Inflasi Sumsel Lebih Tinggi dari Nasional

Suasana Rapat Koordinasi Pengendalian Harga Dan Inflasi

Palembang, Sumselupdate.com – Pemerintah Sumsel kembali melakukan rapat koordinasi membahas capaian pengendalian harga dan penanggulangan inflasi, yang diikuti oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Sumatera Selatan, di Hotel Arista Palembang.

Sekertaris Daerah Provinsi Sumatera Selatan (Sekda Prov Sumsel), Mukti Sulaiman, Sebagai Ketua Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), Selasa (28/6) mengatakan, rapat koordinasi untuk menekan inflasi pada bulan Ramadhan.

Bacaan Lainnya

“Pengendalian harga semestinya ada di kabupaten/kota karena riilnya ada di kabupaten/kota misal harga cabe dan sebagainya,” katanya.

Rapat rencananya akan dilaksanakan selama dua hari mulai tanggal 28 sampai 29 Juni 2016, diikuti oleh Perwakilan Bank Indonesia Perwakilan Sumsel yang juga Wakil TPID Sumsel Hamid Ponco Wibowo, juga TPID Kabupaten/Kota se-Sumsel, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Ir. Permana, Bulog dan Badan Pusat Stasistik Sumsel.

“Keterjangkauan harga sangat penting untuk kestabilan harga. Untuk beras saja hanya beberapa orang yang mengendalikan, sehingga bisa mengendalikan harga untuk memperoleh keuntungan sebesar besarnya,” jelasnya.

Lebih lanjut, Mukti menyampaikan untuk mengatasi monopoli pasar yang paling pas adalah dengan Koperasi.

“Di tingkat petani harga hanya separuh dari harga pasar, jadi yang banyak memperoleh keuntungan adalah pedagang. Mata rantai cukong harus diputus oleh pemerintah dan konsumen itu sendiri,” katanya.

Ditambahkannya, inflasi dipengaruhi oleh ketersediaan pasokan, inflasi juga dipengaruhi oleh infrastuktur yang baik. Selain itu juga belum ada pemetaan terhadap komoditas pertanian itu sendiri.

“Semestinya kabupaten/kota mengurus hal-hal kecil di daerahnya sehingga provinsi bisa mengurus hal yang besar seperti yang dilakukan pak gubernur. Untuk daerah lakukan identifikasi inflasi sesuai karakteristik daerah masing masing, setelah itu susun roadmap kegiatan,” tegasnya.

Sementara itu, Wakil TPID Sumsel Hamid Ponco Wibowo menjelaskan, inflasi Sumsel sampai bulan Mei 2016 mencapai 4,31 % (yoy) lebih tinggi dari bulan April 2016 sebesar 4,24% (yoy).

“Inflasi Sumsel lebih tinggi 0,63 % dari Inflasi nasional yang 0,42%. Inflasi Sumsel naik dibanding bulan yang sama tahun lalu. Kenapa lebih tinggi karena adanya even internasional sehingga harga ayam ras naik, selain itu gula dan rokok,” paparnya.

Dijelaskan Hamid Ponco, acuan inflasi Sumsel adalah Kota Palembang, tetapi bukan berarti daerah-daerah tidak menyumbang inflasi.

Sebagai contoh, harga sayur meningkat di Palembang dikarenakan transportasi dan jalan dari pemasok di Pagaralam mengalami gangguan.

“Sebagai pembanding inflasi di 23 kota se-Sumatera, Sumsel diwakili oleh Palembang dan Lubuk Linggau. Palembang berada di posisi 4 tertinggi inflasi di Sumatera sedangkan Lubuk Linggau pada posisi 15. Menjadi pekerjaan rumah untuk Kota Palembang agar inflasi sama atau mendekati seperti Lubuk Linggau,” ujarnya.

Lanjut Hamid Ponco, inflasi 3 tahun terakhir pada bulan Ramadhan, disumbang oleh cabai merah, angkutan udara, daging ayam ras, daging sapi, telur ayam ras, beras, dan tomat sayur. (adi)

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.