Delegasi juga membahas peluang kerja sama dengan Universitas Guangzhou, termasuk rencana penandatanganan nota kesepahaman (MoU) di bidang pendidikan.
Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya, Mundakir, menilai pengalaman inovasi pendidikan di China layak dijadikan referensi bagi Indonesia.
Ia berharap kerja sama dapat diperluas melalui pertukaran mahasiswa dan dosen, sehingga praktik pendidikan modern dapat diadopsi di tanah air.
Di sektor kesehatan, delegasi mempelajari sistem layanan medis berbasis teknologi di berbagai fasilitas kesehatan di Guangzhou. Mereka juga meninjau sistem penanganan pasien darurat yang terintegrasi dan efisien.
Sementara itu, di Rumah Sakit Afiliasi Pertama Universitas Jinan, delegasi menyaksikan teknologi rehabilitasi berbasis robot yang dipadukan dengan antarmuka otak-komputer (brain-computer interface/BCI).
Teknologi tersebut memungkinkan pasien lumpuh memulihkan fungsi motorik secara bertahap, seperti menggenggam tangan dan berjalan.
Rektor Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Hidayatulloh, mengaku terkesan dan berharap teknologi serupa dapat diterapkan di Indonesia.
“Melalui kerja sama, kami berharap teknologi ini bisa dihadirkan untuk membantu pasien di Indonesia,” ujarnya.
Kunjungan ke kantor pusat Mindray juga menjadi sorotan, dengan berbagai perangkat medis canggih seperti monitor berpresisi tinggi, sistem ultrasonografi portabel, hingga solusi telemedis.
Direktur PT Surya Medika Timur, Rudi Utomo, menilai teknologi tersebut berpotensi meningkatkan kualitas layanan kesehatan di Indonesia.
Kunjungan ini tidak hanya memberikan pengalaman langsung terhadap kemajuan teknologi China, tetapi juga membuka peluang kerja sama konkret di masa depan, sekaligus mempererat hubungan antara Indonesia dan China di bidang pendidikan dan kesehatan.
(**)











