Dua Beradik Terdakwa Pembunuhan Rio Pambudi Dituntut 11 Tahun dan 13 Tahun Penjara

Sidang dengan agenda mendengarkan tuntutan JPU di Pengadilan Negeri Palembang, Klas 1A Khusus Sumsel terhadap dua terdakwa kasus penganiayaan yang mengakibatkan Rio Pambudi (25), warga Perumahan Griya Macan Lindungan, Kelurahan Bukit Baru, Kecamatan Ilir Barat I Palembang, meninggal dunia,

Palembang, Sumselupdate.com – Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut dua terdakwa pembunuhan terhadap Rio Pambudi di kawasan Macan Lindungan, yakni Oka Chandra Dinata (28) dan adiknya Riski alias Jack (22), masing-masing 11 tahun dan 13 tahun.

Tuntutan itu dibacakan oleh JPU Kejari Palembang pada sidang yang dipimpin oleh Hakim Ketua Efrata Tarigan, secara virtual di ruang Sidang Pengadilan Negeri Klas 1 A Khusus, Senin (14/12/2020) sore.

Bacaan Lainnya

Dalam pembacaan tuntutan tersebut Faisal menyebutkan bahwa kedua terdakwa dikenakan pasal 338 junto 55 tentang pembunuhan berencana dengan hukuman untuk terdakwa Oka 13 tahun penjara dan untuk adiknya Jack 11 tahun kurungan.

“Dengan ini menuntut kedua terdakwa karena telah terbukti bersalah sesuai dengan pasal 338 junto 55 ayat 1 tentang pembunuhan berencana,” kata Faisal saat pembacaan amr tuntutan yang telah tertunda sebanyak lima kali ini.

Mendengar tuntutan tersebut, kuasa hukum kedua terdakwa, Novriansyah meminta waktu untuk mengajukan pembelaan (pledoi) selama satu minggu kedepan.

“Izin pak hakim kami minta waktu satu minggu untuk ngajuin pledoi,” ucapnya.

Dengan demikian, para majelis hakim pun menyetujui dan menunda jalannya persidangan hingga tanggal 5 Januari 2021.

 

 

Sidang sebelumnya

Pada sidang sebelumnya, yang dilaksanakan secara virtual, dihadapan majelis hakim yang dipimpin Hakim Ketua Efrata Hepi Tarigan SH MH. Dalam persidangan ini JPU, M Faisal SH menghadirkan tiga orang saksi yakni Ganda Saputra, Muhammad Bahri, dan Masuri.

Ketiganya merupakan tetangga dari korban (alm) Rio Pambudi dan 2 terdakwa, Oka Candra Dinata dan Rizki Ananda. Ketiga saksi memberikan keterangan secara bergantian dihadapan majelis hakim, dan juga disaksikan kedua terdakwa melalui sambungan telekonfrensi.

Ganda, saksi yang merupakan tetangga korban dan terdakwa, menerangkan kesaksiannya bahwa, kejadian tersebut terjadi pada bulan Juli 20202 lalu.

“Saya melihat Oka memasukan pisau ke sarungnya. Pisau itu ditaruh di pinggang,” ujar Ganda saat menjawab pertanyaan yang diajukan oleh hakim ketua.

Ia juga mengatakan kejadian mengerikan itu terjadi di depan rumah korban, saat itu dirinya melihat terdakwa Riski sedang mengejar Rio Pambudi (alm).

“Saya lihat Riski mengejar Rio. Saat itu juga saya melihat Ada ibu dan kakak Rio Pambudi di depan rumahnya,” ujar Ganda.

Ditanya hakim ketua, Ganda mengaku jika pernah mendengar keluarga korban dan terdakwa ribut, jauh sebelum kejadian yang mengakibatkan Rio Pambudi meninggal dunia.

“Keluarga keduanya pernah ribut. Orangtua Rio dengan orangtua Oka. Kalau sepengetahuan saya, pernah ribut satu kali dan sampai ke Ketua RT,” jelas Ganda.

Selain Ganda, tetangga korban dan terdakwa, Bahri juga memberikan kesaksiannya dihadapan majelis hakim.

“Saya melihat Riski ada bekas darah ditubuhnya. Saya dan ganda langsung menolong Rio yang sudah bersimbah darah,” ujar Bahri.

Ia juga menjelaskan jika, saat itu kondisi Rio masih dalam keadaan bernyawa, namun banyak mengeluarkan darah. Dan saksi, Mansuri yang juga merupakan tetangga terdakwa dan korban, memberikan kesaksiannya.

“Saya lihat mereka ribut. Saat itu saya lihat ada kedua terdakwa, korban, dan kakak korban. Mengetahui hal itu, saya menghubungi Pak RT,” ujarnya singkat.

Mendengar kesaksian dari tiga orang yang dihadirkan oleh JPU M Faisal SH, kedua terdakwa kakak adik, Oka Candra Dinata dan Rizki Ananda tidak memberikan bantahan.

 

Sidang Lanjutan

Pada persidangan kali ini, kedua orangtua kandung terdakwa, yakni Antoni dan Anita dihadirkan sebagai saksi. Kedua saksi dihadirkan di Polsek Ilir Barat I, melalui sambungan virtual yang terhubung ke Pengadilan Negeri Palembang, Kamis (19/11/2020)

Sidang dipimpin Hakim Ketua Efrata Hepi Tarigan. Kedua saksi, Antoni dan Anita merupakan orangtua kandung dari, terdakwa Oka Candra Dinata dan Rizki alias Jack, yang saat kejadian pada Juli lalu, turut menyaksikan keributan yang melibatkan kedua anaknya itu.

Antoni, ayah kandung dari kedua terdakwa Oka dan Riski memberikan keterangan dihadapan majelis hakim, bahwasanya saat kejadian dirinya ada di dekat kedua anaknya yang saat ini merupakan terdakwa.

“Saat itu saya lihat Oka dan korban sedang ribut dengan korban. Saya sempat melerai dan meminta maaf, namun korban, Alm. Rio Pambudi menjawabnya dengan kata-kata kasar,” jelas Antoni.

Ia juga mengakui jika sebelumnya keluarganya dan keluarga dari Alm. Rio Pambudi pernah cekcok karena masalah monyet. Namun hal tersebut sudah selesai, karena dirinya sudah datang kerumah keluarga Alm Rio dan berdamai.

“Sudah damai pak, untuk masalah monyet. Kami sudah datang kerumahnya bersama pak RT,” ungkap Antoni.

Disinggung oleh majelis hakim mengenai kasus yang melibatkan kedua anaknya (terdakwa) dan korban Rio, Antoni memberikan keterangan jika saat kejadiaan dirinya ada di lokasi, dekat dengan kedua anaknya.

“Oka balik kerumah ambil pisau, karena merasa kalah di dorong dan ditendang oleh korban,” ujar Antoni saat dicecear pertanyaan oleh majelis hakim, Kamis sore (18/11/2020).

Ia juga menambahkan jika, pihak keluarganya, sudah berusaha untuk melakukan upaya perdamaian dengan pihak keluarga Alm. Rio, namun sampai saat ini upaya tersebut selalu mendapat penolakan.

Sedangkan Anita, ibu kandung dua terdakwa memberikan kesaksiannya pada majelis hakim bahwa pada saat kejadian dirinya, tidak melihat ada penusukan.

“Saat kejadian saya tidak lihat ada penusukan. Tapi saya ada disana saat itu,” ujarnya menjawab pertanyaan majelis hakim.

Ia juga menjelaskan bahwa terdakwa Riski alias Jack mengambil pisau dari rumahnya yang berkelang satu dari rumah korban, Alm. Rio.

Sama seperti suaminya Antoni, Anita juga membenarkan jika keluarganya perna bermasalah dengan keluarga korban pasal monyet.

Dari persidangan, diketahuiad dua pisau buah pisau berlaras panjang dan pendek yang menjadi barang bukti, dan diakui oleh kedua saksi sebagai barang yang ia kenal.

Saat Jaksa Penuntut Umum, Faisal SH diminta hakim ketua menunjukan dua buah pisau, Antoni ayah kandung dua terdakwa mengaku kenal dan mengatakan jika pisau dengan ukuran yang cukup panjang tersebut miliknya. Yang saat kejadian ada dirumah Oka, dan dipakai untuk melakukan penusukan pada Alm. Rio Pambudi.

Saat kedua saksi memberikan keterangan dihadapan majelis hakim, terdengar dari balik layar, keluarga korban Rio Pambudi meneriaki kesaksian kedua saksi dengan kata-kata ‘Bohong’.

“Bohong, bohong pak hakim,” ujar keluarga korban Rio Pambudi dari balik layar.

Atas kesaksian yang dihadirkan dalam persidangan majelis hakim memberikan waktu satu minggu untuk Jaksa Penuntu Umum untuk mempersiapkan tuntutan kepada kedua terdakwa.

Sebelumnya diketahui, pada bulan Juli 2020, Rio Pambudi (25) warga Perumahan Griya Macan Lindungan, Kelurahan Bukit Baru, Kecamatan Ilir Barat I Palembang, tewas setelah dianiaya oleh kakak beradik Oka Candra Dinata dan Rizki alias Jack.

Ia meninggal dunia setelah banyak kehabisan darah akibat luka tusukan bemda tajam pada bagaian kiri bawah ketiak dekat dadanya oleh terdakwa Oka, yang saat itu dibantu oleh adiknya Riski alias Jack. (Ron)

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.