Kasus Dugaan Perampasan Mobil Fortuner, Penyidik Jatanras Polda Sumsel Panggil Terlapor  

Penyidik Unit III Subdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Sumsel memanggil dua saksi terlapor dalam dugaan kasus perampasan secara paksa satu unit mobil Toyota Fortuner, Sabtu (29/5/2021).

Laporan: Haris Widodo

Palembang, Sumselupdate.com – Penyidik Unit III Subdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Sumsel memanggil dua saksi terlapor dalam dugaan kasus perampasan secara paksa satu unit mobil Toyota Fortuner, Sabtu (29/5/2021).

Bacaan Lainnya

Mobil yang bernomor polisi  BG 1403 OR milik pelapor Bahara Eka, warga Jalan Noerdin Panji, Komplek Istana Arafatuna, Blok B, Kelurahan Karya Baru, Kecamatan Alang-Alang Lebar Palembang.

Bahara Eka sendiri sudah melaporkan kasus dugaan perampasan mobil ini ke Polda Sumsel dengan nomor: STTLP: 368/IV/2021/SPKT Polda Sumsel.

Diketahui pemanggilan ini bertujuan untuk meminta klarifikasi terhadap laporan yang dibuat pelapor.

Kasubdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Sumsel Kompol Christoper Panjaitan mengaku dirinya belum mengetahui apakah benar penyidik sudah memanggil saksi terlapor.

“Nanti akan saya tanyakan dulu ke penyidik nya. Karena saya belum mengetahui nya,” katanya saat dikonfirmasi via telp, Minggu (30/5/2021).

Diberitakan sebelumnya, pelapor Bahara Eka (42), warga Jalan Noerdin Panji, Komplek Istana Arafatuna, Blok B, Kelurahan Karya Baru, Kecamatan Alang-Alang Lebar Palembang melaporkan debt collector Dirman dan kawan-kawan yang diperintahkan bank plat merah selaku kreditur pada Sabtu (17/4/2021)

Dirman dan kawan kawan dilaporkan dalam kasus dugaan perampasan sacara paksa satu unit mobil Toyota Fortuner BG 1403 OR milik pelapor yang menunggak pembayaran selama empat bulan.

Bahara Eka menceritakan ikhwal mobil Fortuner miliknya yang diduga dirampas debt collector berawal saat mobil dipakai adiknya untuk menjemput relasi kerjanya di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II pada Selasa, 30 Maret 2021.

Sejak menunggu di bandara adiknya sudah mulai dibuntuti oleh pihak Debt Collector sampai mengantarkan relasi ke hotel.

“Saat berada di hotel itulah mereka mendekati adik saya lalu berkomunikasi setelah itu rombongan debt collector itu menggiring mobil yang dibawa adik saya ke Bank plat merah di Jalan Letkol Iskandar,” katanya.

Sesampainya di kantor tersebut, kata Eka adiknya diajak berkomunikasi lagi oleh pihak BRI Finance setelah itu pihak BRI Finance menarik mobil lalu menyodorkan surat penitipan mobil untuk ditanda tangani dengan keadaan tertekan adiknya pun menandatangani surat tersebut.

“Per 30 Maret angsuran saya memang nunggak pembayarannya empat bulan dengan angsuran per bulan Rp10,9 juta ada penangguhan Rp4,8 juta selama enam bulan dan angsuran sudah berjalan lebih dari setahun dengan limit angsuran lima tahun uang muka yang sudah dibayar Rp 119 juta,” jelasnya.

Diakui Bahara Eka, sehari setelah mobil miliknya ditarik secara paksa ia pun mendatangi BRI Finance untuk bernegosiasi.

Namun pihak BRI Finance tidak mau diajak negosiasi dan bersikeras kalau mobil yang ditarik bisa keluar asalkan melunasi secara keseluruhan kredit mobilnya.

“Tidak hanya sekali saya mendatangi pihak BRI Finance, bahkan sampai dua kali dan mereka tidak mau bernegosiasi dan tetap menyuruh saya melunasi secara keseluruhan kredit dengan total keseluruhan Rp526 juta,” bebernya.

Selaku kreditur Bahara Eka, hanya sanggup untuk membayar biaya penarikan dan biaya penitipan mobil sedangkan untuk angsuran empat bulan yang menunggak ia minta untuk di re struktur lagi.

“Saya sudah minta secara baik baik tapi pihak BRI Finance tetap tidak mau. Dan tetap pada aturan mereka. Itulah yang membuat saya menempuh jalur hukum melaporkan debt collector eksternal BRI Finance dan agar polisi menindak lanjuti laporan yang saya buat,” tandasnya.

Sementara itu, Ruby Tjahjana dari BRI Finance Kantor Pusat Jakarta menyatakan jika pihaknya sudah menjalankan tindakan-tindakan yang disepakati dalam Perjanjian Pembiayaan Multiguna Dengan Cara Pembelian Dengan Pembayaran Secara Angsuran (Kendaraan Bermotor) No. 3468012190000121 tanggal 22 Oktober 2019 yang ditandatangani oleh Bahara Eka selaku Debitur dan BRI Finance.

Menurut Ruby Tjahjana, BRI Finance telah memberikan kesempatan kepada Bahara Eka untuk menjadwalkan kembali (restrukturisasi) kewajibannya pada bulan April 2020.

Namun yang bersangkutan tetap tidak mampu memenuhi kewajibannya sebagaimana mestinya.

Dikatakannya, penyerahan kendaraan dilakukan setelah BRI Finance terlebih dahulu memberikan tiga kali Surat Peringatan dan surat Somasi, dan prosesnya dilakukan sesuai dengan Peraturan OJK serta peraturan perundang-undangan yang berlaku.

“Pada prinsipnya BRI Finance akan menindaklanjuti permasalahan ini sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku,” kata Ruby. (**)

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.