Muratara, Sumselupdate.com – Halaman kantor bupati dan 50 rumah di Desa Bingin Rupit, Kecamatan Rupit, Kabupaten Muratara terendam banjir. Banjir yang merendam rumah dan halaman kantor bupati akibat hujan yang mengguyur wilayah Berselang Serundingam, Selasa (22/8/2017).
Hal itu, membuat membuat pegawai maupun masyarakat yang ingin keluar harus menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat harus melaju kendaraannya lebih cepat, jika tidak bisa-bisa air masuk ke dalam knalpot kendaraan.
Menurut pantauan dilapangan setiap kendaraan yang hendak keluar harus melaju dengan cepat dan bahkan ada juga kendaraan yang tidak ingin mengambil resiko harus memutar keluar melewati pintu masuk Kantor Bupati dan tidak sedikit ada yang nekat. Meskipun demikian tidak ada kendaraan yang mogok.
Manto (40) salah satu masyarakat yang berkunjung ke Kantor Bupati mengatakan banjir ini diakibatkan tidak memiliki siring pembuangan air. Sehingga membuat air tergenang yang diakibatkan hujan semalaman menguyur Kabupaten Muratara.
Lanjutnya, seharusnya pemerintah mesti sigap untuk membuat saluran pembuangan air, sebab jika dibiarkan maka secara terus menerus ketika hujan pasti banjir.
“Solusinya mesti membuat saluran pembuangan air, sebab jika dibiarkan maka akan terus banjir. Apalagi ini di pingir Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) tentunya akan dilihat orang dari luar daerah, kan merasa malu,” ucapnya.
Ia menjelaskan ada beberapa kendaraan yang memaksa mengarungi genangan air untuk keluar dan jika tidak berhati-hati mengakibatkan mobil mogok. “Saya lihat banyak kendaraan yang memaksa untuk keluar mengarungi genangan air,” jelasnya.
Disisi lain, banjir langganan kembali melanda desa Bingin Rupit, Kecamatan Rupit, Kabupaten Muratara. Tepatnya di wilayah tepi Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) simpang 3 Desa Bingin Rupit hingga arah PT Dendi dan sekitarnya, sebanyak 50 rumah warga yang terendam banjir.
Air mulai naik sekitar pukul 04.00 WIB dan mencapai se pinggang orang dewasa, sehingga membuat masyarakat kelelahan mengangkat barang-barang ke tempat yang lebih aman.
Hal ini dikeluhkan masyarakat setempat, pasalnya irigasi di daerah ini tidak berfungsi sehingga ketika hujan deras tidak ada tempat pembuangan air dan membuat air tergenang.
“Daerah ini strategis terletak di pinggir Jalinsum sangat miris jika wilayah ini menjadi langganan banjir, bahkan kami sangat kelelahan sekali untuk menyelamatkan barang-barang elektronik,” ucap Fatima (22).
Dikatakannya, lihat saja daerah ini pinggir jalan dan tidak terlalu jauh dari Pemkab akan sangat mudah pemerintah memantau untuk memperhatikan masyarakat disini. “Saya merasa kasihan dengan masyarakat disini, ketika musim hujan selalu dihantui oleh banjir dan bahkan tidak bisa tidur nyenyak takut banjir,” katanya.
Ia menambahkan sudah berkali-kali kami meminta supaya pemerintah membangun siring pembuangan air, akan tetapi hingga sekarang tidak ada tanda-tanda akan dibangun siring.
“Dulu ada dibangun saluran irigasi yang menghubungkan ke PT Dendi Marker, akan tetapi sekarang tidak berfungsi,” tuturnya.
Sementara itu, Kades Bingin Rupit Henki Basyip, membenarkan desanya itu menjadi langganan banjir ketika hujan deras. “Memang benar daerah ini sudah lama menjadi langganan banjir, sebab belum memiliki siring pembuangan air,” jelasnya. (ain)











