Alarm Baru Perubahan Iklim, Es Antarktika Menyusut Lebih dari 4 Cm per Hari

Writer: - Kamis, 11 Juni 2026
Penguin terlihat dengan latar belakang kapal pesiar di Antarktika pada 14 Desember 2025. (Xinhua/Yang Shu)

Melbourne, Sumselupdate.com – Sebuah penelitian terbaru yang dipimpin ilmuwan Australia mengungkap penyebab baru di balik semakin cepatnya pencairan es laut di Antarktika saat musim panas.

Selain pemanasan global, kombinasi ombak laut, banjir permukaan, dan pertumbuhan alga disebut menjadi faktor utama yang mempercepat penyusutan lapisan es.

Read More

Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah The Cryosphere pada Selasa (9/6/2026) dan dipimpin oleh peneliti Rob Massom dari Australian Antarctic Division.

Dalam penelitian itu dijelaskan bahwa gelombang laut yang memasuki wilayah yang tertutup es tidak hanya memecah bongkahan es menjadi bagian-bagian kecil. Ombak juga mengikis lapisan salju putih yang selama ini berfungsi sebagai pelindung alami es dari paparan sinar matahari.

Ketika lapisan salju tersebut hilang, permukaan es menjadi lebih rentan terhadap pemanasan. Air laut kemudian membanjiri permukaan dan membentuk genangan atau ‘kolam ombak’ yang mampu menyerap lebih banyak energi panas matahari.

Kondisi tersebut membuat proses pencairan es berlangsung lebih cepat dari bagian atas permukaan. Situasi semakin diperparah oleh pertumbuhan alga yang berkembang di area tanpa salju dan pada genangan air tersebut.

Alga yang tumbuh di permukaan es mengubah warna es menjadi kehijauan dan lebih gelap. Akibatnya, permukaan es menyerap lebih banyak panas matahari dibandingkan es yang masih tertutup salju putih.

Tim peneliti menyebut proses yang dipicu oleh ombak tersebut sebagai “bagian yang hilang” dalam upaya memahami penyebab meningkatnya pencairan es laut Antarktika selama musim panas.

Dalam ringkasan penelitian yang dipublikasikan melalui The Conversation, para ilmuwan memperkirakan bahwa banjir permukaan, genangan air, dan proses penghancuran lapisan es akibat ombak dapat meningkatkan laju penipisan es lebih dari 4 sentimeter per hari.

Sementara itu, pertumbuhan alga diperkirakan menambah laju pencairan sekitar 1 sentimeter per hari. Kombinasi kedua faktor tersebut menjadikan pencairan es berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan yang selama ini diperkirakan.

“Kami mengemukakan bahwa umpan balik positif ini diperkuat oleh penghijauan alga yang semakin menggelapkan es, memicu penyerapan sinar matahari lebih lanjut dan pencairan,” tulis para peneliti dalam laporannya.

Penelitian juga menggambarkan bahwa es laut Antarktika dapat berubah menjadi hamparan bongkahan es yang rapuh atau bahkan menyerupai lumpur es berwarna kehijauan ketika terus berinteraksi dengan ombak di Samudra Selatan.

Wilayah tersebut dikenal sebagai salah satu kawasan dengan aktivitas badai paling tinggi di dunia, sehingga sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim.

Para ilmuwan memperingatkan bahwa peningkatan intensitas angin dan gelombang laut akibat perubahan iklim berpotensi memperkuat proses pencairan tersebut.

Jika tren ini terus berlanjut, dampaknya tidak hanya dirasakan di kawasan kutub, tetapi juga dapat memengaruhi iklim global, kenaikan permukaan laut, serta keseimbangan ekosistem laut dunia.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts