Jika Gerhana Matahari Tiba, Islam Anjurkan Shalat Gerhana

Jumat, 4 Maret 2016
Shalat Sunnah Gerhana Berjamaah (Ilustrasi)

Palembang, Sumselupdate.com – Terakhir terjadi di tahun 1983, masyarakat Indonesia di 12 provinsi akan kembali berkesempatan menyaksikan Gerhana Matahari Total (GMT) yang diprediksi terjadi pada 9 Maret 2016. Terkait waktu, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menyebutkan, di wilayah Indonesia Barat GMT berlangsung mulai pukul 06.20 WIB, Indonesia Tengah pukul 07.25 WITA, dan Indonesia Timur pukul 08.35 WIT. Diperkirakan, lama GMT di Indonesia nanti berkisar 1,5-3 menit saja.

Di Indonesia peristiwa langka tersebut ditangkap sebagai momentum untuk meningkatkan kunjungan wisata. Berbagai even pun telah dipersiapkan untuk menyambut datangnya fenomena alam itu.

Read More

Euforia menyambut gerhana matahari total itu tentunya sah-sah saja dilakukan, mengingat di samping tergolong peristiwa langka, banyak juga hal positif yang bisa diraih dari gejala alam ini baik dari segi wisata, ekonomi, ataupun edukasi. Namun, bagi yang memeluk agama Islam, jangan lupa pula untuk menjalankan ajaran agamanya yang menganjurkan untuk melakukan sholat gerhana jika terjadi gerhana matahari atau bulan.

Islam memandang bahwa gerhana matahari atau gerhana bulan adalah tanda-tanda kebesaran Allah Swt. Karena itu, umatnya dianjurkan untuk melakukan shalat gerhana jika tanda kebesaran Tuhan ini terjadi, sebagaimana termuat dalam Hadist berikut.

“Telah terjadi gerhana Matahari pada hari wafatnya Ibrahim putra Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Berkatalah manusia: Telah terjadi gerhana Matahari karana wafatnya Ibrahim. Maka bersabdalah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam “Bahwasanya Matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Allah mempertakutkan hamba-hamba-Nya dengan keduanya. Matahari gerhana, bukanlah karena matinya seseorang atau lahirnya. Maka apabila kamu melihat yang demikian, maka hendaklah kamu salat dan berdoa sehingga selesai gerhana.” (HR. Bukhari & Muslim).

Sholat gerhana (sholat kusufain) adalah shalat yang dilakukan saat terjadi gerhana bulan maupun matahari. Sholat yang dilakukan saat gerhana bulan disebut sholat khusuf, sedangkan saat gerhana matahari disebut dengan sholat kusuf.

Berikut tata cara salat gerhana, disarikan dari buku Kumpulan Shalat-Shalat Sunnat Karya Moh. Rifa’i (1993) dan Wikipedia:

  1. Memastikan terjadinya gerhana bulan atau matahari terlebih dahulu.
  2. Sholat gerhana dilakukan saat gerhana sedang terjadi.
  3. Sebelum sholat, jamaah dapat diingatkan dengan ungkapan, ”ash-shalatu jaami’ah
  4. Niat melakukan sholat gerhana matahari (kusufisy-syams) atau gerhana bulan (khusufil-qamar), menjadi imam atau ma’mum:

Usholli sunnatan li kusuufisy-syamsi/li khusuufil-qomari imaaman/ma’muman lillahi ta’aala”

  1. Shalat gerhana dilakukan sebanyak dua rakaat.
  2. Setiap rakaat terdiri dari dua kali ruku.
  3. Setelah rukuk pertama dari setiap rakaat membaca Al-Fatihah dan surah kembali
  4. Pada rakaat pertama, bacaan surat pertama lebih panjang daripada surah kedua. Demikian pula pada rakaat kedua, bacaan surat pertama lebih panjang daripada surat kedua.
  5. Setelah shalat disunahkan untuk berkhutbah

Menurut Habib Munzir bin Fuad Al Musawwa, panduan singkat shalat gerhana terdiri atas tiga cara :

  1. Yang termudah adalah dengan dua rakaat sebagaimana salat subuh.
  2. Dua rakaat, dan setiap rakaat adalah dengan dua rukuk dan dua kali qiyam, urutannya adalah: Takbiratul ihram, lalu Qiyam, fatihah, surah, rukuk, lalu Qiyam lagi, fatihah surat, rukuk, lalu iktidal, lalu sujud, duduk sujud. lalu bangkit ke rakaat kedua dengan hal yang sama.
  3. Dua rakaat sebagaimana poin kedua di atas, namun dipanjangkan, lalu diakhiri dengan dua khutbah selepas sholat. (shn)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts