Dear Ibu-ibu, Harga Cabai di Palembang Capai Rp80 Ribu Per Kilogram!

Seorang pedagang cabai di Pasar Macan Lindungan, Kelurahan Bukit Baru, Kecamatan IB I Palembang melayani pembeli, (Foto dokumen Sumselupdate.com)

Laporan: Edwar Heryadi

Palembang, Sumselupdate.com – Menjelang Natal dan Tahun Baru harga cabai merah di Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan melonjak hingga mencapai Rp80 ribu per kilogram.

Bacaan Lainnya

Kenaikan harga cabai ini mencapai angka tertinggi. Pasalnya, jika dibandingkan pekan lalu, harga cabai merah cuma Rp20 ribu-Rp22 ribu untuk satu kilogramnya.

Paulina (48), pedagang sayur di pasar tradisional Macan Lindungan, Kelurahan Bukit Baru, Kecamatan Ilir Barat I, Palembang kepada Sumselupdate.com, Minggu (20/12/2020), mengatakan, kenaikan harga cabai ini sudah terjadi beberapa hari terakhir.

Dia mengaku, kenaikan harga cabai sudah terjadi di tingkat agen, sehingga mereka hanya mengikuti saja.

Selain harga cabai mengalami lonjakan. Harga ayam potong ikut mengalami kenaikan cukup signifikan.

Di sejumlah pasar tradisional di Palembang, pekan lalu hanya Rp25 ribu perkilogramnya, saat ini berkisar Rp33 ribu hingga Rp34 ribu per kilogramnya.

Kenaikan ayam potong diikuti telur ayam yang mencapai Rp28 ribu per kilogram. Di mana pekan lalu hanya Rp21 ribu per kilogramnya.

Melansir dari laman detikcom berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 7 tahun 2020, harga acuan telur ayam di tingkat konsumen sebesar Rp24.000/kg.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Syailendra mengungkapkan, kenaikan ini terjadi karena ada penurunan pasokan telur ayam karena jumlah ayam petelur (layer) juga berkurang.

“Imbas dari harga broiler (ayam pedaging/potong) yang sempat tinggi pada periode sebelumnya yang mengakibatkan sebagian ayam layer beralih ikut memasok pasar broiler, atau diafkir/kapasitas ayam ras petelur berkurang, sehingga berdampak pada berkurangnya pasokan telur ayam ras saat ini,” kata Syailendra kepada detikcom.

Selain itu, ia mengatakan kenaikan harga telur juga disebabkan oleh harga pakan ternak impor yang naik.

“Kenaikan harga pakan akibat bahan baku asal impor yang mengalami kenaikan turut juga memperparah kondisi harga telur ayam ras saat ini,” jelas dia.

Sementara itu, menurut Direktur Jenderal PKH Kementan Nasrullah, baik dari sisi stok telur sebenarnya cukup. Selain itu, menurutnya aktivitas afkir pada ayam petelur dilakukan pada ayam yang sudah tidak produksi telur lagi. Maksudnya, ayam petelur yang diafkir dan dijual menjadi ayam potong tidak mengurangi stok telur, karena sebelumnya ayam itu juga sudah tak lagi produksi telur.

“Kalau afkir yang dijual itu ayam yang sudah tidak bertelur lagi. Jadi tidak ada hubungannya dengan produksi telur karena sudah diafkir,” kata Nasrullah.

Melengkapi Nasrullah, Kepala Bidang Harga Pangan Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian Inti Pertiwi mengatakan, kenaikan disebabkan oleh tingginya permintaan di tengah pandemi, dengan angka konsumsi telur naik 0,09 kilo per kapita per tahun.

Inti menuturkan, pandemi ini membuat masyarakat beralih mengkonsumsi telur ayam ketimbang daging. Hal itulah yang menyebabkan permintaan tinggi, dan harga telur ayam pun naik.

“Penurunan produksi produk peternakan selama pandemi itu sampai 40%, tapi tidak untuk telur. Telur nggak ikutan turun, karena orang beralih dari daging, ke telur. Karena banyak keunggulan telur, lalu lebih murah, dan mudah menjangkaunya,” papar dia.

Inti memproyeksi, harga telur ayam masih terus naik hingga Januari 2021. (dtc)

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.