Hidup atau Mati Sama Saja: Jeritan Warga Gaza di Tengah Serangan Tanpa Henti

Writer: - Minggu, 14 September 2025
Foto yang diabadikan pada 11 September 2025 ini menunjukkan warga Palestina memeriksa kerusakan sejumlah rumah di area kamp pengungsi Shati, sebelah barat Gaza City, pascaserangan udara Israel. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)

Gaza, Sumselupdate.com – Jalan pesisir Al-Rashid di Gaza berubah menjadi lorong pelarian penuh duka.

Ribuan keluarga berjalan tertatih ke arah selatan, membawa sisa-sisa hidup yang bisa diselamatkan.

Read More

Anak-anak menyeret tas sekolah berisi pakaian seadanya, para ayah mendorong gerobak reyot berisi selimut dan roti basi, sementara para ibu menangis pilu seolah meratapi nasib yang kian tak menentu.

“Saya tidak tahu ketakutan mana yang lebih berat, kehilangan anak-anak akibat pengeboman atau melihat mereka menderita tanpa kepastian,” ujar Um Ahmad Ashour, warga Gaza City, dengan pakaian berdebu sambil memeluk erat putrinya.

Ia mengaku tak bisa tidur berminggu-minggu karena ledakan tanpa henti. Harapan pada negosiasi damai antara Hamas dan Israel pun kian pudar.

Foto yang diabadikan pada 11 September 2025 ini menunjukkan warga Palestina memeriksa kerusakan sejumlah rumah di area kamp pengungsi Shati, sebelah barat Gaza City, pascaserangan udara Israel. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)

Seperti ratusan ribu warga Palestina lainnya, Ashour telah berulang kali merasakan pahitnya pengungsian.

“Kami mati ribuan kali setiap hari. Setelah gencatan senjata awal tahun ini, saya bersumpah tak akan mengungsi lagi. Namun hari ini, saya kembali ke jalan yang sama, hancur dan tak berdaya,” tuturnya.

Tak jauh darinya, Khaled Abu Urmana (65) menggenggam tangan cucunya yang gemetar.

“Kami berjanji kepada anak-anak untuk membangun kembali rumah. Kini semua janji itu lenyap,” ucapnya lirih.

“Setiap kali rudal jatuh, wajah-wajah tetangga yang tewas terbayang. Kami bukan angka atau gambar di layar, kami manusia dengan nama, mimpi, dan kenangan.”

Foto yang diabadikan pada 11 September 2025 ini menunjukkan warga Palestina memeriksa kerusakan sejumlah rumah di area kamp pengungsi Shati, sebelah barat Gaza City, pascaserangan udara Israel. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)

Dalam beberapa hari terakhir, serangan udara Israel semakin intensif, meluluhlantakkan menara permukiman, apartemen, sekolah, hingga masjid.

Militer Israel menyatakan menargetkan gedung-gedung yang disebut digunakan Hamas, namun tuduhan itu dibantah kelompok tersebut.

Menurut otoritas Gaza, lebih dari 50.000 orang kini kehilangan tempat tinggal. Sebanyak 12 gedung bertingkat tinggi, 120 gedung bertingkat sedang, 10 sekolah, 5 masjid, dan ratusan tenda rata dengan tanah.

“Kehancuran dalam sepekan terakhir melampaui semua yang bisa dibayangkan. Ini bencana besar di segala aspek,” kata Mahmoud Basal, juru bicara pertahanan sipil Gaza.

Ia mendesak PBB dan komunitas internasional segera turun tangan menghentikan agresi serta melindungi warga sipil.

Di tengah kepungan bom, sebagian warga masih bertahan di Gaza City. Yasser Abu Shaban, pemuda berusia 20-an tahun, mengaku tak lagi takut mati.

“Saya hanya takut terbangun sebagai satu-satunya yang selamat dalam keluarga. Di Gaza, hidup adalah kematian perlahan, sementara kematian terasa lebih berbelas kasih.”

Otoritas kesehatan Gaza mencatat, sejak perang terbaru meletus pada 7 Oktober 2023 hingga Jumat (12/9), korban tewas telah mencapai 64.756 orang dan lebih dari 164.000 lainnya luka-luka.

“Di sini, hidup dan mati tak lagi berbeda. Keduanya hanyalah wajah dari penderitaan,” ujar Ashour, sambil menyeka air mata putrinya.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts