Cerpen: Rindu yang Terbelenggu

Jumat, 3 September 2021
H Iril Yuni

Kesedihan, kerugian yang diderita pasukan muslim di saat Perang Uhud sangatlah luar biasa. Hamzah sang paman yang selalu setia melindungi baginda Rasul gugur tertembus tombak Washi. Sekitar enam puluh tujuh sahabat utama menemui sahidnya di medan ini. Baginda Rasul pun dengan muka yang berlumur darah dan gigi yang tanggal kan tetapi beliau memberi semangat kalau perjuangan ini belumlah seberapa. Ada suatu peperangan yang lebih besar dan berat yaitu jihad dunafsi yaitu berperang melawan hawa nafsu, berpuasa di bulan Ramadan.

Itulah salah satu wejangan Ayah. Oh, aku merasa wejangan ini benar adanya hampir tiga puluh hari berjalan dan dilalui menunggu gemah takbir meramaikan angkasa in. Sangatlah berat dan panjang.

Read More

Selepas berbuka dan salat Maghrib, gemah takbir pun berkumandang. Puas dan berbahagialah hati ini, akan tetapi ada satu peperangan yang sudah enam- tujuh tahun ini selalu berkecamuk yaitu rasa rindu.

Bisik-bisik terdengar olehku Edo, Eki dan beberapa saudaraku yang lainnya esok pagi selepas salat ied akan dijemput orang tuanya. Hatiku berdegup akankah bapak-ibuku yang ku tahu masih ada akan menjemput dan membunuh rinduku. Kan tetapi aneka kue dan ketupat cukuplah menentramkan hatiku terlebih ayah dan bunda di rumahku disini tengah mengumpulkan kami dan membagi stelan baju baru dan sandal lebaran serta bonus untuk yang lulus shaum dan kahtam Qur’an.

Keesokkan selepas salat Subuh, kami bertakbir sejenak. Mbak Min dan saudara perempuanku yang lainnya tengah sibuk di dapur meniyapkan hidangan aneka kue dan ketupat. Merdeka… teriak Edo selepas keluar masjid karena bisa makan seperti biasa.

Ah cukuplah teh hangat dan kue-keu saja yang kan aku santap. Ketupat? Ah nantilah selepas salat Ied.

Di saat salat, hatiku gelisah. Ku lihat orang tua Edo dan Eki ada dalam masjid, aku bergumam pastilah akan menjemput dan mengajak anaknya pulang tapi aku?

Di bulan puasa tahun ini aku baru saja meneyelesaikan ujian SD ku beberapa bulan lagi aku kan menginjak SMP, aku berada di rumah ini masih belum lah sekolah.

Kulirik Edo dan Eki, mereka sangat bahagia, hatiku bergumam masih beruntunglah kau saudaraku. Tiada terasa air mataku berurai, hatiku berkata dan menyuruh kakiku menjumpai rinduku selepas salat ini.

Kak Iwa sebagai khotib menyeruh dalam khutbahnya datangi ibu-bapakmu peluk dan bersimpulah di kaki mereka, jika mereka sudahlah tiada datangi makamnya haturkan doa di pusaranya.

Terbersit di hati apakah ada ‘rindu’ dan rasa yang sama pada kedua ibu dan bapakku. Hatiku sedikit malu bahkan rasa marah pun turut hadir mengapa mereka tidak pernah menjemput, berkunjung pun tiadalah pernah.

Beres salat Ied kami menyerbu ketupat. Selesai bersantap Ayah dan Bunda menyuruh berbaris antri, biasalah kami sungkem satu persatu sekaligus bersalam kasap menyambut THR dari ayah.

Cerah wajah adikku Eki dengan polos berkata asyik aku akan beli pistol, satu persatu kami berangsur bergeser dan menjauh dari ayah, aku sedikit nyantai menenteng minuman ringan meregangkan kaki di halaman rumah ini.

Ku lihat adikku Deli berdiri di pinggir pagar dengan menenteng kue dan susu ultra. Ku perhatikan wajahnya tampak sedih dan penuh harap yang sama denganku

Ku bergumam hanya sebatas itu yang bisa dilakukan adikku Deli, tapi aku harus menunaikan niat dan hajat, perlahan aku melangkahkan kaki keluar halaman yang tak berpagar kemudian aku mengambil langkah seribu tuk menemui rinduku.

Tiada terasa aku berjalan dan berlari dengan ransel kecil berisi pakaian akhirnya sampai dan ku tatap rumah bapakku.

Hatiku bergejolak dibungkus malu dan marah, sang hati bertanya pada pikiranku kenapa mereka tidaklah pernah menengok apalagi menjemputku. Berkali-kali aku sakit terkapar lemah dan sedih yang beriring tangis ku panggil rinduku tapi bukanlah mereka yang datang.

Amarahku memuncak dan memalingkan pandanganku dari rumah orang tuaku ini.kK teruskan langkah sedihku tuk menjumpai sang paman yang kutahu dan katanya ia adalah adik bapakku. Aku disambut hangat tapi waktu jua menegurku, sang paman memastikan mengantarkanku dengan motornya kembali di padang mungil.

Rumahnya yang sempit himpitan ekonomi dan korona mungkin jadi alasan pamanku.. Ah baru sepiring nasi dan hanya hitungan jam, belumlah hari, tahun, pakaian, sekolah, sakit dan masih banyak lagi khususnya perhatian, bimbingan dan kasih sayang yang selama ini mengaliri diri dan hatiku di padang mungil ini. Ku sadari tiadalah dapat ku hitung dan ku balaskan. Sampai di pagar kuturuni motor paman, aku disambut adikku Deli. Aku bertanya, apakah sang rindunya menjumpainya?

Karya: H Iril Yuni

Pengirim: H Iril Yuni

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts