GELAS KACA
Pagi berdetak dari saku
saku bolong dari mimpi
mimpi bocor dari utang
utang mengalir ke warteg
di warteg aku duduk
duduk di kursi yang sudah pasrah.
Aku pesan:
“gaji satu”
tapi datang:
air putih.
Gelas kaca
menyimpan wajahku
yang bulat dan gepeng.
Di dasar gelas
kupeluk angka
yang tak naik-naik
seperti doa yang tertahan
di kerongkongan langit.
2025
TITIK-TITIK DI ATAS PETA
Kami hanya titik-titik kecil
di atas peta birokrasi,
dicetak ulang setiap lima tahun
dengan warna yang tak pernah benar.
2025
PAHLAWAN TANPA NAMA
Dia tak memakai jubah
hanya dasi miring
dan sepatu kedodoran.
Berperang tiap pagi
melawan harga sayur di pasar.
Anaknya tak tahu
ayahnya menaklukkan inflasi
dengan nasi dan kecap
yang dibagi lima.
2025
LARI DARI KETERTIBAN
Aku ingin lari
dari lampu merah yang terlalu taat,
dari jam dinding yang selalu benar
dan dari kalender yang tak pernah absen.
Tapi sepatu ini
dibeli dengan gaji
yang datang
lewat baris antre
di akhir bulan.
2025
Biodata Penulis

Armen Setiaji Untung
Lahir di Jakarta 05-September-1980.
Buku antologi pertama berjudul Ziarah Kenang terbit tahun (2019).
Beberapa karya termuat di media, seperti Kompas, jernih.co, Litera, Kawaca, Majalah Elipsis, Pikiran Rakyat, Potret Online, Seputar Hukum dll.
Dan juga tergabung dalam buku bersama, seperti Tifa Nusantara 3 (2016), Monolog Di Penjara (2018), Bulu Waktu (Sastra Reboan, 2018), Jugijagijug (Redaksi Meja Tamu, 2018).
Puisinya yang berjudul “Palung Ingatan” juga terpilih menjadi salah satu Nomine Penghargaan Sastra Litera 2018.











