Makkah, Sumselupdate.com– Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin, selaku amirul haj, menggelar rapat koordinasi dengan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, Senin (5/9). Agenda utamanya adalah membahas persiapan menyongsong puncak haji, wukuf di Arafah, lalu Muzdalifah dan Mina yang biasa disebut fase Armina.
Berdasarkan presentasi Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Abdul Djamil, pada rapat itu diketahui secara umum progres penyelenggaraan berjalan sesuai rencana. Ada sedikit masalah yang terjadi, antara lain kasus katering basi, jemaah ditahan di embarkasi Saudi, jemaah dideportasi, dan jemaah tidak ambil miqat di Bir Ali. Namun, menurut Djamil, semuanya bisa diselesaikan dengan baik.
Di tengah apresiasinya kepada seluruh petugas haji karena sampai hari ini beberapa hal sudah berjalan sesuai rencana, Menag tetap mengingatkan para petugas haji agar memperhatikan lima hal menghadapi proses Armina dan persiapan kepulangan, sebagai berikut:
Pertama, mobilisasi jemaah haji Indonesia dari hotel di Makkah menuju Arafah adalah sebuah tantangan. Menurutnya, konsentrasi pertama yang harus dicermati adalah bagaimana mobilisasi jemaah dari hotel menuju Arafah. Setiap sektor dan maktab harus diinformasikan secara tepat jam berapa jemaah akan meninggalkan hotel.
“Intinya, jangan buat jemaah terlalu lama menunggu dan jangan juga membuat mereka tergesa-gesa saat akan berangkat. Ini agar jadi catatan kita, agar jamaah haji tahu persis kapan berangkat,” tambahnya.
Kedua, terkait Armina, Menag mengingatkan empat hal, yaitu tenda, listrik, katering, dan air. Para petugas harus memastikan setiap tenda jemaah terpasang dengan baik dan kokoh sehingga tidak mudah roboh.
“Antisipasi gangguan listrik, khususnya pos kesehatan kita, karena peralatannya mengandalkan pasokan listrik. Dapur katering di maktab perlu di kontrol agar tidak terlambat. Pasokan air minum sangat diperlukan karena di Arafah diprediksikan sangat panas,” katanya.
Ketiga, saat pergerakan jemaah dari Arafah ke Muzdalifah, petugas agar bisa mengorganisasi armada bus dengan baik sehingga jamaah tidak terlalu lama menunggu di Muzdalifah.
Keempat, soal Mina, Menag minta para petugas mensosialisasikan jadwal dan rute lontar jumrah secara massif agar dipahami seluruh jemaah haji. Para ketua regu dan ketua rombongan juga diimbau untuk tidak tergesa-gesa dan memaksakan diri untuk bersegera menyelesaikan ibadahnya (tawaf ifadlah).
Kelima, saat kepulangan kloter awal, Menag minta agar diantisipasi masalah kelebihan berat (overweight) koper bagasi jamaah dan air zamzam. Beban maksimal koper jemaah adalah 32 kg. Setiap jemaah akan mendapat air zamzam sebanyak 5 liter yang akan dibagikan saat tiba di Tanah Air. Karenanya, jemaah tidak diperkenankan membawa air zamzam dalam koper karena itu membahayakan penerbangan.
“Pemeriksaan bagasi harus sudah dilakukan sejak dari hotel untuk mempercepat proses check in. Kalau sudah sampai di bandara tidak perlu lagi dibuka. Ini penting untuk mengantisipasi keterlambatan kloter awal,” tandasnya. (mkd/shn)











