New York, Sumselupdate.com — Under-Secretary-General Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Urusan Kemanusiaan dan Koordinator Bantuan Darurat Tom Fletcher pada Kamis (18/6) menyerukan penghapusan hambatan kemanusiaan di Gaza.
Meski baru-baru ini kondisi sudah lebih baik, para pekerja kemanusiaan masih terus menghadapi hambatan persisten dan disengaja, ujar Fletcher kepada Dewan Keamanan PBB.
“Akses kemanusiaan masih mengandalkan satu, paling banyak dua, perlintasan yang beroperasi, padahal kapasitas yang jauh lebih besar dapat dengan mudah disediakan untuk pergerakan bantuan dan staf. Prosedur persetujuan dan bea cukai yang merepotkan, disertai dengan pembatasan terhadap apa yang disebut sebagai barang ‘berkegunaan ganda’, membatasi masuknya pasokan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan,” papar Fletcher.
Kendala-kendala itu, yang diperparah oleh pembatasan terhadap layanan esensial dari Badan Bantuan PBB untuk Pengungsi Palestina di Kawasan Timur Dekat (UNRWA) dan lembaga nonpemerintah, mengakibatkan terlalu banyak dukungan vital tertahan di luar Gaza, dan upaya kemanusiaan dihambat oleh kelangkaan bahan bakar, suku cadang, kendaraan lapis baja, dan perlengkapan pelindung lainnya bagi para pekerja bantuan, imbuh Fletcher.
Fletcher mendesak upaya untuk memastikan perlindungan warga sipil, termasuk pekerja kemanusiaan, dan upaya untuk memastikan akses kemanusiaan yang aman, berkelanjutan, serta tanpa hambatan bagi semua pihak yang membutuhkan di Gaza.
Dia meminta agar perlintasan Erez/Beit Hanoun, Karni, dan Kerem Shalom/Karem Abu Salem segera dioperasikan dengan kapasitas penuh untuk membangun jalur distribusi bervolume tinggi dan multirute, serta akses ke lokasi-lokasi penting di dalam Gaza, termasuk tempat pembuangan akhir di dekat pagar perimeter.
“Kami meminta Anda (para anggota Dewan Keamanan PBB) agar segera mencabut pembatasan (yang diberlakukan) Israel terhadap barang-barang esensial untuk kelangsungan hidup, terutama peralatan medis, termasuk alat diagnosis, namun juga suku cadang penting untuk air dan sanitasi, pasokan bahan bakar dan oli mesin yang konsisten, serta perlengkapan komunikasi dan pelindung bagi para pekerja bantuan,” tutur Fletcher.
“Kami meminta penerapan kembali pembebasan bea cukai kemanusiaan dan penerbitan visa jangka panjang yang dapat diprediksi, bukan per bulan, bagi staf internasional, PBB, dan lembaga nonpemerintah, serta penyederhanaan proses pendaftaran lembaga nonpemerintah,” kata Fletcher.
“Dan kami meminta agar konvoi antarpemerintah dari Yordania dilanjutkan kembali dan evakuasi medis ke Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, ditingkatkan,” imbuhnya.
Aksi kemanusiaan bukanlah sekumpulan pilihan, melainkan sebuah ekosistem tunggal yang akan sangat terganggu jika komponen-komponennya terhambat. Dan aksi-aksi tersebut bukanlah langkah-langkah berurutan atau alat tawar-menawar, ujar Fletcher.
Lebih lanjut Fletcher menuturkan bahwa kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri permusuhan serta harapan terkait gencatan senjata segera dan vital di Lebanon seharusnya membuat Dewan Keamanan PBB kembali memusatkan perhatiannya kepada realitas di Gaza.
“Kita tidak boleh membiarkan puncak ambisi dan tekad kita hanya berupa dunia di mana anak-anak memiliki asupan kalori yang cukup untuk bertahan hidup dan terhindar dari pengeboman yang terus-menerus, tetapi tetap kelaparan, digigit tikus, tidak memiliki tempat tinggal, dan tidak bersekolah,” tutur Fletcher.(xn)











