Angka Harapan Hidup Masyarakat Mura Meningkat

Muarabeliti, Sumselupdate.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Musi Rawas (Mura) mencatat bahwa angka harapan hidup masyarakat Musi Rawas (Mura) meningkat dari 66 tahun menjadi 67 Tahun.

Namun, demikian untuk tingkat angka harapan hidup masyarakat daerah Mura masih tergolong rendah, berada di urutan Ke-11 dari 17 Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel).

‎Kepala BPS Mura, Aidil Adha, mengakui bahwa memang angka harapan hidup masyarakat Mura tahun 2015 bertambah atau meningkat dari 2014 kendati peningkatan hanya satu tahun.

Namun untuk urutan angka harapan hidup di Provinsi Sumsel, Mura berada di urutan 11. Rincinya Pertama Kota Palembang, Kedua Kabupaten Prabumulih, Ketiga Lubuklinggau, Keempat Banyuasin, Kelima OKU Timur, Keenam Muba, Ketujuh OKI, disusul urutan Delapan Muara Enim, Sembilan Pali, Sepuluh OKU, Sebelas Mura, Dua Belas OKU Selatan, Tigas Belas Pagar Alam, Empat Belas Muratara, Lima Belas Lahat, Enam Belas Ogan Ilir dan terakhir Kabupaten Empat Lawang.

“Untuk angka harapan hidup ini dipengaruhi oleh kualitas kesehatan masyarakat. Sebab, semakin tinggi angka harapan hidup maka kualitas kesehatannya baik dan sebaliknya jika angka harapan hidup masyarakat rendah otomatis sektor kesehatan kita buruk,” terangnya.

Menurutnya, peningkatan angka harapan hidup masyarakat itu sendiri dipengaruhi sektor kesehatan utamanya angka kematian bayi (AKB) di 14 Kecamatan daerah Mura itu sendiri. Karena bayi lahir yang berusia 0-1 tahun dalam masa itu meninggal maka derajat kesehatannya rendah.

“Untuk umur 0-1 tahun adalah kondisi paling rentan terjadinya angka kematian disamping dipengaruhi oleh faktor lainnya,” ucapnya.

Disinggung mengenai AKB di daerah Kabupaten berselogan Bumi Lan Serasan Sekentenan sendiri, pihaknya mencatat untuk AKB pada tahun 2014 yang lalu mencapai 40,71/1000 kelahiran hidup. Artinya pada tahun itu ada 40 bayi yang meninggal dunia dalam seribu kelahirannya. Sedangkan, untuk tahun 2015 masih dilakukan pendataan dan kemungkinan akan mengalami penurunan seiring dengan meningkatkanya angka harapan hidup masyarakat.

“Untuk AKB kita peroleh dari hasil survei kelapangan secara langsung. Beda halnya dengan pihak Dinas Kesehatan menunggu laporan dari pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) maupun Postu,” bebernya.

Oleh karena itu, salah satu cara untuk meningkatkan angka harapan hidup itu sendiri adalah memperbaiki sektor kesehatan terutama mengurangi laju AKB ditengah-tengah masyarakat mulai dari perbaikan sanitasi air bersih, peningkatan kualitas sumber daya masyarakat (SDM) medis untuk memaksimalkan fungsi kesehatan masyarakat.

“Intinya peningkatan angka harapan hidup sangat dipengaruhi sektor kesehatan terutama penurunan AKB dan salah satunya memberikan edukasi pendidikan reproduksi perempuan untuk mencegah terjadinya pernikahan dini yang dapat juga memengaruhi AKB,” pungkasnya. (Ain)

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.