Cerpen: Wanita yang Menghapus Air Mata Saat Gerimis Reda

Minggu, 5 September 2021
Ilustrasi.

GERIMIS pagi basahi bumi. Desahannya menetes di tanah. Jagad raya dan penghuninya bahagia. Ada asupan air dari langit. Menyuburkan alam. Hutan kembali menghijau. Aroma bunga mulai mekar. Rerumputan menjulang.

Wanita itu masih menatap gerimis pagi yang tak kunjung usai. Tatapannya nanar. Ada sesuatu yang tersembunyikan.

Read More

Sementara tangannya dengan cekatan melipat baju-baju yang tak tersusun rapi. Beberapa kali desahan kecil meluncur dari keronglongannya terdengar tanpa mampu dia sembunyikan.

“Ah…Sudah tiga bulan,” katanya, dalam hati. Sementara di seberang rumah, sepasang sorot mata tajam menatapnya dengan sembunyi-sembunyi.

Astuti sudah tiga bulan dihijrahkan keluarga besarnya ke Kampung. Dan sudah tiga bulan pula usia kandungannya bertambah. Dan selama tiga bulan ini, Astuti hanya ditemani sepasang suami istri.

Mereka adalah Mang Toha dan Wak Mina yang diberi kepercayaan khusus oleh orang tuanya untuk mengurus putri mareka hingga masa kelahirannya tiba.

“Saya dan istri percayakan semua urusan soal Astuti kepada kalian. Jaga dan urus Astuti sebagaimana kalian mengurus anak kalian,” pinta Ayah Astuti.

“Iya Pak,” ujar kedua suami istri itu serempak.

Astuti hanya terdiam.

Astuti tak menyangka kehidupannya harus membuatnya tersingkir dari indahnya kehidupan kota yang menawarkan sejuta kenikmatan.

Sebagai putri dari orang tua yang beruang, Astuti merasakan bagaimana kasih sayang yang diberikan kedua orang tuanya jauh dari harapannya sebagai seorang anak.

Dirinya hanya ketemu dengan ayah dan ibunya saat sarapan pagi. Tak lama. hanya sekejap. Sekitar 30 menit. Setelah itu kedua orang tuanya meninggalkan dirinya dengan segepok uang.

Kedua orangtuanya berasumsi dengan segepok uang maka putri mareka akan bahagia. Kedua orang tua Astuti berpikiran dengan materi anaknya bahagia. Sebuah asumsi masyarakat kota yang selalu menjadikan materi sebagai jaminan hidup.

“Apa kamu pikir tanpa uang kita bisa hidup? Apa kamu pikir dengan miskin kita bisa bahagia,” tanya ayahnya saat Astuti memprotes soal kesibukan ayah dan ibunya.

“Semua yang kami lakukan ini hanya untukmu, Nak. Hanya untukmu Nak. Kami ingin kamu bahagia dan tidak melarat sebagaimana kami dahulu,” sambung ibunya.

“Lantas dengan siapa saya mendapatkan kasih sayang? Dari Bik Minah? Dari Wak Toha,” tanya Astuti.

Kedua orangtua Astuti terdiam. Tak ada yang menjawab. Hanya detingan jam di dinding yang menjawab sebagai tanda bahwa keduanya harus pergi meninggalkan meja makan pagi ini.

Astuti mulai melanggar nilai dan etika hidup saat menyaksikan ibunya pergi bersama seorang lelaki muda saat dirinya sedang berada di sebuah pertokoan untuk membeli buku kuliahnya.

Astuti mulai berubah seribu derajat saat menyaksikan sang Ayahnya merangkul seorang wanita muda yang ternyata teman kuliahnya.

Perkenalannya dengan seorang pimpinan perusahaan telah mengubah jalan hidupnya. Astuti dengan sengaja mengencani teman bisnis Ayahnya dengan harapan ada perubahan dalam kehidupan keluarganya.

Astuti tak dapat mengelak saat gerimis pagi membasahi bumi dirinya harus rela memberikan kuntum bunganya kepada lelaki itu.

Dan Astuti mulai merasakan kenikmatan sebagai manusia dewasa saat birahinya mampu ditawarkan lelaki sahabat Ayahnya. Dan itu terus terulang hingga dirinya dinyatakan positif hamil.

Astuti menelan kepahitan saat lelaki itu tak mau mempertanggungjawabkan apa yang telah mareka lakukan sat gerimis pagi tiba.

“Aku?, Aku harus mempertanggungjawabkan kehamilanmu? Ha..ha..ha. Tanya Ayahmu bagaimana dia memperlakuan hal yang sama kepada istriku,” jawab lelaki itu dengan nada suara garang.

“Agar kamu tahu ya. Ayahmu telah menanam benih di perut istriku sehingga aku dengan terpaksa harus mengawininya dengan rasa malu yang besar sebagai seorang lelaki,” sambung lelaki itu.

Gerimis pagi ini telah usai. Awan cerah. Mentari bersinar dengan garangnya. Sinarnya menerobos masuk hingga ke pelosok hati manusia di alam ini. Sebuah ketukan mengagetkan Astuti. lamunanya terhenti.

“Mas Dedi,” ujarnya setengah tak percaya melihat seorang lelaki flamboyan berada di hadapannya.

“Aku datang untuk melamarmu,” jawab pria itu.

“Iya Astuti. Mas Dedi sudah lama tinggal di kampung ini. Sama lamanya dengan dirimu. Cuma nak Dedi sibuk di kebun. Dia berjanji akan datang meminangmu saat gerimis mulai reda,” sela Wak Mina.

“Benar Astuti. Semenjak saya mendengar kamu diungsikan keluargamu di sini dan tak pernah kuliah lagi, aku bertekad untuk melamarmu dan meminangmu,” kata Dedi.

“Walaupun aku sudah ternoda?,” tanya Astuti.

“Bagiku kamu adalah Astuti yang ku kenal sejak kita masih kanak-kanak dulu. Dan engkau adalah ibu dari anak-anakku. Matahari dari hidupku dan anak-anakku. Anak-anak kita kelak,” jawab Dedi.

Kecerahan alam yang terang benderang mengantarkan keduanya menatap masa depan yang indah. Sementara di kejauhan terdengar lirik lagu dari The Rolies yang gemakan dari sebuah radio. Liriknya membahagiakan Astuti dan Dedi.

Oh, Astuti ..tuti..tuti

Si cantik jelita

Oh, Astuti .. tuti ..tuti

Nama sang primadona

Oh, Astuti tuti tuti

Kau sungguh jelita

Oh, Astuti tuti tuti

Primadona, primadona ku

 

Karya: Rusmin Toboali

Rusmin Toboali

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts