Gaza Gelar Kampanye Vaksinasi Massal, Puluhan Ribu Anak Terancam Penyakit Akibat Dua Tahun Tanpa Imunisasi

Writer: - Selasa, 11 November 2025
Sejumlah warga Palestina terlihat setelah kembali ke wilayah Sheikh Radwan yang hancur di sebelah utara Gaza City pada 6 November 2025. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)

Gaza, Sumselupdate.com – Otoritas kesehatan di Jalur Gaza pada Minggu (9/11) meluncurkan kampanye vaksinasi massal yang menargetkan anak-anak di bawah usia tiga tahun. Langkah ini diambil untuk mencegah wabah penyakit menular setelah dua tahun layanan imunisasi terganggu akibat perang.

Dalam pernyataannya, otoritas kesehatan Gaza menyebutkan bahwa program vaksinasi ini dilaksanakan di 150 pusat kesehatan di seluruh wilayah Gaza. Kegiatan tersebut bekerja sama dengan Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina di Kawasan Timur Tengah (UNRWA), Perhimpunan Bulan Sabit Merah Palestina (Palestinian Red Crescent Society/PRCS), serta mendapat dukungan dari Dana Anak-anak PBB (UNICEF) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Read More

Kampanye ini akan berlangsung selama 10 hari dan dilaksanakan dalam tiga fase yang masing-masing berjarak satu bulan, dengan target menjangkau anak-anak yang melewatkan vaksinasi rutin sejak pecahnya perang pada Oktober 2023.

Direktur medis Rumah Sakit Lapangan PRCS al-Saraya di Gaza City, Salim al-Qirm, mengatakan sekitar 45.000 anak di Gaza belum menerima vaksinasi esensial selama dua tahun terakhir.

“Terhentinya program vaksinasi telah meningkatkan risiko penyebaran wabah penyakit menular yang serius,” ujarnya. Ia menambahkan, malanutrisi dan anemia yang meluas di kalangan anak-anak semakin melemahkan sistem kekebalan tubuh mereka.

Seorang anak Palestina terlihat di area Sheikh Radwan yang hancur di sebelah utara Gaza City pada 6 November 2025. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)

Al-Qirm menyebutkan, ratusan anak meninggal dalam dua tahun terakhir akibat kondisi kesehatan yang memburuk dan lemahnya sistem imun. “Situasi kesehatan anak-anak di Gaza sangat memprihatinkan akibat kelangkaan vaksin, makanan, dan susu formula bayi, serta memburuknya layanan kesehatan,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa tim medis telah mulai memberikan vaksin untuk polio, campak, cacar, dan hepatitis, serta mendapat respons positif dari para orang tua.

Di salah satu pos vaksinasi dekat Rumah Sakit PRCS, seorang warga bernama Aya Abu Obeid mengatakan dirinya membawa putra berusia dua tahun untuk menerima dosis vaksin pertamanya sejak 2023.

“Saya bergegas ke sini begitu mendengar kabar tentang kampanye vaksinasi, karena anak saya belum pernah menerima satu pun dosis vaksin selama dua tahun terakhir akibat gangguan layanan kesehatan,” ungkapnya kepada Xinhua.

Abu Obeid menuturkan, anak-anak di Gaza sangat rentan terhadap berbagai penyakit karena air yang tercemar, sanitasi yang buruk, dan tumpukan sampah. “Vaksinasi menjadi hal yang sangat mendesak di kondisi seperti ini,” tambahnya.

Sementara itu, di kamp pengungsi al-Bureij di Gaza Tengah, Sumaya Ayoub membawa anak bungsunya untuk divaksin setelah putra sulungnya tertular cacar air di pengungsian. Ia mengaku telah berulang kali mencari vaksin namun tidak berhasil menemukannya. “Kampanye ini menjadi kesempatan bagi kami untuk melindungi anak-anak dari penyakit yang sebenarnya bisa dicegah,” ujarnya.

Sebelumnya, pada Kamis (6/11), Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengumumkan bahwa organisasi tersebut akan menyediakan layanan imunisasi rutin, gizi, dan pemantauan pertumbuhan bagi sekitar 44.000 anak di Gaza. Ia menegaskan bahwa anak-anak di Gaza “telah terputus dari layanan kesehatan yang menyelamatkan jiwa selama hampir dua tahun akibat konflik.”

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts