Lebaran di Istanbul 2026 Beda dari Indonesia, Tanpa Takbir Keliling tapi Penuh Makna

Writer: - Minggu, 22 Maret 2026
Diaspora Indonesia berfoto bersama usai shalat Idulfitri di pelataran Hagia Sophia sebagai bentuk kebersamaan di perantauan. (Foto; Sumselupdate.com/Istimewa)

Istanbul, Sumselupdate.com – Perayaan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah di Istanbul tahun ini jatuh pada 20 Maret 2026. Lebaran berlangsung di penghujung musim dingin, dengan suhu udara yang masih dingin serta cuaca yang kerap disertai hujan dan angin, menghadirkan suasana yang tenang dan khusyuk.

Berbeda dengan Indonesia yang identik dengan gema takbir dan tradisi silaturahmi dari rumah ke rumah, suasana Lebaran di Istanbul cenderung lebih sederhana dan berlangsung layaknya hari libur biasa. Aktivitas kota tidak sepenuhnya berhenti, di mana sejumlah toko, kafe, dan pusat perbelanjaan tetap beroperasi, sementara perkantoran pemerintahan diliburkan.

Read More

Dalam keseharian masyarakat Turki, Idulfitri yang dikenal sebagai Şeker Bayramı lebih dimaknai sebagai perayaan keluarga. Tradisi yang umum dilakukan adalah shalat Idulfitri di pagi hari, dilanjutkan dengan kunjungan ke keluarga atau kerabat, serta berbagi hidangan manis seperti permen dan Turkish delight.

Di tengah suasana tersebut, diaspora Indonesia di Istanbul berupaya menjaga semangat Lebaran. Sejak pagi, mahasiswa dan masyarakat Indonesia melaksanakan shalat Idulfitri di masjid terdekat. Sebagian lainnya menuju Hagia Sophia yang menjadi salah satu pusat pelaksanaan shalat Id dan menarik jamaah dari berbagai kalangan.

Usai shalat, kawasan pelataran Hagia Sophia menjadi titik temu diaspora. Mereka saling menyapa, bersalaman, dan mengabadikan momen kebersamaan. Silaturahmi kemudian berlanjut melalui kegiatan open house yang diselenggarakan oleh KJRI Istanbul.

Diaspora Indonesia berfoto bersama usai shalat Idulfitri di pelataran Hagia Sophia sebagai bentuk kebersamaan di perantauan. (Foto; Sumselupdate.com/Istimewa)

Kegiatan tersebut menjadi ruang berkumpul bagi warga Indonesia dari berbagai latar belakang. Tradisi khas seperti bermaaf-maafan dan menikmati hidangan seperti lontong sayur turut menghadirkan nuansa Lebaran ala Indonesia di tengah kota Istanbul.

Selain itu, kehangatan juga terjalin melalui berbagai inisiatif sederhana, seperti undangan makan bersama dan saling berbagi hidangan. Bagi diaspora, momen ini menjadi cara untuk mengobati rindu terhadap keluarga di tanah air.

Mahasiswa Indonesia di Istanbul, Haritsah Mujahid, mengungkapkan bahwa Lebaran di perantauan memiliki makna tersendiri.

“Rasa rindu kepada keluarga tentu ada. Namun di sini, kami belajar untuk saling menguatkan. Lebaran bukan tentang keramaian, melainkan tentang kebersamaan yang tetap terjaga,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua PPI Istanbul, Abdullah Azzam Rahman, menegaskan pentingnya peran komunitas dalam menjaga kebersamaan.

“Kami berupaya memastikan mahasiswa Indonesia tetap memiliki ruang untuk merasakan kebersamaan, khususnya di momen Lebaran,” katanya.

Lebaran di Istanbul mungkin tidak semeriah di Indonesia, namun nilai kebersamaan, silaturahmi, dan rasa syukur tetap terjaga. Di tengah keterbatasan jarak, perayaan di perantauan justru menghadirkan makna yang lebih mendalam tentang arti kebersamaan.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts