungan asmara dengan korban. Namun, dikarenakan korban berusaha menghindari terdakwa, pada tanggal 10 Maret  2022. Dimana terdakwa yang tidak terima ditinggalkan oleh korban, lalu menghampiri korban di rumah kontrakannya dengan sengaja membawa 1 botol aqua  berisikan bensin 1,5 liter dan korek api gas yang telah disiapkan untuk mencederai korban,” ujarnya.

Ditambahkan, Ridho dimana terdakwa masuk ke kamar korban dan menyirami korban dengan bensin lalu menyalakan korek api dilantai yang basah lantaran tumpahan bensin hingga membakar kamar kontrakan korban kemudian menyambar ke tubuh korban.

“Dan dari kejadian tersebut, korban mengalami luka bakar sebesar 68,5 persen sempat dilarikan ke rumah sakit. Namun kemudian korban meninggal dunia dalam perawatan pada tanggal 26 Maret 2022 ,” bebernya.

Sementara itu kuasa Hukum terdakwa Heru Pujo Handoko mengatakan sangat keberatan dengan adanya tuntutan yang di berikan oleh Tim JPU Muaraenim kepada kliennya. Menurutnya, dalam tuntutan tersebut sangat berat lantaran dinilai banyak hal-hal baik yang tidak juga di pertimbangkan oleh Tim JPU Muaraenim.

“Kami sangat keberatan atas putusan yang di berikan oleh JPU kepada klien kami, karena banyak hal-hal baik yang di lalukan klien kami kepada korban semasa hidup yang tidak di pertimbangkan oleh JPU. Dari itu, demi rasa keadilan yang sama kami akan akan lakukan banding,” tuturnya pada awak media.

Sementara itu, Ibu korban Almarhum Nengsih Maelina menguraikan kekecewaannya atas putusan hakim.

“Saya tidak terima atas keputusan ini. Kami sudah kehilangan putri kami. Dia tidak bisa kembali lagi. Saya sudah susah payah membesarkannya malah dibunuh. Saya minta dia (red, terdakwa) dihukum mati paling tidak seumur hidup,”pungkasnya berurai air mata.

Dalam pantauan sidang agenda tuntutan tersebut JPU dari Kejaksaan Negeri Muaraenim dihadiri oleh Sriyani dengan majelis hakim terdiri Hakim Ketua Shelly Noveriyati S,  dan hakim anggota Sera Ricky Swanri S serta Titis Ayu Wulandari, sedangkan kuasa Hukum terdakwa Heru Pujo Handoko. (**)

Yuk bagikan berita ini...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.