Hampir Seluruh Wilayah Jawa Bagian Selatan Terdampak

Ilustrasi

Tasikmalaya, Sumselupdate.com – Wilayah Tasikmalaya, Jumat (15/7),  dinihari diguncang gempa 5,5 SR. Menurut BMKG, gempa yang terjadi di hampir seluruh wilayah Jawa bagian selatan itu merupakan jenis gempa bumi langka.

“Berdasarkan hasil analisis peta tingkat guncangan (shake map) BMKG, dampak gempabumi ini menimbulkan guncangan pada I Skala Intensitas Gempabumi BMKG (SIG-BMKG) atau II skala intensitas Modified Mercally Intensity (MMI) di hampir seluruh wilayah Jawa bagian selatan dari Malingping,” ungkap Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono dalam keterangannya seperti dikutip detikcom, Jumat (15/7).

Bacaan Lainnya

Gempa tektonik dengan kekuatan M=5,1 itu terjadi pada pukul 01.28 WIB dan pusat gempa terletak pada koordinat 10.60 LS dan 107.95 BT. Tepatnya di Samudera Hindia pada jarak sekitar 330 km arah selatan Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, atau pada jarak 159 km arah timur Pulau Christmas dengan kedalaman hiposenter 10 km.

“Meskipun dampak gempa bumi tidak signifikan, tetapi peristiwa gempa bumi ini ditinjau dari zona seismogeniknya termasuk gempa bumi langka dan merupakan jenis gempa bumi dangkal di luar zona subduksi (outer rise), sehingga gempa bumi ini menarik bagi para ahli kebumian,” jelas Daryono.

Menurut Daryono, gempa ini tercatat dengan baik oleh peralatan BMKG dan beberapa orang dilaporkan merasakan guncangan gempa. Adapun wilayah selatan Jawa yang terkena dampak dari gempa seperti wilayah Pangandaran, Cilacap, Kebumen, Cilacap, Yogyakarta, Pacitan, hingga Malang.

“Jika kita memperhatikan letak episenternya, tampak bahwa pusat gempa bumi ini berasosiasi dengan dinamika tektonik di zona outer rise selatan Jawa yang mengalami tarikan Lempeng Indo-Australia di luar zona subduksi. Mengingat gaya yang bekerja berupa tarikan lempeng, maka relevan jika mekanisme sumber gempa bumi yang terjadi adalah penyesaran turun (normal fault),” lanjutnya.

Gempa bumi semacam ini disebut Daryono pernah terjadi di selatan Jawa pada 11 September 1921 dengan kekuatan M=7,5. Laporan Visser (1922) menunjukkan bahwa spektrum guncangan gempa bumi saat itu mencapai jarak sejauh 1.500 kilometer. Guncangan gempa kala itu untuk bagian barat dirasakan hingga Krui dan Lampung, sementara itu di wilayah timur, gempa dirasakan hingga Taliwang, Sumbawa.

“Di wilayah antara Cilacap dan Blitar dilaporkan banyak bangunan tembok mengalami retak-retak dan roboh. Menurut Soloviev dan Go (1984), gempa bumi outer rise Jawa 1921 memicu terjadinya tsunami kecil yang teramati di Parangtritis hingga Cilacap,” tutur Daryono.

Beruntung gempa Tasikmalaya dini hari tadi tidak berpotensi tsunami meski berpusat di laut dengan mekanisme sesar turun. Gempa tidak menimbulkan tsunami karena menurut Daryono, kekuatannya tidak mendukung adanya perubahan dasar laut yang signifikan untuk memicu terjadinya tsunami.

“Dari hasil monitoring BMKG selama satu jam paska-gempa bumi, belum terjadi gempa bumi susulan. Untuk itu masyarakat pesisir selatan Pulau Jawa diimbau agar tetap tenang mengingat gempa bumi yang terjadi tidak berpotensi tsunami,” kata dia.

Pada 19 Agustus 1977, gempa bumi M=8,3 di zona outer rise Samudera Hindia selatan Sumbawa diterangkan Daryono memicu terjadinya tsunami setinggi 5-8 meter dan menerjang Pantai Lunyuk, Sumbawa. Tsunami itu menyebabkan lebih dari 198 orang tewas.

“Zona outer rise memang zona gempa yang terabaikan, karena jarangnya gempa bumi terjadi di daerah ini,” tutup Daryono. (hyd/dtk)

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.