Harga Sayur Mayur di Pagaralam Anjlok, Pedagang Buang Tomat Karena Tak Laku dan Busuk

Harga sayur mayur termasuk tomat di Kota Pagaralam, Provinsi Sumsel, anjlok, Rabu (6/1/2021).

Laporan: Novrico Saputra

Pagaralam, Sumselupdate.com – Awal tahun biasanya diharapkan masyarakat sebagai langkah awal yang baik dari berbagai sektor.

Bacaan Lainnya

Namun sepertinya harapan itu tinggal menjadi mimpi di siang hari bolong. Nyatanya, petani sayur di Kota Pagaralam, Provinsi Sumatera Selatan, justru mendapat kerugian besar.

Kerugian yang dialami petani sayur di Pagaralam lantaran harga komoditas tersebut, saat ini tengah anjlok. Bahkan, ada harga sayur yang tidak sesuai dengan biaya perawatan yang dikeluarkan para pejuang pangan tersebut.

Pantauan Sumselupdate.com di Pasar Nendagung Pagaralam, Rabu (6/1/2021), ada beberapa komoditas sayuran yang harganya anjlok.

Seperti bunga Kol yang saat ini hanya Rp5.000 per kilogram, padahal sebelumnya dari Rp10.000 per kilogramnnya.

Daun sop dari Rp4.000 per kilogram menjadi Rp1.000 per satu kilogram. Belum lagi harga sayur Bicai hanya Rp10.000 per tiga ikat.

Lebih parah lagi, harga tomat yang tinggal Rp250 per kilogram. Saat ini harga tomat dalam satu kotak dengan berat 70 kilogram hanya dihargai Rp15.000 saja.

Tak pelak, kondisi ini membuat banyak petani dan pedagang terpaksa membuang tomat ke tempat sampah karena tidak laku dan busuk.

Wati (47), salah satu pedagang di Pasar Nendagung Pagaralam mengaku, hampir semua komoditi sayur harganya anljok.

Pemicunya menurut dia, disebabkan tidak ada permintaan dari pedagang di Pasar Induk Jakabaring Palembang.

“Anjlok semua harga sayur sekarang dek mulai dari daun sop, kembang kol sampai bicai yang anjlok lebih dari 50 persen,” keluhnya.

Lebih parah lagi, menurut dia, harga tomat yang semula Rp7.000 per kilogram di tingkat pedagang, saat ini hanya tinggal Rp2.000 per satu kilogramnnya.

Bahkan jika ditingkat petani hanya Rp250 per kilogramnya, karena satu kotak hanya dihargai Rp15.000 dengan berat 70 kilogram per kotak.

“Tomat banyak busuk dan terpaksa dibuang karena harganya anjlok sekali dek. Bahkan lihat saja di tempat sampah sudah ada tomat yang dibuang karena busuk akibat tidak laku,” katanya.

Sementara itu, Man (37), petani tomat Pagaralam mengaku, pihaknya dipastikan akan merugi, sebab harga jual di tingkat petani sangat anjlok.

“Kemarin saya jual masih Rp400 per kilogram dan hari ini kabarnya tinggal Rp250 per kilogram karena per kotaknya hanya Rp15 ribu. Meskipun harga anjlok kami akan tetap menjual karena untuk menutupi biaya pemeliharaan dan biaya angkut,” cetusnya. (**)

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.