Kumpulan Puisi Karya Armen Setiaji Untung

Writer: - Minggu, 11 Mei 2025
Ilustrasi puisi. (Meta AI)

GELAS KACA

Pagi berdetak dari saku
saku bolong dari mimpi
mimpi bocor dari utang
utang mengalir ke warteg
di warteg aku duduk
duduk di kursi yang sudah pasrah.

Aku pesan:
“gaji satu”
tapi datang:
air putih.

Read More

Gelas kaca
menyimpan wajahku
yang bulat dan gepeng.

Di dasar gelas
kupeluk angka
yang tak naik-naik
seperti doa yang tertahan
di kerongkongan langit.

2025

 

TITIK-TITIK DI ATAS PETA

Kami hanya titik-titik kecil
di atas peta birokrasi,
dicetak ulang setiap lima tahun
dengan warna yang tak pernah benar.

2025

 

PAHLAWAN TANPA NAMA

Dia tak memakai jubah
hanya dasi miring
dan sepatu kedodoran.

Berperang tiap pagi
melawan harga sayur di pasar.

Anaknya tak tahu
ayahnya menaklukkan inflasi
dengan nasi dan kecap
yang dibagi lima.

2025

 

LARI DARI KETERTIBAN

Aku ingin lari
dari lampu merah yang terlalu taat,
dari jam dinding yang selalu benar
dan dari kalender yang tak pernah absen.

Tapi sepatu ini
dibeli dengan gaji
yang datang
lewat baris antre
di akhir bulan.

2025

 

 

Biodata Penulis

Armen Setiaji Untung

Lahir di Jakarta 05-September-1980.

Buku antologi pertama berjudul Ziarah Kenang terbit tahun (2019).
Beberapa karya termuat di media, seperti Kompas, jernih.co, Litera, Kawaca, Majalah Elipsis, Pikiran Rakyat, Potret Online, Seputar Hukum dll.

Dan juga tergabung dalam buku bersama, seperti Tifa Nusantara 3 (2016), Monolog Di Penjara (2018), Bulu Waktu (Sastra Reboan, 2018), Jugijagijug (Redaksi Meja Tamu, 2018).

Puisinya yang berjudul “Palung Ingatan” juga terpilih menjadi salah satu Nomine Penghargaan Sastra Litera 2018.

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts