Cerpen: Wanita Tanpa Mahkota

“Ananda Priani. Kami dari keluarga besar Wowon malam ini ingin melamarmu sebagai calon istri untuk ananda kami Wowon. Kami ingin ananda priani menjadi bagian dari keluarga besar kami.Apakah ananda bersedia menerima lamaran ini,” tanya Ibu Wowon kepada Priani dengan disaksikan keluarga besar Priani. Ruang tamu rumah Priani yang besar terasa sempit malam itu. Maklum selain keluarga Wowon, hadir juga keluarga besar Priani yang berasal dari luar Kota dan pulau.

“Bagaimana, nak,” lanjut Ibunda Wowon dengan nada tak sabar.

Bacaan Lainnya

“Saya mohon maaf ibu. Malam ini saya belum bisa memberi jawaban. Saya minta waktu satu minggu, Ibu,” jawan Priani. Mendengar jawaban itu, wajah-wajah kecewa menghampiri keluarga besar Priani. Mareka amat kecewa dengan sikap Priani.

“Priani. Kamu itu mesti sadar diri. Jangan sok jual mahal. Sudah beruntung masih ada keluarga baik-baik dan pria baik-baik yang mau melamarmu,” sela salah seorang Bibi Priani dengan suara emosi.

“Tidak apa-apa Bu, kalau malam ini ananda Priani belum bisa memberikan jawaban. Kami akan datang seminngu lagi,” jawab Ibunda Wowon dengan nada tenang dan bijaksana.

“Iya, Bu. Kedatangan kami yang tiba-tiba ini mungkin membuat ananda Priani tak siap dengan jawaban terbuka. Maklumlah. Perempuan,” sela salah satu keluarga Wowon menetralisir suasana yang mulai memburam.

Usai keluarga besar Wowon pulang, deretan kata-kata dan diksi serta narasi bernada cakian dan makian serta kekecewaan kjeluar dari mulut keluarga besar Priani kepada dirinya. Hujatn dan makian dari mulut-mulut berbau dari keluarga besarnya yang kebanyakan datang dari luar Kota dan Pulau laksana rudal yang terus ditembakan kearah musuh.

Priani seakan menjadi sasaran tembak dan killing area bagi mareka tanpa ada perlawanan satu diksi pun dari mulut mungil Priani. Malam yang penuh bintang gemintang menjelma menjadi malam yang penuh dengan tetesan airmata bagi Priani. Malam yang dirindui pun menjelma menjadi malam yang menyesatkan jiwa. Dan hanya suara azan subuh yang telah bergema dari Surau yang bisa menghentikan cacian dan makian dari keluarga besarnya untuk dirinya.

Priani masih tenggelam dalam lamunannya. Perkenalannya dengan salah satu pimpinan Kantornya telah membuaikan angannya hingga kepolosok jiwa yang terdalam.

Cita-cita gadis lulusan sekolah tinggi ini saat datang ke Kota adalah untuk mereparasi citra dan martabat keluarga. Maklum Priani bukanlah berasal dari keluarga terpandang. Bapaknya hanyalah seorang pegawai rendahan di salah satu instansi Pemerintah.

Sementara Ibunya hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa yang mengurus anak.

Keflamboyanan dan kebaikan hati Pimpinannya yang biasa dipanggil Pak Kadin telah meluluhlantakan jiwanya yang sehat dan bersih. Lamunan tentang masa depan yang indah dan membahagiakan telah membuatnya mabuk angan-angan.

Bayangan masa depan yang bahagia membentang dalam nurani dan pikiran bersihnya. Tak pelak kondisi ini mengamnesiakan pikiran tentang status Pak Kadin yang telah berkeluarga.

Pertemanan yang berlanjut kepada pergaulan malam yang menjadikan malam penuh bintang gemintang menjelma sebagai rumah kegelapan oleh kedua insan ini telah mengaburkan mata hati kedua insan ini. Dan malam penuh kesasatan pun terjadi.

Malam kerupawanan telah mengubah citra diri Priani dan martabat keluarganya Dengus liar kucing hutan menjadi saksi luluhlantaknya citra dan martabat dirinya sebgai wanita Malam yang sarat bintang gemintang pun mareka jadikan rumah kesesatan jiwa dan nurani yang tak terperikan.

Hati mareka saling berpadu dalam rajutan malam yang sesat dan menyesakkan nurani. Hanya kejantan malam dan airmata sebagai penghias malam itu Lolongan anjing malam tak mampu hentikan hentakan emosi dua hati manusia ini.

Dan ketika rembulan mulai tergagap dalam rasa kantuk ditingkahi sinar mentari yang mulai menggeliat dari mimpi panjangnya, keduanya pun masih terlelap dalam pautan emosi jiwa tanpa mampu teredam dengan etika dan moralitas yang selalu menjadi citra diri Pak Kadin selama ini.

Kendati Pak Kadin siap mempertanggungjawabkan dengan sikap kejantanannya dengan cara jantan pula, namun penolakan datang dari keluarga Prini yang menganggap pak Kadin bukanlah pria yang pantas mendampingi ponakan mareka.

Keluarga Priani pun menstigmakan Pak Kadin sebagai perusak masa depan ponakan mareka. Dan stempel perusak masa depan orang pun digemakan keluarga Priani yang membuat Pak Kadin tak bisa mempertanggungjawabkan aksi kejantananya pada malam yang durjana itu.

Sementara itu desakan dan hasutan mulut bau dari keluarga membuat orang tua Priani tak bisa berbuat banyak. Hanya pasrah dengan keadaan. Kerentaan dan kepapaannya membuat suara mareka terpinggirkan.

Tak didengar. Bagaikan teriakan para pendemo yang suaranya menggema namun tak pernah didengar mareka yang berada di rumah-rumah rakyat dan kekuasaaan.

“Kami disini lebih tahu dan paham dengan Pak Kadin. Kami tahu siapa dirinya yang sebenarnya. Puluhan tahun kami bergaul dan bergaul. Jadi kami tahu dan sangat paham. Dan jangan harap harta yang ada akan dimiliki Priani. Karena Pak Kadin punya anak. dan belum tentu juga dirinya akan jadi pejabat. Belum tentu. Situasi politik disini amat ganas dan sarat hasutan,” ujar Sang Paman dengan nada provokasi kepada Ayah Priani.

“Benar Paman. Saya yakin mutasi bulan ini pun Pak Kadin akan dinonjobkan. Lantas apa harapan Priani kepada lelaki tua bangka yang super pelit itu. Apa?,” ungkap istri Paman Priani dengan nada setengah bertanya berapi-api bak orator wanita yang sedang kampanye di panggung politik. Kedua orang tua Priani pun hanya terdiam membisu. Tak ada satu kata pun meluncur dari mulut keduanya. hanya diam dan diam seribu bahasa.

Hari yang sakral bagi Priani dan Wowon pun tiba. Hari pernikahan yang menjadi hari bahagia bagi semua umat manusia justru menjadi awal bencana bagi Priani dan Wowon. Ijab kabul terpaksa beberapa kali diulang oleh Pak Penghulu mengingat ketidakseriusan Wowon dalam menarasikan janji ikrar pernikahan.

Bisik-bisik dari para hadirin pun mulai terdengar dan menggema kendati dalam bisik-bisik. Akhirnya narasi ijab kabul pun selesai setelah para saksi menyatahkan sah kendati dengan hati yang sangat terpaksa.

Malam usai pernikahan, rembulan tersenyum. Sinarnya menerabas masuk dalam ruang hati dan jendela jiwa penghuni bumi. Senyumnya memancarkan sinar terang yang indah. Hiasi bumi yang mulai ditinggalkan mentari yang berbegas kembali keperaduannya.

Malam ini adalah malam dirinya resmi berstatus sebagai istri Wowon. Kendati perkawinan mareka dijodohkan Pamannya, Priani dengan semangat 45 terpaksa menerima lamaran Wowon dan keluarganya sebagai bentuk kasih sayangnya dan pengabdiannya kepada kedua orang tuanya. Soal siapa Wowon yang sebenarnya, tak pernah terpikirkan oleh Priani.

Semangatnya hanya satu menyenangkan hati orang tuanya. Membahagiakan kedua orang tuanya. Dan mencegah keluarga besarnya dari perpecahan akibat politik devide et impera Belanda yang diterapkan Pamannya untuk memaksakan kehendaknya dengan apologi menjaga martabat dan citra diri keluarga besar mareka.

Namun malam itu saat dirinya masuk kamar pengantin diringi dengan guyonan berbau jorok dari para handai taulan yang masih menginap di rumahnya. Dan saat dirinya mulai merebahkan diri diperaduan, Wowon langsung meninggalkan dirinya sendiri terbaring dalam kesendirian.

Dengan apologi ingin bertemu sahabatnya, Wowon langsung ngacir meninggalkan rumah mertua dengan dengungan suara motor yang kencang bak pembalap yang ingin meninggalkan lawannya dalam arena balapan.

Malam itu dan malam seterusnya, perilakunya sebagai istri tak pernah Priani tunaikan. Wowon lebih asyik dengan perilakunya bermain kartu dengan teman-temannya.

Usia muda membuat Wowon lebih asyik dengan dunianya sendiri. Pulangnya pun kadang ketika orang-orang bergegas ke mesjid untuk menyerahkan diri kepada Tuhan pada saat subuh. Dan siangnya usai bangun tidur langsung meninggalkan rumah dan Priani sendirian tanpa belas kasihan.

Bahkan kadang kala diksi bau pun meluncur deras dari mulut bau suaminya yang harus diterimanya sebagai wanita terstigma tanpa martabat dan harga diri sebagai perempuan saat dirinya mempertanyakan aktivitas suaminya yang tak jelas juntrungannya.

Bahkan isu yang diterimanya menyatakan kini suaminya lebih banyak menghabiskan waktunya bersama wanita idamannya seorang wanita muda di daerah Seberang.

Priani pun kini harus rela melihat suaminya berboncenmgan dengan wanita lain di pasar saat dirinya sedang membeli keperluan untuk hidup. Bahkan Priani harus banyak mengucurkan airmata ketika uang honornya sebagai pegawai lepas harus lenyap diambil suaminya tanpa bisa mengadu.

Konspirasi Wowon dengan Paman Priani membuat dirinya bisa bebas dari tanggungjawab sebagai suami yang haikiki. Wowon masih ingat dengan diksi dan narasi paman Priani. Masih terngiang. Bahkan dirinya sebagai pria merasa tersanjung karena irinya merasa dibeli oleh keluarga istrinya.

“Dik Wowon itu menikah dengan Priani untuk menutupi martabat kami. Mengangkat citra keluarga. Dan kami sebagai keluarga takkan lepas tangan dalam membantu dik Wowon. Apapun yang dik Wowon pinta, akan kami bantu sebisa kami. Yang penting dik Wowon mau menikahi ponakan kami yang telah terstigma itu,” bujuk paman Priani kepada Wowon. Wowon tersenyum.

Dan Priani pun akan selalu menunggu malam dengan kesendirian. Kesendirian hidup yang akan dijalaninya hingga ajal datang menjemput. Kesendirian tanpa batas dan waktu. Dengus liar anjing hutan dan kerlap kerlip bintang dilangit tujuh adalah teman sejatinya kini.

Karya: Rusmin Toboali

Pengirim Rusmin Toboali

(**)

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.