Cerpen: Tentang Kami

Ilustrasi

Akhirnya, aku menuai karma atas kesombonganku. Yang tertinggal, hanyalah penyesalanku. Dina, perempuan yang perasaannya kucampakkan dahulu, mungkin tak akan bisa memaafkanku. Sedang kini, aku hanya seorang lelaki yang telah kehilangan nilai fisik, yang tak lagi diandalkan siapa-siapa. Aku hanya lelaki pincang setelah aku mengalami kecelakaan sepeda motor.

Karena merasa bersalah kepadanya, aku pun tertarik menuliskan kisah kami. Aku ingin mengungkapkan keresahan hatinya terhadapku melalui cerpen. Aku harap, ia akan senang mendapatkan cerita yang mewakili perasaannya. Karena itulah, aku menuliskan cerpenku tersebut dengan sudut pandang orang pertama, sebagai dirinya, demi menggugah emosinya.

Read More

Tekadku menghadiahinya cerpen tentang kami di hari ini, memang begitu menggebu-gebu. Itu karena hari ini, tepat dua tahun sejak aku menyepelekan perasaannya. Kala itu, aku menepiskan maksud hatinya saat ia menunjukkan gelagat cintanya. Aku mengisyaratkan ketidaktertarikanku untuk menjadikannya kekasih di tengah hubungan kami sebagai sahabat baik.

“Kenapa kau tidak juga punya kekasih? Padahal, kulihat-lihat, kau punya kemampuan untuk menaklukkan hati perempuan. Kau cerdas dan tampan,” uliknya, hari itu, ketika kami mengobrol di taman kampus selepas kami wisuda, kala kami menghadiri acara pengaderan organisasi kemahasiswaan bidang penulisan ilmiah yang kami kecimpungi saat masih mahasiswa.

Aku lantas mendengkus angkuh. “Aku hanya belum menemukan perempuan yang menarik perhatianku. Yang ada selama ini, biasa-biasa saja di mataku.”

Ia pun mengangguk-angguk dengan bibir manyun, kemudian bertanya dengan tatapan segan, “Memangnya, perempuan yang menarik bagimu, yang seperti apa?”

Dalam sejenak, aku pura-pura merenung, lalu menjawab dengan enteng. “Yang pasti, harus cantik. Yang rambutnya lurus, tubuhnya langsing, dan kulitnya putih,” tuturku, menyebut ciri-ciri fisik yang tidak ada pada dirinya.

Seketika, raut wajahnya berubah muram. Tampak sangat kecewa. “Apa persoalan fisik semacam itu sangat penting bagimu? Bukankah lebih baik jika mendapatkan pasangan hidup yang baik hati?” sidiknya, terkesan mencari celah agar aku mendambakannya.

Aku lantas tergelak pendek. “Soal hati yang baik, ya, tentu perlu. Tetapi soal fisik yang menawan, ya, tak kalah perlunya juga. Aku mencari perempuan yang sesempurna itu. Apalagi, aku kan tampan dan baik hati juga.”

Ia pun tersenyum kecut, kemudian memalingkan wajah dariku.

“Oh, ya, aku juga mendambakan perempuan yang memiliki kesenangan yang normal. Maksudnya, aku tak suka perempuan yang gemar memboroskan uang untuk membeli buku dan menghabiskan waktu untuk membaca, apalagi cerita-cerita fiksi. Kurasa, itu hobi yang tak berguna,” sambungku, menyentil kebiasaannya.

Sontak saja, ia tampak tersinggung. Ia pun menyengir pilu dan tak lagi menyinggung soal percintaan.

Akhirnya, karena kekecewaannya terhadapku, sejak saat itu, kami tak pernah lagi berjumpa. Tanpa memberitahukan kepadaku, ia beranjak ke kampung halamannya, di pulau seberang, dan menetap di sana. Kami pun tak lagi mengobrol, entah melalui sambungan telepon atau media sosial. Kami seperti sama-sama merasa tak lagi punya kepentingan untuk berkomunikasi.

Tetapi kukira, kelancanganku membunuh harapannya kepadaku, memang sudah semestinya. Meskipun kami dekat sebagai sesama mantan pengurus sebuah organisasi kemahasiswaan, tetapi aku sungguh tak mengidamkannya untuk menjadi kekasihku. Karena itu, ketimbang membiarkan perasaannya terus berkembang untukku, membuatnya patah hati segera, kurasa lebih baik.

Belum lagi, pada masa-masa itu, aku merasa tinggi diri. Aku merasa patut mencampakkan perempuan yang tidak menarik perasaanku, sebab aku mudah menaklukkan perempuan yang kuidamkan atas pesona diriku. Setidaknya, aku terkenal cerdas sebagai lulusan terbaik di fakultasku, dan punya banyak penggemar sebagai pemain basket yang gagah.

Tetapi pada akhirnya, nasib buruk menerpaku. Setahun yang lalu, aku mengalami kecelakaan sepeda motor yang membuat tulang pahaku patah. Aku pun hanya bisa berjalan dengan berjingkat-jingkat. Karena itulah, aku jadi kehilangan harapan untuk menjadi atlet basket profesional, serta kehilangan daya untuk tampil menarik di mata kaum hawa.

Perlahan-lahan, aku makin menginsafi dosa-dosa kecongkakanku terhadapnya. Aku menyesal telah merasa sebagai lelaki yang sempurna, hingga enteng mencampakkan perasaannya dengan cara yang sangat kasar. Sebab itulah, di tengah ketunaan fisikku selama ini, aku terus berharap ia bisa memaafkan keangkuhanku yang telah menggoreskan luka yang perih di hatinya.

Rasa bersalahku terhadapnya pun, makin menggugah keinsafanku, sebab aku malah jatuh ke dalam kesenangannya yang dahulu kukira tak berfaedah. Selama masa penyembuhan kakiku, hingga kini, aku terus mengakrabi buku-buku untuk mengalihkanku dari perasaan bosan. Aku bahkan jadi gandrung membaca buku fiksi. Dan perlahan, aku terdorong untuk menjadi penulis.

Sampai akhirnya, setelah sekian lama berlatih menulis cerpen untuk muatan di blog pribadiku saja, aku pun berhasrat untuk menerbitkan karyaku di media arus utama yang bergengsi. Aku ingin mengorbitkan namaku sebagai penulis di kalangan para pengarang ternama. Karena itulah, aku bertekad untuk menulis sebuah cerpen tentang kami dengan seapik mungkin.

Demi rencana besar itu, sejak dua hari yang lalu, aku pun bergelut untuk merampungkan cerpen yang menggambarkan kisah kami. Aku menuliskan tentang tokoh “aku” yang kuimajinasikan sebagai dirinya. Tokoh “aku” lalu jatuh hati kepada lelaki yang merupakan teman dekatnya. Namun tokoh “aku” harus menerima kenyataan pahit, sebab sang lelaki tidak menyukainya karena perkara fisik. Tokoh “aku” pun pasrah dan berhenti berharap. Sampai akhirnya, sang lelaki mengalami kecelakaan kerja yang membuat wajahnya terbakar dan jadi menyeramkan.

Demikianlah sebuah cerpen tentang kisah nyata kami yang kubalut dengan rekayasa fiksi. Sebuah cerpen yang kuciptakan untuk menyuratkan perasaannya kepadaku. Dan kuyakin, saat ia membacanya, ia akan lekas merasa sebagai tokoh “aku”. Ia pun akan tersentuh, sebab ia mendapatkan satu cerpen yang berhasil mewakili keresahan hatinya terhadapku.

Hingga akhirnya, pagi tadi, aku mengirimkan cerpen itu ke alamat e-mail sebuah media daring ternama yang kusasar, dengan menyertakan nama penaku. Dan seturut dengan keyakinanku, tak cukup satu jam setelahnya, aku pun mendapatkan konfirmasi rencana pemuatan: Terima kasih atas kiriman cerpen Anda yang sangat menyentuh hati. Kami akan segera memuatnya.

Dan siang ini, aku pun menyaksikan cerpenku telah dimuat. Seketika, tautan cerpen itu menyebar di media sosial melalui akun media daring tersebut. Bahkan secara khusus, sang redaktur fiksi membagikannya di akun Facebook-nya, dengan menyertakan keterangan: Sebuah cerpen untuk Anda yang pernah dicampakkan oleh seseorang yang Anda cintai karena perkara fisik.

Akhirnya, aku merasa misiku telah berhasil, sebab sang redaktur fiksi media daring tersebut tiada lain adalah Dina.


Tentang Penulis

Ramli Lahaping. Kelahiran Gandang Batu, Kabupaten Luwu. Berdomisili di Kota Makassar. Menulis di blog pribadi (sarubanglahaping.blogspot.com). Telah menerbitkan cerpen di sejumlah media daring. Bisa dihubungi melalui Instagram (@ramlilahaping).

Yuk bagikan berita ini...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.