KPMS Sumsel: Teror terhadap Tempo, Ancaman Serius bagi Kebebasan Pers di Indonesia!

Writer: - Jumat, 28 Maret 2025
Diskusi terbatas bertajuk Mencatat Nasib Pers Indonesia Pasca Kepala Babi dan Tikus di Tempo. (Sumselupdate.com/ Ist)

Palembang, Sumselupdate.com – Teror terhadap Majalah Tempo—berupa paket kepala babi, bunga mawar, dan enam bangkai tikus—menjadi pukulan keras bagi kebebasan pers di Indonesia. Insiden ini tidak hanya mengancam satu media, tetapi juga menunjukkan meningkatnya tekanan terhadap jurnalisme kritis, termasuk di Sumatera Selatan.

Sebagai bentuk perlawanan terhadap ancaman ini, Koalisi Pers dan Masyarakat Sipil Sumatera Selatan (KPMS Sumsel) resmi dibentuk dalam diskusi yang berlangsung di Remington Hostel and Cafe, Palembang, Kamis (27/03/2025).

Read More

Forum ini dihadiri oleh pimpinan organisasi wartawan, pemilik media, serta aktivis pers di Sumsel yang bersatu dalam membela kebebasan berekspresi.

Seperti Jonheri (Ketua SMSI), Anang (Ketua AMSI), Agus Harizal.Alwie Tjikmat (Ketua JMSI), Yudie (Pimred Sripo-Tribun Sumsel), Fajar Wiko (Ketua AJI Palembang), M Fathoni (Pimred Sumsel24.com), Ujang Idrus (Pimred KetikPos.com).

Selain itu hadir juga tokoh pers seperti Taufik Wijaya dan H Okctaf Riyadi, beberapa praktisi pers dan aktivis seperti Arlan, Syaid Falaq, Molem, Yosef (Relung. id), Ali Goik (Gandus TV), Handika (Lingkatan. id), termasuk juga perwakilan Tempo di Sumsel, Reza Parliza dan beberapa media Siber lainnya.

Penggagas KPMS Sumsel, Muhamad Nasir, menegaskan bahwa serangan terhadap Tempo bukan insiden biasa, melainkan bagian dari pola sistematis yang terus terjadi terhadap pers di Indonesia.

“Ini bukan insiden biasa. Ini pola terstruktur yang terus terjadi. Jurnalis di Indonesia bukan hanya menghadapi kekerasan fisik, tetapi juga serangan digital, kriminalisasi hukum, dan tekanan politik yang kian brutal,” tegas Nasir.

Menurut KPMS Sumsel, lemahnya penegakan hukum menjadi faktor utama yang membuat pelaku kekerasan terhadap jurnalis semakin berani.

Banyak kasus kekerasan terhadap wartawan berakhir tanpa hukuman tegas, memperlihatkan adanya pola pembiaran yang mengkhawatirkan.

“Berapa banyak kasus kekerasan terhadap jurnalis yang benar-benar diselesaikan? Berapa banyak pelaku yang dihukum setimpal? Jika negara terus membiarkan ini terjadi, maka kita sedang menuju ke arah otoritarianisme berkedok demokrasi,” kata Nasir.

KPMS Sumsel juga mencatat bahwa ancaman terhadap jurnalis tidak hanya terjadi di tingkat nasional.

Di Sumatera Selatan, wartawan yang mengungkap fakta kritis kerap menjadi sasaran ancaman, intimidasi, hingga serangan fisik.

“Jika pers dibungkam, masyarakat kehilangan hak atas informasi yang jujur. Ini bukan sekadar isu jurnalis, ini soal masa depan demokrasi kita!” tambahnya.

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts