Data WNI Diduga Bocor, Rudiantara Ingatkan RI Jadi Sasaran Serangan Siber

Mantan Menkominfo Rudiantara

Jakarta, Sumselupdate.com – 279 juta data warga negara Indonesia (WNI) yang identik seperti data BPJS Kesehatan diduga bocor. Mantan Menkominfo Rudiantara mengingatkan Indonesia kerap menjadi sasaran serangan siber.

“Memang akhir-akhir ini ramai ‘bocornya’ 279 juta data BPJS. Kalau kita bicara keamanan data di era digital dan sebagainya, itu sebenarnya nggak beda sama keamanan kita sehari-hari,” ujar Rudiantara dalam sebuah diskusi di Gelora Media Centre, Jakarta Selatan, Sabtu (29/5/2021), seperti dilansir Detikcom.

“Misal kita punya motor pribadi, tapi kita teledor menyimpan di luar rumah. Kunci ditempel. Itu sama saja dengan kita punya email tapi password-nya itu semua orang tahu. Jadi yang mendasar kesadaran semua orang akan pentingnya kerahasiaan informasi, itu tidak berbeda dengan kerahasiaan aset kita,” tambahnya.

Rudiantara menganalogikan menjaga data digital masing-masing warga seperti menjaga dompet. Dia meminta warga harus rajin mengganti password secara rutin.

“Siapa yang berani simpan dompet di restoran tanpa diawasi? Semua kan disimpan di kantong baik-baik. Nah sama seperti di keamanan digital kita harus selalu ikhtiar. Ikhtiarnya apa? Dengan disiplin, dengan konsisten, menjaga kerahasiaan pin, password,” tutur Rudiantara.

Selain itu, Rudiantara membeberkan Indonesia menjadi negara ketiga yang paling banyak mendapat serangan siber. Hanya saja, serangan itu berupa malware, bukan hacking atau phising. Malware adalah perangkat lunak yang ditujukan untuk memanipulasi hingga mencuri data digital.

“Hari ini Indonesia masuk nomor 3 negara, setelah Mongolia dan Nepal, negara yang jadi target attack. Sampai jam hari ini sudah ada 8 juta attack di dunia. Jadi setiap detik ada walau kebanyakan malware, bukan hacking, bukan phising. Tapi ini terjadi ini dunia nyata kita. Ini bukan menakut-nakuti. Ini memberi awarenesses betapa attack itu secara global terus menerus,” terangnya.

Bagaimana pun, Rudiantara meminta dalang di balik bocornya data WNI yang diduga identik dengan data BPJS Kesehatan harus diusut sampai tuntas. Dia menjelaskan pelaku harus diberikan efek jera.

“Kalau menurut saya harus dikejar terus sampai ditemukan siapa yang bersalah dan harus ada efek jera. Karena kalau tidak, nanti seperti yang sudah-sudah bisa ada kejadian yang dianggap bocor, tapi setelah itu tidak ada tindak lanjut. Kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga informasi tentang dirinya tidak beda seperti jaga properti, aset, sepeda, motor, mobil, ponsel. Dunia maya dengan dunia biasa tidak berbeda,” ucap Rudiantara.

Sementara itu, pakar intelijen dan keamanan Andi Wijayanto menerangkan Indonesia harus memperkuat teknologi. Hanya, menurut Andi, pandemi COVID-19 membuat penguatan teknologi Indonesia terhambat.

“Untuk amankan siber kita, untuk memperkuat keamanan nasional kita, kuncinya teknologi. Kalau kuncinya teknologi, mau tidak mau yang dibicarakan alokasi anggaran. Sekarang BSSN (Badan Siber dan Sandi Negara) tidak dalam kondisi ideal untuk bangun infrastruktur. BSSN baru terbentuk 2017,” kata Andi.

“Kepalanya sedang berupaya transformasi BSSN. Tiba-tiba ‘boom’, COVID-19. Jadi tertunda yang direncanakan. Karena harus prioritaskan COVID. Moga-moga pandemi segera berakhir,” lanjutnya.

Sedangkan Ketum Partai Gelora Anis Matta menyarankan Indonesia harus merumuskan sistem dan strategi pertahanan baru. Anis menyebut Indonesia beruntung hanya kebobolan diduga data BPJS Kesehatan, bukan data militer atau kepolisian.

“Di sisi pertahanan kita perlu rumuskan sistem dan strategi pertahanan yang baru. Misalnya kalau kita bicara keamanan digital, ini hulu masalahnya di mana. Jangankan kita yang tidak punya satelit. Yang punya satelit juga bocor semua ini. Tapi paling tidak misalnya kalau kita lihat, China dan Rusia paling jarang mengalami kebobolan seperti ini. Karena dia independen dalam teknologi,” jelasnya.

“Tapi kan sekarang baru kebobolan data BPJS. Kita belum kebayang kalau data militer, kepolisian, dan seterusnya itu semua bobol. Ini jan kita belum kebayang. Mungkin karena kita nggak punya negara yang jadi musuh secara spesifik. Dan ini kesulitan kita di era digital, bukan negara. Tapi korporasi kecil-kecil. Yang kerjaannya memang ngehack, mencuri data,” imbuh Anis.(dtc)

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.