Palembang, sumselupdate.com – Di masa Republik Indonesia, Lomba Bidar atau menurut sebutan lokal dikenal dengan kenceran, menjadi tradisi untuk memperingati hari kemrdekaan dalam setiap tanggal 17 Agustus.
Perlombaan Bidar pada tahun 90-an ke bawah sangat menarik perhatian masyarakat. Mereka sanggup berjejal-jejal dan berpanas-panas hanya untuk menyaksikan lomba bidar di tepian Sungai Musi, sekitara depan Benteng Kuto Besak.
Berdasarkan cerita rakyat Lomba Perahu Bidar diawali oleh perlombaan bidar antara dua pangeran Palembang dengan seorang pemuda dari uluan. Pertandingan bidar ini dipicu oleh perebutan seorang gadis bernama Dayang Merindu.
Di akhir pertandingan, kedua pemuda tewas karena sama-sama kelelahan. Sementara sang puteri Dayang Merindu dikisahkan bunuh diri, karena tidak sanggup menahan kesedihan.
Mengutip buku Sumatera Selatan Memasuki Era Pembangunan susunan Departemen Penerangan RI (1993), lomba bidar dilaksanakan dengan cara mendayung perahu secara cepat. Seni dayung yang berasal dari Palembang ini sudah ada sejak zaman dahulu dan masih dilestarikan hingga sekarang.
Biasanya, lomba bidar dilaksanakan di Sungai Musi. Jika dahulu bidar hanya muat untuk satu orang, kini desainnya dibuat lebih besar, sehingga muat untuk puluhan orang.
Pada zaman dahulu, bidar digunakan oleh kurir untuk mengantarkan paket atau barang tertentu. Untuk mengetahui sejarah dan tradisinya, simaklah penjelasannya berikut ini.
Legenda Bidar di Palembang
Secara bahasa, bidar merupakan singkatan dari biduk lancar. Konon lomba ini diadakan pada zaman Putri Dayang Merindu, gadis cantik yang tinggal di bagian hulu kota Palembang pada ratusan tahun silam.
Putri Dayung Merindu berasal dari keluarga kaya raya. Ia mempunyai anak laki-laki bernama Dewa Jaya dan seorang kekasih bernama Kemala Negara.
Suatu hari, diadakan perlombaan bidar di lingkungan tempat tinggal Putri Dayung Merindu.
Ada dua pemuda yang ikut dalam perlombaan tersebut, yakni Dewa Jaya yang merupakan putranya dan Kemala Negara yang merupakan kekasihnya.
Perlombaan bidar diadakan untuk membuktikan rasa cinta kedua pemuda kepada Putri Dayung. Namun sayang, perlombaan berakhir tragis. Keduanya justru meninggal dunia usai menyelesaikan kompetisi bidar.
Putri Dayung Merindu harus kehilangan dua orang yang sangat dicintainya.
Tepat di depan jenazah Dewa Jaya dan Kemala Negara, ia berkata:
“Saya dan Kemala Negara saling mencinta. Akan tetapi, saya tahu Dewa Jaya juga sangat mencintai saya. Cintanya direstui oleh orang tua saya. Sekarang keduanya sudah menjadi mayat. Keduanya bertarung untuk memperebutkan saya. Saya ingin berlaku adil terhadap keduanya. Mohon agar Datuk belah menjadi dua tubuh saya ini. Yang sebelah mohon dikuburkan bersama Kemala Negara dan yang sebelah lagi dikuburkan bersama Dewa Jaya.”
Tak lama setelah mengucapkan kalimat tersebut, Putri Dayung Merindu pun menancapkan pisau di dadanya. Pisau yang sudah diolesi racun sebelumnya itu membuat ia meregang nyawa.
Seluruh penduduk pun menghormati sikap Dayung Merindu yang berlaku adil kepada kedua pemuda tadi. Akhirnya, mereka pun menjadikan perlombaan bidar sebagai tradisi yang harus diadakan setiap tahun. (**)











