Palembang, Sumselupdate.com –Kasus pembunuhan sadis terhadap keluarga besar Tasir bin Syarat (65), diduga dilakukan oleh lebih dari satu orang.
Kanit Pidum Polres Banyuasin, Ipda Sugeng Sarwan ditemui di sela-sela otopsi jenazah para korban di kamar Mayat Rumah Sakit Bhayangkara Polda Sumsel mengatakan, pihaknya masih mengejar para pelaku yang lebih dari satu orang.
“Rumah korban ini berada di tengah sawah dan jauh dari penduduk dan dekat sungai. Hari ini kita melakukan otopsi para korban di rumah sakit Bhayangkara Polda Sumsel dan memang kita lihat banyak luka bacokan di tubuh para korban dan ini jelas tindak kejahatan,” katanya, Senin (16/5).
Di lain tempat, Direktur Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda Sumsel Kombes Pol DTM Silitonga didampingi Kapolres Banyuasin AKBP Prasetyo mendatangi rumah Tasir yangg diduga menjadi tempat eksekusi kelima korban yang ditemukan membusuk di perairan sungai Air Sugihan Muara Padang, Senin (16/5).
Di lokasi rumah Tasir yang berada di Desa Indrapura Jalur 14 Air Sugihan, memang ditemukan banyak bercak darah.
Sementara Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol R Djarod Padakova saat ditemui di Mapolda Sumsel, Senin (16/5), membenarkan bahwa Dirreskrimum Polda Sumsel turun langsung untuk memimpin melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).
“Pagi ini, Dirreskrimum bersama rombongan, termasuk Kapolres Banyuasin AKBP Prasetyo serta Tim Lafbor, telah menuju ke lokasi kejadian untuk melakukan olah TKP,” katanya.
Informasi yang beredar, korban merupakan warga transmigrasi baru di Jalur 16 Desa Indrapura. Tasir awalnya pendatang dari pulau Jawa yang akan menjadi petani di tempat itu.
Tasir sendiri telah menjual tanah di Jawa seharga Rp600 juta baru-baru ini. Namun, uang tersebut rupanya telah dititipkan korban kepada keluarganya. Hingga muncul dugaan korban tewas dibantai dengan motif perampokan.
“Katanya jual tanah di Palembang uangnya Rp600 jutaan. Kemudian beli tanah yang sekaligus ada rumahnya di desa Indrapura. Sisanya kabarnya juga dititipkan dengan tetangga uang itu. Tapi pastinya saya gak tahu,” kata teman korban, Karso.
Beredar kabar juga bahwa rumah yang sudah dibeli itu mau ditempati pagi harinya. Tapi malah terjadi kejadian tragis seperti ini.
“Malah katanya sudah dibersihin rumah yang sudah dibeli itu, pokoknya besok mau di tempati,” kata Karso .
Menurutnya, Tasir merupakan warga yang pendiam. Dia sendiri terakhir bertemu dengan saudara jauhnya itu ketika menggiling padi hasil panen Tasir tahun lalu.
Ditambahkan karso, warga TSM memang jarang berkomunikasi degan warga Indrapura. Alasannya, jarak yang lumayan jauh membuat hubungan antar-warga tidak seintim warga lainnya.
Sebagaimana diketahui, para korban dibuang di perairan di sungai desa setempat dengan keadaan sudah membusuk. Bahkan tiga di antaranya dibungkus menggunakan karung, sementara satu jenazah berusia 14 tahun jenis kelamin perempuan sudah kehilangan kaki dan tangannya.
Identitas para korban diketahui yang pertama adalah Tasir bin Syarat (65), kemudian Kartini binti Tasir (37), Winarti Binti Mansyur (14), dan Ariam binti Antar (6).
Keempatnya merupakan keluarga besar, yang sesungguhnya terdiri dari lima orang yang terdiri dari Pak Tasir dan istri beserta seorang anaknya serta dua orang cucu. (ery)











