Palembang, Sumselupdate.com – Kualitas udara di Kota Palembang, Sumatera Selatan, kembali memburuk akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 di Stasiun Musi 2 Palembang tercatat mencapai 200,9 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada Jumat (28/8/2026) pukul 11.00 WIB.
Angka tersebut menempatkan kualitas udara dalam kategori sangat tidak sehat atau level merah. Kondisi ini berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel Wandayantolis mengatakan, memburuknya kualitas udara Palembang masih berkaitan dengan kabut asap dari karhutla yang terjadi di wilayah Sumatera Selatan.
“Asap ini masih dari sumber yang sama, karhutla di wilayah Ogan Komering Ilir (OKI) dan sekitarnya. Asap dari wilayah yang terbakar terbawa angin hingga masuk ke Kota Palembang, jika melihat dari peta BMKG,” ujar Wandayantolis, Jumat (28/8/2026).
Berdasarkan hasil pemantauan, konsentrasi PM2.5 di Stasiun Musi 2 mencapai 200,9 µg/m³ pada pukul 11.00 WIB.
Wandayantolis mengatakan kondisi kualitas udara bersifat fluktuatif. Meski demikian, kategori tidak sehat masih mendominasi kondisi udara Palembang pada hari tersebut.
“Kondisi ini berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat,” katanya.
Menurutnya, arah dan pergerakan angin menjadi salah satu faktor yang memengaruhi penyebaran asap dari lokasi karhutla menuju wilayah perkotaan Palembang.
Asap dari wilayah yang terbakar dapat terbawa angin dan masuk ke kawasan Palembang sehingga menyebabkan konsentrasi partikulat di udara meningkat.
Kondisi serupa juga terjadi dalam beberapa hari terakhir. Kualitas udara di Palembang bahkan sempat berada pada kategori berbahaya dalam periode tertentu.
Selain langit yang terlihat berkabut, bau asap juga tercium di sejumlah kawasan.
Asap Ganggu Aktivitas di Jalan Tol
Kabut asap yang semakin pekat juga dilaporkan mengganggu aktivitas masyarakat di sejumlah ruas jalan.
Kondisi tersebut salah satunya terjadi di ruas Tol Kayu Agung-Palembang dan Tol Palembang-Indralaya (Palindra). Kepulan asap menyebabkan jarak pandang pengendara berkurang sehingga pengguna jalan perlu meningkatkan kewaspadaan.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak hanya dirasakan masyarakat yang berada di sekitar lokasi kebakaran, tetapi juga dapat meluas ke wilayah perkotaan akibat pergerakan asap.
BMKG mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan ketika kualitas udara memburuk.
Masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki sensitivitas terhadap gangguan pernapasan, disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara tidak sehat.
“Penggunaan masker juga dianjurkan ketika harus beraktivitas di luar rumah, terlebih apabila kondisi udara terlihat berasap,” ujar Wandayantolis.
Masyarakat juga diminta memantau perkembangan kualitas udara dan menyesuaikan aktivitas di luar ruangan dengan kondisi terkini.
Jika mengalami keluhan seperti batuk, sesak napas, iritasi mata atau gangguan pernapasan lainnya setelah terpapar asap, masyarakat diimbau segera mengurangi paparan dan mendapatkan pertolongan medis apabila keluhan berlanjut.
(**)











