Palembang, Sumselupdate.com – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan masih menghadapi kendala armada udara. Satu unit helikopter tambahan yang disiapkan untuk memperkuat operasi pemadaman belum dapat bergabung karena mengalami kendala teknis dalam proses pengiriman.
Helikopter tersebut diperkirakan baru tiba di Sumsel pada 27 Agustus 2026.
Kepala BPBD Sumsel Muhammad Iqbal Alisyahbana mengatakan, tambahan armada udara dibutuhkan untuk memperkuat penanganan karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah.
“Helikopter tambahan yang direncanakan memperkuat operasi masih mengalami kendala teknis dalam proses pengiriman dan diperkirakan tiba pada 27 Agustus 2026,” kata Iqbal, Senin (24/8/2026).
Kebutuhan tambahan armada semakin mendesak seiring meningkatnya jumlah titik panas atau hotspot di Sumsel.
Hingga Sabtu, jumlah hotspot yang terpantau mencapai 600 titik, meningkat dibandingkan sebelumnya yang berada di angka 449 titik.
Namun, Iqbal mengingatkan bahwa peningkatan jumlah hotspot tidak serta-merta menunjukkan adanya 600 titik kebakaran di lapangan.
“Hotspot itu akan terjadi ketika daerah itu yang pertama kering, lalu jadi panas. Namun, titik hotspot belum tentu fire spot,” ujarnya.
Enam Helikopter Water Bombing Masih Beroperasi
Sembari menunggu kedatangan helikopter tambahan, BPBD Sumsel masih mengandalkan enam helikopter water bombing untuk mendukung pemadaman dari udara.
Selain itu, terdapat dua helikopter patroli yang digunakan untuk memantau kawasan rawan karhutla.
Penanganan karhutla juga dilakukan melalui jalur darat dengan melibatkan sejumlah satuan tugas. Upaya tersebut meliputi patroli kawasan rawan, sosialisasi kepada masyarakat hingga penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran hutan dan lahan.
“Kita selalu melakukan penguatan, baik itu darat, udara maupun satgas-satgas yang lain. Ada penegakan hukum, satgas sosialisasi, malah satgas doa juga diperkuat,” kata Iqbal.
Menurutnya, kondisi cuaca yang semakin kering membuat risiko karhutla di Sumsel meningkat. Fenomena El Nino yang disebut telah memasuki fase sangat kuat turut menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai.
OMC Kembali Digelar, Bisa Dilakukan Malam Hari
Selain memperkuat operasi pemadaman, pemerintah kembali mendapatkan dukungan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) mulai Sabtu.
OMC tersebut direncanakan berlangsung selama lima hari dengan memanfaatkan potensi pertumbuhan awan hujan yang terpantau di sejumlah wilayah Sumsel.
Berbeda dari pelaksanaan sebelumnya, penyemaian awan dalam operasi kali ini dapat dilakukan tidak hanya pada siang hari, tetapi juga malam hari apabila terdapat potensi awan yang memenuhi kondisi untuk disemai.
“Mulai hari ini kalau bisa siang, siang. Kalau bisa malam, malam, yang mana ada potensi awan akan dilakukan OMC,” jelas Iqbal.
Perluasan waktu pelaksanaan OMC tersebut dilakukan setelah evaluasi dan koordinasi dengan sejumlah pemangku kepentingan, termasuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Danlanud.
Dengan kombinasi penanganan melalui darat, operasi water bombing, patroli udara, penegakan hukum serta OMC, pemerintah berharap potensi karhutla di Sumsel dapat ditekan di tengah kondisi cuaca yang semakin kering.
(**)











