Washington, Sumselupdate.com – Pilot pesawat dari setidaknya dua penerbangan di AS telah melaporkan bahwa sistem otomatis tampaknya telah menyebabkan pesawat Boeing 737 MAX 8 yang mereka kemudikan menukik (tilt down) secara tiba-tiba.
Berdasarkan sejumlah laporan yang diajukan tahun lalu dalam database yang disusun oleh NASA, kedua pilot itu mengatakan tidak lama setelah mengaktifkan sistem autopilot di pesawat mereka, hidung dari burung besi yang mereka awaki mengarah ke bawah dengan tajam.
Dalam kedua kasus mereka berhasil memulihkan dengan cepat kondisi itu setelah mematikan sistem autopilot, kata mereka.
Masalah seperti yang dijelaskan oleh kedua pilot ini, bagaimanapun, tidak muncul terkait dengan sistem anti-stall (pesawat kehilangan daya angkat) otomatis baru yang diduga berkontribusi terhadap kasus kecelakaan mematikan yang terjadi pada Oktober lalu di Indonesia.
Pastinya, pasca jatuhnya pesawat Ethiopian Airlines pada hari Minggu kemarin, semakin banyak negara dan maskapai yang menangguhkan penerbangan Boeing 737 MAX. Insiden ini merupakan kali keduanya terjadi pada model terbaru Boeing tersebut.
Ethiopian Airlines dengan nomor penerbangan ET 302 rencananya akan menuju Nairobi (Kenya). Namun burung besi ini tiba-tiba hilang kontak setelah 6 menit lepas landas dari Bandara Internasional Bole di Addis Ababa (Ethiopia).
Kemudian, pesawat dikonfirmasi jatuh di Bishoftu dan menewaskan seluruh penumpang dan kru kabin yang diangkutnya.
Insiden nahas ini kembali menjadi sorotan media dan publik, setelah lima bulan sebelumnya –29 Oktober 2018– Lion Air dengan nomor penerbangan JT 610 yang menggunakan unit Boeing serupa, jatuh di Tanjung Pakis, Karawangan, Jawa Barat.
Pesawat tersebut juga hilang kontak sebelum diketahui jatuh, 13 menit tinggal landas dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Jakarta), ketika hendak terbang menuju Pangkal Pinang (Bangka Belitung). Tak satupun orang di dalamnya selamat.
Masyarakat internasional menggarisbawahi model pesawat yang digunakan oleh Lion Air dan Ethiopian Airlines, yakni Boeing 737 MAX. Dalam kedua kasus, pilot dilaporkan mengalami kesulitan dan meminta izin untuk kembali.
737 MAX telah menjadi model baru yang populer untuk Boeing sejak masuk ke layanan komersial pada 2017. Lebih dari 300 armada saat ini beroperasi di sejumlah negara dan lebih dari 5.000 unit sudah dipesan di seluruh dunia.
Otoritas Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) mengeluarkan pemberitahuan global tentang kelaikan penerbangan yang berkelanjutan pada Senin malam.
“Laporan eksternal menggambarkan kesamaan antara kecelakaan Ethiopian Airlines dan Lion Air. Namun, penyelidikan terhadap Ethiopian baru saja dimulai dan sampai saat ini kami belum diberikan data untuk menarik kesimpulan atau mengambil tindakan apa pun,” agen tersebut berkata, sebagaimana dikutip dari TIME, Rabu (13/3/2019).
Banyak politisi Amerika, termasuk Senator Mitt Romney, Senator Dianne Feinstein, dan Senator Richard Blumenthal, mulai menyerukan agar semua pesawat model Boeing 737 MAX yang beroperasi di AS ditangguhkan.
“Sampai penyebab kecelakaan tersebut (Ethiopian dan Lion) diketahui dan risiko serupa tidak ada dalam armada domestik, maka saya percaya semua pesawat seri Boeing 737 MAX yang beroperasi di Amerika Serikat harus dikandangkan untuk sementara waktu,” tegas Feinstein dalam sebuah pernyataan.
Ketika penyelidik mulai bekerja untuk menentukan penyebab kecelakaan Ethiopian Airlines, setidaknya sudah ada 17 negara yang melarang Boeing 737 MAX mengudara dalam jangka waktu tak tentu, di samping Indonesia dan Ethiopia.
Selain itu, sedikitnya ada 26 maskapai penerbangan dari bermacam negara yang menghentikan penerbangan 737 MAX. (lip/dtc)











