Gunung Es A23a Membiru, Isyarat Kehancuran Raksasa Es Antartika

Writer: - Kamis, 15 Januari 2026
Gunung Es Raksasa Antartika Berubah Jadi Biru, Pertanda Apa? Foto: Rob Suisted via REUTERS

Jakarta, Sumselupdate.com – Foto satelit terbaru mengungkap perubahan mencolok pada gunung es raksasa A23a di Antartika. Bongkahan es yang pernah tercatat sebagai gunung es terbesar di dunia itu kini tampak berwarna biru cerah atau dikenal dengan istilah blue mush, sebuah fenomena yang menandakan proses pencairan dan pelemahan struktur es.

Setelah hampir empat dekade mengambang di Samudra Selatan, A23a kini menunjukkan tanda-tanda memasuki fase akhir siklus hidupnya. Gunung es ini pertama kali terlepas dari Filchner-Ronne Ice Shelf pada 1986 dan sempat terperangkap di dasar laut selama bertahun-tahun.

Sekitar tahun 2020, A23a akhirnya terbebas dari jebakan dasar laut dan mulai mengapung bebas. Sejak itu, gunung es raksasa tersebut berputar mengikuti arus laut, perlahan menjauh dari daratan Antartika dan bergerak menuju perairan yang lebih hangat.

Citra satelit NASA Terra yang diambil pada 26 Desember 2025 menunjukkan permukaan A23a dipenuhi kolam-kolam air lelehan berwarna biru mencolok. Warna tersebut muncul akibat es permukaan yang kehilangan struktur padatnya, sehingga air mencair menumpuk di cekungan-cekungan kecil.

“Kolam air yang terlihat menunjukkan struktur es telah melemah secara signifikan dan proses pecahnya gunung es semakin cepat,” ujar ilmuwan iklim dari University of Colorado Boulder, Ted Scambos, dikutip dari Live Science.

Pensiunan glasiolog yang kini meneliti sejarah A23a, Chris Shuman, menambahkan bahwa warna biru yang masih terlihat mencerminkan perjalanan panjang dan perubahan fisik yang dialami gunung es tersebut selama puluhan tahun.

Dalam beberapa tahun terakhir, A23a telah kehilangan sebagian besar massanya. Pecahan-pecahan besar terus terlepas dari bongkahan utama seiring pergerakannya ke perairan yang lebih hangat, mempercepat proses fragmentasi dan pencairan.

Meski pencairan gunung es seperti A23a tidak secara langsung menaikkan permukaan laut karena es tersebut sudah terapung, fenomena ini tetap menjadi indikator penting perubahan iklim global dan dampaknya terhadap sistem es Antartika serta lautan di sekitarnya.

Kisah A23a menjadi contoh nyata bagaimana formasi es raksasa di Bumi bereaksi terhadap perubahan lingkungan dalam jangka panjang. Dari kejayaannya sebagai gunung es terbesar hingga fase akhir yang ditandai warna biru dan fragmentasi, A23a memberikan pelajaran penting bagi pemantauan dinamika iklim dan laut dunia.

Apakah A23a telah sepenuhnya memasuki fase akhir hidupnya masih terus dipantau oleh komunitas ilmuwan global, dengan citra satelit yang akan merekam perubahan lanjutan dalam beberapa bulan ke depan.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts