Berlin, Sumselupdate.com – Sejumlah negara Eropa dan Uni Eropa (UE) menyatakan keengganan bahkan penolakan tegas terhadap seruan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk membentuk misi militer guna mengamankan pelayaran di Selat Hormuz.
Para pemimpin Eropa menekankan pentingnya solusi diplomatik dan memperingatkan agar konflik yang tengah berlangsung tidak berkembang menjadi keterlibatan NATO atau menyeret kawasan tersebut ke dalam perang yang lebih luas.
Kanselir Jerman Friedrich Merz dengan tegas menolak keterlibatan militer dalam melindungi kapal tanker minyak di kawasan tersebut. Ia menegaskan bahwa NATO merupakan “aliansi pertahanan”, bukan “aliansi intervensi”.
Merz juga menyatakan bahwa Jerman tidak akan ikut serta dalam langkah militer selama konflik masih berlangsung. Ia menambahkan, hingga saat ini belum ada konsep operasi yang dinilai layak untuk dijalankan.
Sikap serupa disampaikan Kepala Kebijakan Luar Negeri UE, Kaja Kallas, di Brussel. Usai pertemuan para menteri luar negeri UE, Kallas menegaskan bahwa Uni Eropa tidak berencana memperluas misi angkatan lautnya, Aspides, ke Selat Hormuz.
“Kami sedang mengupayakan solusi diplomatik untuk Selat Hormuz. Ini bukan perang Eropa,” ujarnya.
Di Eropa Selatan, Menteri Luar Negeri Portugal Paulo Rangel menegaskan negaranya tidak akan terlibat dalam konflik tersebut. Ia juga menilai ancaman dari pemerintahan Trump terhadap negara NATO yang tidak mendukung AS sebagai hal yang tidak perlu ditanggapi.
Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani turut menyampaikan keraguan. Menurutnya, misi yang sudah ada seperti Aspides dan Atalanta dirancang untuk pengawalan defensif dan operasi antipembajakan, sehingga sulit diterapkan di wilayah berisiko tinggi seperti Selat Hormuz.
Sementara itu, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan bahwa London tengah bekerja sama dengan sekutu untuk menyusun rencana yang memungkinkan pemulihan keamanan navigasi. Namun ia menegaskan bahwa upaya tersebut tidak dirancang sebagai misi NATO.
Perbedaan sikap ini juga memicu friksi dengan Washington. Trump sebelumnya mengkritik Inggris dalam wawancara dengan Financial Times, menuding London tidak sigap saat pertama kali diminta bantuan.
Di kawasan Eropa Utara dan Timur, keterbatasan sumber daya menjadi alasan utama penolakan. Menteri Luar Negeri Finlandia Elina Valtonen menyebut negaranya hampir tidak memiliki sumber daya tambahan dan kawasan tersebut bukan prioritas utama.
Menteri Pertahanan Swedia Pal Jonson menegaskan fokus negaranya tetap pada kawasan utara. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Polandia Radoslaw Sikorski menyatakan Polandia tidak memiliki rencana untuk ikut serta.
Pelaksana Tugas Menteri Luar Negeri Bulgaria Nadezhda Neynski juga menyebut negaranya tidak memiliki kapasitas untuk menjalankan misi tersebut. Hal serupa disampaikan Perdana Menteri Belanda Rob Jetten yang menegaskan negaranya belum mempertimbangkan keterlibatan.
“Saat ini, setiap misi di Selat Hormuz akan memerlukan upaya peredaman ketegangan di kawasan tersebut,” ujar Jetten.
Para analis menilai tekanan dari Amerika Serikat bertujuan mendorong sekutu Eropa agar lebih terlibat. Namun, Direktur Riset Institut Aleksanteri Universitas Helsinki, Markku Kangaspuro, meragukan langkah tersebut.
Ia bahkan menyebut konflik itu sebagai perang yang “dilancarkan secara ilegal oleh AS dan Israel”.
Menurutnya, ini merupakan kali pertama Washington mencoba melibatkan NATO dalam konflik melawan Iran, yang menunjukkan kurangnya perhitungan matang.
“Dampaknya tidak dievaluasi secara memadai,” ujarnya.
(**)











